<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Panta Rhei Filsafat UGM</title>
	<atom:link href="http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com</link>
	<description>kumpulan artikel yang bertema ekologi, lingkungan dan sosial</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Mar 2009 01:58:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/9d1966328ecf712dce448ca69ee518a7?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Panta Rhei Filsafat UGM</title>
		<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>RISALAH POHON NANGKA</title>
		<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2009/03/13/risalah-pohon-nangka/</link>
		<comments>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2009/03/13/risalah-pohon-nangka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 00:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pantarhei filsafat ugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[buletin l]]></category>
		<category><![CDATA[farid mustofa]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[James Redfield]]></category>
		<category><![CDATA[newsletter buletin lingkungan jahe]]></category>
		<category><![CDATA[panta rhei filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[risalah pohon nangka]]></category>
		<category><![CDATA[the Celestine Prophecy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[


Oleh: Farid Mustofa



 
Pada Awalnya
Di antara puluhan pohon nangka sekitar rumah, ada satu yang tak berbuah. Ayah memintaku memanjat, memukulinya sambil berteriak minta berbuah. Agaknya itu kepercayaan Jawa, jika Ayah yang bukan berasal dari Jawa akan terasa aneh.  Makanya dengan geli Beliau menyuruh saya manjat. Saya, – layaknya anak kecil seluruh dunia, dilarang manjat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=60&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;" align="center"><strong><span style="font-family:Calibri;"><br />
</span></strong>
</p>
<p style="text-align:left;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><strong><span style="font-family:Calibri;">Oleh: Farid Mustofa</span></strong></p>
<p style="text-align:left;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><strong><span style="font-family:Calibri;"><br />
</span></strong>
</p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><strong><span style="font-family:Calibri;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><strong><span style="font-family:Calibri;">Pada Awalnya</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;">Di antara puluhan pohon nangka sekitar rumah, ada satu yang tak berbuah. </span><span style="font-family:Calibri;">Ayah memintaku memanjat, memukulinya sambil berteriak minta berbuah. Agaknya itu kepercayaan Jawa, jika Ayah yang bukan berasal dari Jawa akan terasa aneh. </span><span style="font-family:Calibri;"> Makanya dengan geli Beliau<span> </span>menyuruh saya manjat. Saya, – layaknya anak kecil seluruh dunia, dilarang manjat pohon karena bikin kawatir org dewasa-dengan girang menerima berkah ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;"><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="SV">Beberapa bulan -atau mungkin minggu, saya lupa, pohon itu berbuah! Saya anggap itu kebetulan dan terus berusaha tidak heran. Namun semakin dewasa, semakin banyak cerita seperti itu, bahwa pohon dan tetumbuhan lain berinteraksi dengan manusia. Simaklah <strong><em><span style="font-family:Calibri;">the Celestine Prophecy</span></em></strong><em><span style="font-family:Calibri;font-style:normal;"><strong>, </strong>bagaimana</span></em> James Redfield menarasikan komunikasi ini.  Bukan hanya pohon, tapi semua ciptaan Tuhan berkomunikasi, berinteraksi, dan bereaksi dengan kita. Mereka bertasbih pada Allah, kata Quran. King Salomon berbicara pada semut. Gunung mengaku tidak kuat memikul amanat manusia. Hingga Mbah Marijan atas Gunung Merapinya. </span><span style="font-family:Calibri;" lang="FI">Semua nyata, logis, masuk akal. Bukan klenik atau ajaib. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="FI"><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="FI"><span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Bencana alam</span> akibat ulah manusia, <span> </span>adalah kalimat lain dari alam merespon perilaku manusia. </span><span style="font-family:Calibri;">Berbagai penyakit baru adalah jawaban atas hardikan, bentakan, main kasar manusia terhadapnya. Flu burung contohnya, adalah reaksi atas perlakuan egois kita mengurung mereka demi memuaskan kuping dan mata. Binatang yang fitrahnya terbang bebas itu kita &#8216;hukum&#8217; karena bulunya indah, bentuknya lucu, atau suaranya merdu. Marahlah mereka atas kesalahan yang tidak pernah dilakukan. Karena kita lebih kuat, lebih pintar, dan lebih mampu menyiksa, binatang </span><span style="font-family:Calibri;">malang</span><span style="font-family:Calibri;"> itu akhirnya stress. Kala kita menaikkan sangkar tinggi-tinggi untuk menjemurnya (burung) , dibanggakan atau dilombakan ke mana-mana, mereka menjerit, menangis, meronta. Konyolnya, ketumpulan nurani kita menangkap itu sebagai kemerduan. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;"><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><strong><span style="font-family:Calibri;">Yang Terhormat Para Pemburu</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;"><span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Amboi</span> gagahnya mister hunter. Lihatlah. Seragam koboi, <em>nenteng </em>bedil <span class="yshortcuts">Benyamin</span> -</span><span style="font-family:Calibri;">Franklin</span><span style="font-family:Calibri;"> <em>made in</em> Tegal, keluar masuk pekarangan sambil meyakin-yakinkan dirinya kalau di Afrika atau rimba Amazon, penuh bahaya dan ketegangan. Petualang sejati…ck..ck. Ngeri. </span><span style="font-family:Calibri;">Buru</span><span style="font-family:Calibri;">ng-burungpun berkicau geli.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;"><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;">Yang lebih tinggi derajat primitifnya memilih ngejar celeng hutan. Naik jeep butut dicat ijo. Bawa jrigen air seperti akan menghadapi 9 musim kemarau, padal kosong. </span><span style="font-family:Calibri;">Ada</span><span style="font-family:Calibri;"> tali2 dan slongsongan basoka segala, entah untuk apa. Bocah-bocah kecil dan ibu-ibu kampung yang dilalui berdecak <span> </span>kagum. Rasa bangga merayapi sekujur tubuh mister hunter. Puas. Puaaas sekali. Nikmat luar biasa.. Lalu kemah, tidak pulang, jarang mandi. Niru iklan Malboro.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;"><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;">Sebenarnya mau apa om-om ini. Usah dikejar heroik penuh nestapa seperti itu, hewan-hewan sudah menyerah. Sudah stress karena habitatnya jadi perumahan, terusir ketika desanya jadi </span><span style="font-family:Calibri;">kota</span><span style="font-family:Calibri;">. Yang mulia Om Hunter nan hebat itu gak sadar kalau primitif. Berburu jaman dulu memang boleh, malah harus karena, untuk hidup. Hari gini, masih buru? Apa-apaan, jalan 2 meter ketemu warung, nengok kanan sate, kiri tongseng kambing pun heran.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;"><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;">Burung, tupai, celeng, dan hewan lainnya itu sudah tersingkir, keletihan, putus asa dan berharap belas kasihan. </span><span style="font-family:Calibri;" lang="FI">Kita susah mendengar rintihannya, karena kuping nurani kita sumpali dengan acara tivi murahan, gosip, dagelan politik, problem hidup yang kita buat-buat sendiri. Nah, diantara keputus-asaan itu, bertemulah para hewan itu dengan para penjahat binatang (pemukat, penjual hamster di supermarket, pedagang <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">anak ayam</span> berwarna, tukang bedil manuk, penggeber merpati, penyetrum ikan, penyiksa burung perkutut dan oceh2an yang dikurung2 atau dilomba-konyolkan itu, pemburu binatang, dll). Para binantang mengira inilah jenis makhluk yang peduli:<span> </span>mendekat, menyapa, dan nampak ramah. Lebih-lebih Kepada para pemburu, hewan2 lebih apresiatif atas kemampuan hidup di alam terbuka mirip mereka.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="FI"><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="SV">&#8220;Om hanya kalian yang masih peduli. Masih mau ndekat dan lihat aku. Kalian sampai compang-camping begitu tidak kerja dan tiduran di sekitar sini. Kalian gak sama dengan mereka yang pada cuek. Iya iya. Om baiik sekali. Dengar keluhanku ya Om. Sisakan kami sedikit tempat ya om. Syukur om bikin <em>rada </em>nyaman seperti <span> </span>perumahan itu..&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="SV"><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="SV">Lalu binatang nestapa itu diem saja kala pemburu mendekat. Dia percaya. Dan, ”dor!” Mati.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="SV"><br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="SV"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><strong><span style="font-family:Calibri;" lang="SV"><span class="yshortcuts">Karya Agung</span> nan <span class="yshortcuts" style="border-bottom:medium none;background:transparent none repeat scroll 0 0;cursor:pointer;">Gemilang</span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="SV">Kebrutalan kita <em>gak </em>berhenti di situ. Kita terus dan terus memproduksi perilaku bodoh lain. Marah yang tak harusnya marah, jengkel atas sesuatu yang tidak semestinya menjengkelkan dan anehnya juga gembira atas sesuatu yang seharusnya duka. Gembira atas kehebatan anak kecil bergaya dewasa di acara idol-idol tolol TV swasta. Riang atas kebodohan yang dikemas sebagai hal hebat dan spektakuler. Sampai-samapai  &#8211;begitu tumpulnya rasa&#8211; bisa nonton berita kriminal sambil makan siang. Sementara presenternya ringan saja <em>menrocoskan </em>kebrutalan demi kebrutalan layaknya gosip murahan infotainment. Iklan <em>berjibun. </em>Para kru saling kasih selamat atas kesuksesan menumpulkan hati penonton. Bikin lagi yang makin <span> </span>menjijikkan. Penonton butuh yang lebih dari biasanya, katanya. Penonton senang, rating tinggi, iklan menggunung. Tumpul ketemu tumpul, ngawur ketemu ngawur. Terus.Teruss maju, pantang mundur.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="SV"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;">
<p style="text-align:justify;line-height:15pt;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Calibri;" lang="SV">Sampai suatu ketika, tiba-tiba sebagian kecil kita &#8212; ya sebagian kecil. Segelintir saja&#8211; menyadari betapa selama ini mudah saja membentak, meremehkan, dan susah sekali berempati bahkan pada orang-orang dekat kita: anak, istri, ayah-ibu. Apalagi tetangga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><span style="font-family:Calibri;">Nurani kita hilang. Kita gadaikan dengan apa yng kita kira kemajuan dan kesuksesan…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><span style="font-family:Calibri;">Bulaksumur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><span style="font-family:Georgia,Times New Roman,Times,Serif;font-size:small;">profile penulis: Drs. <strong>Farid Mustofa</strong>, S.Ag., M.Hum </span><span style="font-family:Calibri;">adalah Dosen Fakultas Filsafat UGM. </span></p>
Posted in Uncategorized Tagged: buletin l, farid mustofa, filsafat lingkungan, filsafat ugm, James Redfield, newsletter buletin lingkungan jahe, panta rhei filsafat ugm, risalah pohon nangka, the Celestine Prophecy <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=60&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2009/03/13/risalah-pohon-nangka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0766a0cf8cb96299ea50f9e0f9a4b4a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">panta rhei filsafat ugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bike to Work (B2W) Surabaya</title>
		<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/12/06/bike-to-work-b2w-surabaya/</link>
		<comments>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/12/06/bike-to-work-b2w-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 18:01:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pantarhei filsafat ugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bike to work]]></category>
		<category><![CDATA[bike to work surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[ginanjar dimas agung]]></category>
		<category><![CDATA[menyelamatkan lingkungan dengan sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[panta rhei filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[panta rhei filsafat ugm bike to work]]></category>
		<category><![CDATA[udara bersih dengan sepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini bersepeda tidak bisa dibilang hanya menjadi pengisi waktu santai. Komunitas Bike to Work (B2W) Surabaya menjadikan sepeda sebagai alat transportasi utama untuk berangkat dan pulang kerja. Melalui sepeda mereka menebarkan misi pelestarian lingkungan di Surabaya. 
Oleh: Ginanjar Dimas Agung alias Togin
Waktu menunjukkan jam delapan malam. Lima belas sepeda angin terparkir di sekeliling sekretariat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=53&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_55" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-55" title="kampanye-penyelamatan-lingkungan1" src="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/12/kampanye-penyelamatan-lingkungan1.jpg?w=300&#038;h=200" alt="kampanye bike to work surabaya untuk menyelamatkan lingkungan " width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">kampanye bike to work surabaya untuk menyelamatkan lingkungan </p></div>
<p><span style="font-style:italic;">Saat ini bersepeda tidak bisa dibilang hanya menjadi pengisi waktu santai. Komunitas Bike to Work (B2W) Surabaya menjadikan sepeda sebagai alat transportasi utama untuk berangkat dan pulang kerja. Melalui sepeda mereka menebarkan misi pelestarian lingkungan di Surabaya. </span></p>
<p>Oleh: Ginanjar Dimas Agung alias Togin</p>
<p>Waktu menunjukkan jam delapan malam. Lima belas sepeda angin terparkir di sekeliling sekretariat B2W di Jalan Juwingan, Surabaya. Beberapa orang sedang men-setting sepeda di tepi jalan Juwingan. Beberapa sedang mengobrol di dalam sekretariat. “Biasanya tiap malam Sabtu kita berkumpul di sekretariat. Setelah berkumpul kita akan bersepeda berkeliling Surabaya untuk singgah di tempat makan tertentu. Ini salah satu agenda mingguan B2W Surabaya!” papar Achmad Basori.</p>
<p>B2W (baca: Bike to Work) adalah komunitas pekerja yang menggunakan sepeda sebagai transportasi utama untuk beraktivitas, termasuk bekerja. Misi utamanya mengampanyekan program langit biru.</p>
<p>B2W Surabaya yang dideklarasikan pada 27 Agustus 2006 pada awal pendiriannya di Surabaya hanya beranggotakan tiga orang. Tetapi saat ini, jumlahnya meningkat. Anggota aktif yang terdaftar berjumlah 40 orang. “Kami berani mengklaim bahwa anggota kami sekitar 1.000 orang termasuk anggota pasif,” papar Achmad sebagai koordinator B2W chapter (bagian) Surabaya.</p>
<p>Anggota pasif diklaim B2W Surabaya dengan alasan pengguna sepeda sebenarnya, baik untuk pergi ke kantor atau untuk sekedar hobi, sudah menjalankan misi B2W. “Anggota pasif akan terlihat ketika kita mengadakan acara,” papar koordinator yang telah menjabat selama dua tahun ini.</p>
<p>Mayoritas penggiat B2W adalah kalangan pekerja. Meskipun mengusung tema komunitas pekerja bersepda, B2W tak menutup kemungkinan anggota umum yang ingin bergabung. ”Kami ingin mengembangkan sayap dengan merangkul komunitas sepeda, mahasiswa dan anak sekolah. Salah satunya adalah program Bike to Campus dan Bike to School,” terang Achmad dengan optimistis.</p>
<p>Bukin, yang baru bergabung B2W 4 bulan yang lalu, membeberkan, ia tidak merasa lelah mengayuh sepeda walaupun harus menempuh perjalanan 10 km. Untuk bekerja, ia harus bertolak dari rumahnya di Tambak Sumur menuju daerah Jagir Wonokromo.</p>
<p>Bukin ke B2W karena sejak kecil senang mengendarai sepeda. Kesukaannya dalam aktivitas petualangan saat muda menjadi salah satu latar belakangnya “Dulu saya senang berpetualang tetapi sekarang tidak sempat. Dengan bersepeda hobi berpetualang dapat disalurkan,” ungkapnya.</p>
<p>Berbeda dengan Bukin, Afif, mahasiswa ITS mengungkapkan pengalaman nikmatnya bersepeda saat wisata. Hal itu menginspirasinya untuk membeli sepeda dan bergabung dengan B2W Surabaya ”Bergabung dengan B2W menambah teman yang senang bersepeda,” imbuhnya melengkapi pemaparan Bukin.</p>
<p>B2W membebaskan siapa saja dengan sepeda apa saja untuk bergabung. Tidak ada pungutan atau iuran wajib. Jika ada anggota atau masyarakat umum yang ingin menyumbang dapat dilakukan dengan cara membeli merchandise, berupa kaus, pin, pelat B2W, dan sticker. Keuntungan yang terkumpul dari penjualan digunakan untuk kampanye dan sosialisasi penggunaan sepeda sebagai transporatasi utama.</p>
<p>Tak bisa dipungkiri, anggota yang tergabung dalam B2W telah berjalan dua tahun ini kerap menemukan kendala dalam aktivitasnya. “Saat ini kami masih termarjinalkan, masyarakat masih menganggap sepeda adalah golongan kelas bawah,” papar Achmad Basori.</p>
<p>Harga sepeda anggota komunitas B2W, kata Achmad, bervariasi, mulai Rp 300.000 sampai yang termahal seharga sepeda motor. “Paling mahal sekitar Rp 15 juta,” terang Bukin yang bekerja di daerah Jagir Wonokromo.</p>
<p>Salah satu bentuk marjinalisasi sepeda dan penggunanya adalah tidak disediakannya lahan parkir khusus sepeda di gedung-gedung perkantoran serta tidak ada jalur khusus sepeda di jalan raya Surabaya.</p>
<p>Agar masyarakat tertarik dengan alat transportasi sepeda, B2W terus melakukan kampanye. Kampanye dilakukan dengan menyebarkan informasi melalui flyer, mengadakan kegiatan festival sepeda dan konvoi keliling kota.</p>
<p>Achmad memaparkan, misi B2W adalah menyampaikan kepada masyarakat bahwa bersepeda akan menyelamatkan lingkungan dan anak cucu kita. Sebab, dengan bersepeda akan mengurangi polusi udara dan menyelamatkan lingkungan. Permasalahan lingkungan, khususnya penghematan bahan bakar minyak memang menjadi salah satu alasan terbentuknya komintas B2W di Indonesia.</p>
<p>Komitmen anggota komintas terhadap misi B2W tidak menyurutkan riders untuk mengayuh sepeda dari rumah ke tempat kerja atau kampus. Jarak jauh bukan halangan untuk bersepeda. Semua dilakukan untuk kehidupan yang lebih baik. Kehidupan untuk saat ini juga kehidupan untuk masa depan.(*) pernah dimuat dalam harian sore surabaya post</p>
Posted in Uncategorized Tagged: bike to work, bike to work surabaya, ginanjar dimas agung, menyelamatkan lingkungan dengan sepeda, panta rhei filsafat ugm, panta rhei filsafat ugm bike to work, udara bersih dengan sepeda <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=53&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/12/06/bike-to-work-b2w-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0766a0cf8cb96299ea50f9e0f9a4b4a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">panta rhei filsafat ugm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/12/kampanye-penyelamatan-lingkungan1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kampanye-penyelamatan-lingkungan1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa yang Apa Yang Kau Cari Palupi ?</title>
		<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/06/10/apa-yang-apa-yang-kau-cari-palupi/</link>
		<comments>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/06/10/apa-yang-apa-yang-kau-cari-palupi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 08:22:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pantarhei filsafat ugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[apa yang kau cari palupi]]></category>
		<category><![CDATA[buletin ekologi "jahe"]]></category>
		<category><![CDATA[global warming dan pencinta alam]]></category>
		<category><![CDATA[M Najib Yuliantoro]]></category>
		<category><![CDATA[mapala]]></category>
		<category><![CDATA[palupi]]></category>
		<category><![CDATA[panta rhei filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[soe hoek gie]]></category>
		<category><![CDATA[soe hoek gie pecinta alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang Apa Yang Kau Cari Palupi ?

Gunung adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan
hati seseorang. Hanya di puncak gunung aku merasa bersih. Dan
kecintaanku pada alam adalah bagian penting dari kejiwaan cinta-Tanah
Airku” (Soe Hok Gie )

Gie adalah seorang penjelajah alam dan pendaki gunung yang cukup melegenda di kalangan penggiat alam. Konon istilah Mapala (Mahasiswa Pecinta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=29&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h1 style="text-align:center;"><strong><span style="color:#888888;">Apa yang Apa Yang Kau Cari Palupi ?</span></strong></h1>
<blockquote>
<pre><em>Gunung adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan
hati seseorang. Hanya di puncak gunung aku merasa bersih. Dan
kecintaanku pada alam adalah bagian penting dari kejiwaan cinta-Tanah
Airku</em>” (Soe Hok Gie )</pre>
</blockquote>
<p>Gie adalah seorang penjelajah alam dan pendaki gunung yang cukup melegenda di kalangan penggiat alam. Konon istilah Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) lahir dari gagasannya (?). Namanya selalu abadi di kalangan penggiat alam, karena ia termasuk dalam deretan mahasiswa yang meninggal dalam tugas suci penaklukan alam, yakni gunung tertinggi di Jawa, Semeru. Di gunung impiannya itu, perjalanan hidupnya terhenti di usia 27 tahun. Usia yang cukup muda untuk seorang Soe Hok Gie.</p>
<p>Judul tulisan ini terilhami film Apa Yang Kau Cari Palupi, garapan sineas (alm) Asrul Sani.  Palupi adalah nama istri seorang pengarang bernama Haidar. Kedua orang ini memiliki karakter sangat berbeda dan sama-sama “idealis”. Haidar, karena idealisnya, rela hidup melarat demi memertahankan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran. Sementara Palupi adalah sesosok wanita yang tak bisa memberi cintanya kepada siapapun, selain untuk dirinya sendiri. Karena itu, Palupi tidak pernah merasa bahagia dengan hidupnya.</p>
<p>Suatu ketika, Palupi minta ijin suaminya untuk bermain film. Dipersilakan lah Palupi oleh Haidar. Film yang ia bintangi disutradarai oleh Chalil. Diam-diam, Palupi jatuh hati kepada Chalil, dan merasa iri kepada Putri–kekasih Chalil. Diluar dugaan, Chalil juga tak kuasa menahan cintanya kepada Palupi, hingga berujung putusnya hubungan antara Chalil dengan Putri.  Selepas berhasil menaklukkan hati sang sutradara ini, tiba-tiba Palupi jatuh hati lagi kepada seorang pengusaha muda. Sugito, namanya.</p>
<p>Tentu saja, Chalil merasa terciderai dengan sikap Palupi ini. Ia tinggalkan Palupi, dan di ujung sana, Putri masih sedia menerima Chalil meskipun pernah ternodai hatinya. Akhirnya, Chalil dan Putri merajut kembali hubungan kasih mereka yang sempat putus gara-gara Palupi.  Begitulah Palupi itu, Sahabatku. Karakternya –yang tidak bisa mencintai orang selain dirinya sendiri–telah menghancurkan hati para lelaki yang mencintainya. Seakan-akan Palupi ingin mencari kediriannya menembus kemungkinan-kemungkinan yang begitu paradoks. Tiada orang tahu, apa maksud Palupi sesungguhnya. Memetik getar emosi Palupi ini, cukup pantas jika kemudian Asrul Sani menamai filmnya bertajuk “Apa yang Kau Cari Palupi?”</p>
<p>Belakangan ini tengah menjadi jelas, pemanasan global adalah aktifitas alam yang tidak dapat ditolak lagi. Ia menjadi keniscayaan proses “seleksi alam” yang mengancam kehidupan makhluk bumi. Akankah hal ini benar indikasi awal dari akhir usia bumi kita? Ya, salah satu isu ke-alam-an yang seolah-olah out of date, tapi sebetulnya penting dan genting untuk segera dituntaskan.  Majalah Time edisi 1 Oktober 2007, sebagaimana dikutip Eep Saefuloh Fatah, memperlihatkan lapisan es di Kutub Utara menyusut lebih dari 20 persen dalam 25 tahun terakhir. Pencairan es ini akan terus berlangsung hingga tinggal 20 persen pada 2040. Saat itu Indonesia diestimasikan kehilangan lebih dari 2.000 pulaunya tenggelam. Indikasi itu dapat kita yakini saat melihat sebuah satelit yang menggambarkan perubahan Jakarta secara dramatis. Tahun 2010, diperkirakan air laut sudah makin merambah masuk ke daratan. Pada 2020, sebagaian Bandara Soekarno-Hatta mulai tergenangi air laut. Bahkan, pada 2050, permukaan air laut sudah mengancam kawasan Monumen Nasional di pusat Ibu Kota (Kompas, 25 September 2007).  Alam selalu bicara dengan kepolosannya. Ia memiliki ritme kehidupan yang minta dimengerti oleh manusia. Kenakalan alam, tak bukan, akibat manusia sebagai binatang berpikir, tidak memanfaatkan otaknya untuk memahami mereka. Harusnya manusia paham, bahwa alam telah menegaskan dengan hukumnya, positif dan negatif. Disana ada hukum kausalitas. Setiap melakukan sesuatu, akan mengakibatkan sesuatu yang lain.</p>
<p>Misalnya seorang mahasiswa yang tekun belajar, sebagaimana hukum alam, seharusnya ia pandai. Bila dari sudut kemanusiaan, siapa yang berbuat baik/buruk pada sesama, maka ia berhak diperlakukan serupa oleh sesamanya. Jika dari sudut Tuhan (kalau ada), siapa yang rajin beribadah, maka ia akan mendapat balasan surga (lagi-lagi, jika ada). Siapa menanam, akan menuai. Selalu ada roda sebab-akibat yang tak mudah dihentikan.  Sejarah kekacauan dunia lebih banyak terjadi karena ketidakpatuhan manusia terhadap hukum alam tadi. Kobaran api tidak akan pernah padam, jika disiram dengan api. Hukum alam masih percaya, api hanya bisa diselesaikan dengan musuhnya, air. Meskipun bisa saja, api dimusnahkan dengan selain air, misalnya hempasan angin kencang.</p>
<p>Namun pada prinsipnya, api (anggaplah sebagai entitas positif) tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa, dipadamkan dengan api pula. Untuk memadamkannya, ia perlu entitas negatif, diluar dirinya. Gejala-gejala semacam ini yang pada perkembangannya melahirkan ilmu-ilmu eksakta.  Alam masih berharap kehadiran seorang sahabat yang mau bercengkrema hidup damai bersamanya. Sahabat itu adalah ketika menciptakan sesuatu bagi dirinya, juga menghadirkan kenyamanan bagi alam. Jika seseorang hendak menebang hutan misalnya, ia juga harus sedia menanam kembali embrio baru untuk pelestarian hutan dan antisipasi tanah lonsor. Jika seseorang menciptakan rumah kaca, maka sebagai sahabat alam yang baik, ia juga harus rajin menanam hijauan tumbuhan, agar tidak mempercepat perjalanan pemanasan global.</p>
<p>Harmonisasi hubungan semacam inilah, yang menjadi spirit mengapa Mapala mendesak sebagai kebutuhan.  Dari melimpahnya pemahaman ini, barulah kita dapat mengembangkan sebuah alam Indonesia yang kuat dan asri. Dalam pemikiran lebih jauh, akan hadir kecintaan terhadap Tanah Air Indonesia yang kaya potensi alam. Dengan mempertahankan ekosistem yang ada, tentu kita menjadi sadar terhadap proses melestarikan dan membuang, yang biasa terjadi dalam sejarah manusia, bukan?</p>
<p>–M Najib Yuliantoro, Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Jahe, BKM Panta Rhei Filsafat UGM, edisi November 2007  http://mcnajib.wordpress.com/2008/04/05/apa-yang-kau-cari-palupi</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=29&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/06/10/apa-yang-apa-yang-kau-cari-palupi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0766a0cf8cb96299ea50f9e0f9a4b4a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">panta rhei filsafat ugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Feminisme, Energi Matahari, Ekologi: Sebuah Transisi Peradaban</title>
		<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/30/feminisme-energi-matahari-ekologisebuah-transisi-peradaban/</link>
		<comments>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/30/feminisme-energi-matahari-ekologisebuah-transisi-peradaban/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 21:45:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pantarhei filsafat ugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[buletin newsletter lingkungan jahe]]></category>
		<category><![CDATA[ekofeminisme]]></category>
		<category><![CDATA[ekologi]]></category>
		<category><![CDATA[energi surya]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat barat]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[fritjof capra]]></category>
		<category><![CDATA[ginanjar dimas agung]]></category>
		<category><![CDATA[mapajara panta rhei]]></category>
		<category><![CDATA[nilai ekolog]]></category>
		<category><![CDATA[panta rhei filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com]]></category>
		<category><![CDATA[paradigma barat]]></category>
		<category><![CDATA[patriarki]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[ritjof Capra dalam bukunya The Turning Point meramalkan]]></category>
		<category><![CDATA[togin]]></category>
		<category><![CDATA[turning point]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[
Feminisme, Energi Matahari, Ekologi:
 Sebuah Transisi Peradaban
oleh ginanjar (togin) dimas agung
 
Naiknya harga minyak dunia perbarelnya, yang disebabkan oleh konflik eksternal  dan internal negara penghasil minyak mempengaruhi stabilitas ekonomi, politik dan sosial negara-negara lain didunia, khususnya negara dunia ketiga (negara miskin). Minyak bumi mempunyai nilai yang sangat penting dimata manusia dan sangat terkait erat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=10&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><a href="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/05/capra2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-13" src="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/05/capra2.jpg?w=160&#038;h=200" alt="capra" width="160" height="200" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:18pt;line-height:150%;">Feminisme, Energi Matahari, Ekologi:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:18pt;line-height:150%;"><span> </span>Sebuah Transisi Peradaban</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center">oleh ginanjar (togin) dimas agung</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Naiknya harga minyak dunia perbarelnya, yang disebabkan oleh konflik eksternal <span> </span>dan internal negara penghasil minyak mempengaruhi stabilitas ekonomi, politik dan sosial negara-negara lain didunia, khususnya negara dunia ketiga (negara miskin). Minyak bumi mempunyai nilai yang sangat penting dimata manusia dan sangat terkait erat pengaruhnya mengenai kesejahteraan dan masa depan kehidupan manusia. Salah satu penggunaan minyak dan energi bahan fosil pada umumnya adalah dipakai untuk menggerakkan mesin-mesin industri dan kendaraan bermotor, juga listrik di perumahan, hematnya adalah sebegai energi utama.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Fritjof Capra dalam bukunya The Turning Point meramalkan, bahwa akan ada 3 hal yang akan mempengaruhi perkembangan sejarah dimasa depan, yang ia sebut sebagai “transisi” peradaban yakni patriarki, minyak bumi (bahan bakar fosil) dan paradigma Barat Modern. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span><span> </span><em>Pertama, </em>adalah runtuhnya sistem patriarki yang selama ini telah meresap kedalam ranah sistem filsafat, sosial, politik. “Laki-laki” dengan kekuatannya menjadi penentu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan. Seperti apa yang dikatakan Capra:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>“ sistem ini (patriarki) telah mempengaruhi pemikiran-pemikiran kita tentang hakikat manusia dan tentang hubungan kita dengan alam semesta-atau lebih tepatnya, hakikat “manusia” dan hubungannya dengan alam semesta dalam bahasa <em>patriarchal</em>. Inilah suatu sistem yang hingga kini tidak pernah tertantang secara terbuka dalam catatan sejarah, dan doktrin-doktrinnya diterima sedemikian universal sehingga tampak sebagai hukum alam…(Capra: 2004:14)&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Akan tetapi dalam perjalanannya, sistem “laki-laki” ini mulai digoyahkan oleh bentuk-bentuk gerakan feminisme, yang mencoba untuk menghilangkan dominasi laki-laki yang telah meresap dalam berbagai aspek kehidupan sosial dan individu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span><em>Kedua,</em> hal yang mempengaruhi adalah bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batu bara dan gas. Bahan bakar fosil ini menjadi sumber energi utama dalam industri modern. Dengan bahan bakar fosil ini, kebudayaan modern juga ikut berkembang. Konsekwensi yang nyata adalah habisnya bahan bakar ini, yang diperkirakan sekitar tahun 2000-2300, akan sangat mempengaruhi kebudayaan manusia secara global. Habisnya bahan bakar fosil membawa kekhawatiran tersendiri. Berbagai teknologi alternativ dikembangkan untuk mencari energi pengganti minyak bumi. Capra melihat bahwa saat ini adalah transisi dari zaman bahan bakar fosil ke zaman energi surya, yang akan mengakibatkan perubahan radikal dalam bidang ekonomi dan politik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Transisi yang <em>ketiga, </em>adalah perubahan nilai-nilai budaya. Transisi budaya ini tidak lain menurut Capra adalah perubahan paradigma. Capra menjelaskan, bahwa paradigma yang mempengaruhi pemikiran, persepsi, nilai-nilai yang membentuk realitas (red: kenyataan). Paradigma yang telah mempengaruhi seluruh dunia ini adalah paradigma Barat modern, diantaranya adalah Revolusi Ilmiah, Abad Pencerahan dan Revolusi industri. Capra mengungkapkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span><span> </span>&#8220;Nilai-nilai ini meliputi kepercayaan bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya pendekatan yang sahih terhadap pengetahuan; pandangan bahwa alam semesta merupakan suatu sistem mekanis yang terdiri dari balok-balok bangunan materi pokok; pandangan bahwa kehidupan dalam masyarakat merupakan perjuangan persaingan untuk bereksistensi dan kepercayaan pada pertumbuhan yang tak terbatas. (Capra, 2004:15)&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Akan tetapi paradigma Barat Modern selama ini, mulai dipertanyakan kembali. Hal ini terjadi karena paradigma Barat modern dituding sebagai biangkerok segala krisis<span> </span>ekologi (sosial dan lingkungan hidup) yang terjadi selama ini. Sebuah paradigma baru pun muncul menjawab permasalahan yang ditimbulkan oleh paradigma Barat Modern. Yakni sebuah paradigma yang didasarkan atas suatu pandangan dunia yang Holistik (menyeluruh) atau lebih tepatnya ekologis. Sebuah pandangan yang menekankan pada keseluruhan ketimbang suatu yang terpisah-pisah.<span> </span>(Capra, 2002:16)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Ketiga poin “transisi” ini yang berarti perubahan, membawa konsekwensi-konsekwensi bagi peradaban manusia. Hal inilah yang dinamakan oleh Capra sebagai The Turning Point, atau titik balik peradaban </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sumber:</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Fritjof Capra, Titik Balik      Peradaban tahun 2004, Bentang, Jogjakarta</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Fritjof Capra, Jaring Jaring      Kehidupan: Visi Baru Epistemologi dan Kehidupan, Fajar Pustaka, 2002 Jogjakarta</span></li>
</ul>
<p>artikel pernah dimuat di newsletter jahe edisi IV, Pemanasan Global.</p>
<p><a href="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/togin.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-35" src="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/togin.jpg?w=300&#038;h=225" alt="togin" width="300" height="225" /></a></p>
<p>penulis akrab disapa togin, masih menjadi anggota mapajara Panta Rhei Filsafat UGM. sekarang beraktivitas disebuah perkumpulan yang bernama KLENTHING (Kelompok Pecinta Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=10&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/30/feminisme-energi-matahari-ekologisebuah-transisi-peradaban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0766a0cf8cb96299ea50f9e0f9a4b4a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">panta rhei filsafat ugm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/05/capra2.jpg?w=160" medium="image">
			<media:title type="html">capra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/togin.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">togin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DOMESTIFIKASI dan OBJEKTIFIKASI HEWAN A LA HEGEL</title>
		<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/29/domestifikasi-dan-objektifikasi-hewan-a-lahegel/</link>
		<comments>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/29/domestifikasi-dan-objektifikasi-hewan-a-lahegel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 13:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pantarhei filsafat ugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[adreas arindra ananta kusuma]]></category>
		<category><![CDATA[antrophosentrime]]></category>
		<category><![CDATA[“Perbuatan baik seperti merawat hewan dan “membebas]]></category>
		<category><![CDATA[Dimensi domestifikasi hewan tidak lagi hanya untuk pers]]></category>
		<category><![CDATA[DOMESTIFIKASI dan dan OBJEKTIFIKASI HEWAN A LA HEGEL]]></category>
		<category><![CDATA[domestifikasi hegel]]></category>
		<category><![CDATA[ekologi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat hegel]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[hegel]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia menyadari bahwa dirinya adalah Animale Rational]]></category>
		<category><![CDATA[mapajara panta rhei]]></category>
		<category><![CDATA[Menurut Hegel manusia selalu berusaha mengobjektifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[newsletter jahe]]></category>
		<category><![CDATA[objektivikasi hegel]]></category>
		<category><![CDATA[panta rhei filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com]]></category>
		<category><![CDATA[Semakin langka jenis hewan yang didomestifikasi semakin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[DOMESTIFIKASI dan
OBJEKTIFIKASI HEWAN A LA

HEGEL

Oleh: A. Arinda A. Kusuma




Sebagian besar di antara pembaca tulisan ini pasti pernah memelihara hewan di rumah, atau bahkan sampai sekarang masih. Punya bebe-rapa ekor anjing, kucing, ikan di akuarium, atau bahkan burung perkicau, atau sampai jenis hewan tertentu yang sudah masuk dalam kategori hewan langka seperti merak dan macan kumbang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=6&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="pa12" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:29.5pt;color:black;">DOMESTIFIKASI dan</span></p>
<p class="pa10" style="text-align:center;" align="center">OBJEKTIFIKASI <span style="font-size:13.5pt;">HEWAN </span><em><span style="font-size:17pt;">A LA</span></em></p>
<p class="pa10" style="text-align:center;" align="center">
<p class="pa10" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:60pt;color:black;">HEGEL</span></p>
<p class="pa10" style="text-align:center;" align="center">
<p class="pa9" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:8pt;color:black;">Oleh: A. Arinda A. Kusuma</span></strong></p>
<p class="pa9" style="text-align:center;" align="center">
<p class="pa9" style="text-align:center;" align="center"><a href="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/hegel.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-37" src="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/hegel.jpg" alt="" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:center;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:center;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Sebagian besar di antara pembaca tulisan ini pasti pernah memelihara hewan di rumah, atau bahkan sampai sekarang masih. Punya bebe-rapa ekor anjing, kucing, ikan di akuarium, atau bahkan burung perkicau, atau sampai jenis hewan tertentu yang sudah masuk dalam kategori hewan langka seperti merak dan macan kumbang. Merupakan suatu kesaksian tersendiri, beberapa saat menghibur diri dengan memberi makan, bermain-main, dan “melatih” piaraan kita tersebut untuk melakukan sesuatu hal di luar kebiasaan perilakunya, bisa menjadi mekanisme lesure time bagi kita. Dalam dunia event organizer, juga sering diadakan lomba, kontes, pertandingan, pameran yang mempertunjukkan kelebihan, keunggulan dan kebolehan hewan piaraan yang kita punya, dan tak jarang ujung-ujungnya adalah tawaran rupiah yang tidak sedikit. Bisa bikin kaya mendadak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Untuk memperoleh hewan piaraan yang akan dipelihara di rumah pun sekarang kita tak perlu bersusah-susah, tidak perlu mencari sendiri dan menjinakkan sendiri, atau nungguin peranakkan peliharaan dari teman atau saudara dekat. Kita hanya cukup datang ke PET SHOP dan pilihlan hewan peliharaan yang akan dipelihara! Dunia hewan peliharaan sekarang juga telah menjadi sebuah industri, sejajar dengan dunia hiburan dan dunia cyber.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Sejenak pernahkah kita ingin tahu asal muasal memelihara hewan di rumah sampai sedemikian rupa? Atau pernahkah kita bertanya mengapa dan karena motivasi apa kita memelihara hewan? Tulisan ini, dengan sedikit percaya diri, apriori, dan tanpa mengutip sumber-sumber kepustakaan mencoba memaparkannya. Untuk itu, tentu sangat terbuka kritik dan perdebatan seputar kesahihan argumentasi ini.</p>
<p class="MsoNormal">Pemeliharaan hewan di rumah, atau bahasa kerennya domestifikasi hewan, adalah kegiatan manusia yang sudah sangat tua umurnya. Sejak zaman tribalisme, ketika corak produksi ekonomi manusia masih sangat sederhana. Bermula dari food gathering, menusia mengumpulkan bahan-bahan makanannya, salah satunya dengan berburu hewan. Tetapi, hasil yang didapat dari berburu sering tidak dapat mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Makin hari, jumlah dan lokasi hewan buruan yang semakin sulit didapatkan, sehingga manusia kemudian membawa hewan tersebut dalam keadaan hidup, dimanfaatkan siklus reproduksinya, menghasilkan peranakkan, dipelihara, dan seterusnya proses tersebut berjalan. Hasil peranakkan yang diperoleh sebagian besar dijadikan makanan (disembelih tentunya). Hasilnya, ternyata lebih banyak daripada berburu.</p>
<p>Di masa bercocok tanam, saat dimana kebutuhan pangan tercukupi dengan membudidayakan jenis-jenis tanaman yang bisa dimakan, hewan-hewan yang didomestifikasi pun tetap menjadi bahan makanan. Tetapi, ketika padi mulai dibudidayakan, hewan-hewan yang didomestifikasi juga mempunyai fungsi yang lain: mengolah tanah dengan menarik bajak. Domestifikasi hewan-hewan tidak hanya berfungsi sebagai persediaan bahan makanan, tetapi juga untuk membantu aktivitas manusia, selain herbivora, jenis hewan karnivora ternyata juga bisa didomestifikasi untuk tujuan tersebut. Para pemburu menjinakkan anjing hutan untuk membantu mereka berburu. Dimensi domestifikasi hewan tidak lagi hanya untuk persediaan pangan, tetapi banyak dimensi lain, “terbuka” untuk kemudian menjadi motivasi dari domestifikasi.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Hasrat Penguasaan Antroposentris dan Objektifikasi Dunia A la Hegel</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Manusia menyadari bahwa dirinya adalah Animale Rational, hewan yang dapat berpikir, mempunyai kelebihan dibanding hewan-hewan lain. Manusia dapat terbuka—dalam merespon—realitas sekitarnya, tidak seperti hewan mekanis, hanya mengikuti insting merespon. Kesadaran akan kelebihan dan “keterbukaan“ manusia tersebut salah satunya terwujud dalam hasrat penguasaan terhadap realitas sekitarnya, dan juga menjadi motivasi dari domestifikasi hewan. Mengasingkan hewan dari habitat aslinya, meletakkannya dalam kurungan atau sangkar, yang menjadi simbol kekuasaan manusia atas hewan, dan menganggap hal itu sebagai perbuatan baik. Perbuatan baik seperti merawat hewan dan “membebaskannya” dari ancaman-ancaman mematikan yang sebenarnya adalah konsekuensi logis rantai makanan.</p>
<p>Ada gengsi yang tinggi juga di kalangan manusia jika bisa mendomestifikasi hewan-hewan langka. Semakin langka jenis hewan yang didomestifikasi, semakin tinggi nilai gengsi yang didapat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">“Perbuatan baik seperti merawat hewan dan “membebaskannya” dari ancaman-ancaman mematikan yang sebenarnya adalah konsekuensi logis rantai makanan</span>”</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Objektifikasi manusia, juga menjadi motivasi dari domestifikasi hewan. Menurut Hegel, manusia selalu berusaha mengobjektifikasikan dirinya ke realitas luar. Ia selalu berusaha “memindah” bentuknya ke realitas luar. Realitas dibentuk sedemikian rupa, diberi objek, yang merupakan “kedirian” dari manusia tersebut. Seorang seniman patung “memindahkan” kemanusiaan dirinya dengan mengukir sebongkah batu, dibentuknya sedemikan rupa kedirian manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Melatih hewan untuk melakukan sesuatu hal keinginan kita, kedirian kita, adalah bentuk objektifikasi tersebut. Menjadikan hewan jinak, terdomestifikasi, mau—secara insting, melakukan hal yang kita suruh atau menirukan perbuatan kita, yang memindahkan kemanusiaan kita ke hewan. Atau menirukan perbuatan kita ke hewan, anjing yang disuruh bersepeda, monyet yang membawa payung dan menabuh drum, singa yang melompat masuk ke dalam lingkaran api di sirkus adalah contoh-contohnya.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Artikel dimuat dalam newsletter jahe, edisi V/April/2008. Tema Flora, Fauna, Manusia. Newsletter jahe diterbitkan oleh Mahasiwsa Pecinta Jagad Raya (MAPAJARA) Panta Rhei Fakultas Filsafat UGM. </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Penulis adalah anggota MAPAJARA Panta Rhei Fak. Filsafat UGM</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=6&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/29/domestifikasi-dan-objektifikasi-hewan-a-lahegel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0766a0cf8cb96299ea50f9e0f9a4b4a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">panta rhei filsafat ugm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/hegel.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Siapa Takut Bencana? Kado Hari Bumi untuk Derita Saksi Bencana</title>
		<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/siapa-takut-bencana-kado-hari-bumi-untuk-derita-saksi-bencana/</link>
		<comments>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/siapa-takut-bencana-kado-hari-bumi-untuk-derita-saksi-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 05:51:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pantarhei filsafat ugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[buletin news letter lingkungan jehe]]></category>
		<category><![CDATA[ekologi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[jahe]]></category>
		<category><![CDATA[keseimbangan alam dan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[modernitas]]></category>
		<category><![CDATA[nurul hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[panta rhei filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Siapa Takut Bencana?&#8230; :
Kado Hari Bumi untuk Derita Saksi Bencana
Oleh Nurul Hidayah
 
Sepenggal dari diskusi “Mengenang Bumi” dalam rangka memperingati Hari Bumi 22 April 2006 lalu, Sindung Tjahyadi selaku pembicara menyampaikan telaah bahasanya pada kata bumi. Bumi memiliki kesamaan bunyi dengan ummi yang artinya ibu. Kata ibu juga sering dilekatkan untuk merujuk pada bumi seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=24&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Siapa Takut Bencana?&#8230; :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Kado Hari Bumi untuk Derita Saksi Bencana</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Oleh Nurul Hidayah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Sepenggal dari diskusi “Mengenang Bumi” dalam rangka memperingati Hari Bumi 22 April 2006 lalu, Sindung Tjahyadi selaku pembicara menyampaikan telaah bahasanya pada kata bumi. Bumi memiliki kesamaan bunyi dengan ummi yang artinya ibu. Kata ibu juga sering dilekatkan untuk merujuk pada bumi seperti ibu pertiwi dan <em>mother earth</em>. Bumi dan ibu memiliki karakter stereotip keperempuanan yaitu kesuburan dan induk kesuburan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Sebagaimana seorang ibu, bumi memiliki logikanya sendiri dalam menata dan mengelola dirinya untuk mencapai harmoni. Dengan ini, bencana bisa dikatakan tidak ada bagi bumi itu sendiri, karena semuanya adalah aktivitas alami yang dibutuhkannya. Seperti hal nya filsafat Leibniz yang menyatakan “alam semesta adalah harmoni yang didesain Tuhan”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><img class="aligncenter" src="http://www.batakpos.com/wp-content/uploads/2007/05/banjir.JPG" alt="" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan dengan adanya bencana Tsunami atau gunung berapi? Apa yang ada dalam pikiran bumi saat itu adalah hukuman? Seperti dipercaya seorang padri Jesuit mengenai gempa bumi di Lisbon yang tidak jauh berbeda<span> </span>dengan keyakinan sebagian orang jawa bahwa bencana adalah murka alam. Meski tampak pesimis, keyakinan ini mengandung makna menuju keseimbangan kosmos. Bahwa bencana adalah wujud keprihatinan alam pada peradaban dewasa ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Modernitas telah membawa kita pada mitos-mitos baru seperti demokrasi pasar, yang mengesampingkan lingkungan dengan aktivitas yang tidak selaras dengan daya dukung alam. Sebagai contohnya, industrialisasi dengan pemborosan bahan bakar minyak. Dalam skala global, bumi telah dikuasai oleh korporasi-korporasi besar yang beroperasi multinasional. Struktur korporasi dalam politik sepadan dengan sistem fasis yang mengintegrasikan buruh dan modal dibawah satu kontrol, kekuasaan. Dampak terbesar dirasakan oleh oleh Dunia Ketiga seperti kita yang parahnya berada di titik khatulistiwa. Selain dikeruk, kita juga dituntut untuk menjadi paru-paru dunia dengan tetap menjadi miskin. Sungguh tidak adil!<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Voltaire yang berkata dalam puisinya “mereka bayar dosa dengan mati”, tentang bencana menyatakan alam, hewan dan manusia semua dalam keadaan perang. Pesimismenya sesungguhnya mengandung kritik pada optimisme abad ke-18 yang mengagungkan rasionalisme dengan dukungan penuh ilmu dan iman. Namun benarkah ketika alam murka berarti ia menyatakan perang pada manusia dan hewan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Mari kita lihat masalah ini dari sisi hubungan alam dan manusia. Pada saat bersamaan, alam telah menggugah manusia untuk sadar akan dirinya dan keberadaannya sebagai komunitas besar. Tuntutannya adalah upaya rekonsiliasi manusia dengan lingkungannya, yaitu penerapan teori moral yang menyangkut etika hidup bersama dengan mahluk hidup dan benda lainnya dalam alam semesta raya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Perubahan tata nilai yang diharapkan adalah perubahan etika dari antroposentris ke ekosentris, salah satunya manusia harus mau melepaskan haknya untuk tidak menguasai segala sesuatu (alam) tanpa batas lagi. Sehingga tidak hanya kesejahteraan manusia lagi yang menjadi tujuan, tetapi kesejahteraan semua mahluk baik yang hidup maupun tidak hidup. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Lalu bagaimana interaksi alam dan manusia mengingat konflik dimana alam membutuhkan pelestarian di satu sisi dan manusia<span> </span>memiliki kebutuhan terhadap alam di sisi lain? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Sekali lagi kita mencari keseimbangan dalam hubungan manusia dengan alam. Perpektif tradisi filosofis dan religius sangat berguna dalam merumuskan cara berfikir dan tindakan yang sesuai dengan ritme dan keterbatasan alam yang tak dapat terhindarkan. Mari kita mencoba membuka naskah Taois yang sangat menghargai ekologi alam dan konfusius yang memiliki komitmen terhadap ekologi politis dan sosial. Kedua tradisi asli Cina ini saling melengkapi dengan pandangan dunia yang sama, yaitu organik, vitalistik dan holistik. Semesta dilihat sebagai proses yang dinamis yang berlangsung terus dari transformasi terus-menerus.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Adapun kesadaran baru dari penelusuran ini membuat manusia menghargai dan sekaligus terlibat langsung dengan lingkungannya. Sikap yang diharapkan adalah melakukan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu sesuai dengan logika semesta. Seperti dalam menyikapi bencana, manusia memcoba memahaminya sebagai aktivitas alami alam yang tidak merusak, sebaliknya berproses menuju harmoni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><a href="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/ulul1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-40" src="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/ulul1.jpg?w=237&#038;h=273" alt="" width="237" height="273" /></a><span>akrab disapa Ulul. Belakangan ini sedang sibuk mencari sesuap nasi dan segantang berlian untuk ditukarkan dengan nissan x trail<br />
</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=24&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/siapa-takut-bencana-kado-hari-bumi-untuk-derita-saksi-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0766a0cf8cb96299ea50f9e0f9a4b4a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">panta rhei filsafat ugm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.batakpos.com/wp-content/uploads/2007/05/banjir.JPG" medium="image" />

		<media:content url="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/ulul1.jpg?w=237" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan dan Bencana; sebuah pengantar obrolan santai antar pemula</title>
		<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/perempuan-dan-bencana-sebuah-pengantar-obrolan-santai-antar-pemula/</link>
		<comments>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/perempuan-dan-bencana-sebuah-pengantar-obrolan-santai-antar-pemula/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 05:49:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pantarhei filsafat ugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bencana dan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[buletin newsletter lingkungan jahe]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat dan bencana]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[jovanka edwina]]></category>
		<category><![CDATA[mapajara panta rhei]]></category>
		<category><![CDATA[panta rhei filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan dan anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan dan bencana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan dan Bencana;
sebuah pengantar obrolan santai antar pemula
oleh: 
Jovanka Edwina
 
Ada yang salah dalam sistem kita,
yang membuat para perempuan kita tak pernah bisa tidur pulas.
Ada yang salah dalam sistem kita,
yang membuat perempuan kita tak mampu berkata-kata.
Ada yang salah dengan otak dan hati kita,
yang membuat perempuan kita tetap terbungkam dan tersudutkan
seperti lemari pajang di sudut rumah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=23&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Perempuan dan Bencana;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">sebuah pengantar obrolan santai antar pemula</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">oleh: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>Jovanka Edwina</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;">Ada</span><span style="font-size:10pt;"> yang salah dalam sistem kita,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;">yang membuat para perempuan kita tak pernah bisa tidur pulas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;">Ada</span><span style="font-size:10pt;"> yang salah dalam sistem kita,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;">yang membuat perempuan kita tak mampu berkata-kata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;">Ada</span><span style="font-size:10pt;"> yang salah dengan otak dan hati kita,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;">yang membuat perempuan kita tetap terbungkam dan tersudutkan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;">seperti lemari pajang di sudut rumah, “ada” dan “tak bersuara”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;">-koepoekoepoe-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong> Kurangnya sosialisasi informasi dan (mungkin) minat mengenai bencana dan ditambah pemahaman jender seadanya akan menjadi kendala untuk memahami problem yang dihadapi kaum perempuan di daerah bencana pada khususnya dan para pengungsi pada umumnya. Namun demi “meramaikan” suatu pembicaraan atas isu yang berkaitan dengan terbitan kali inilah<span> </span>tulisan ini disusun dengan segala ketidak-sempurnaannya dengan harapan dapat dijadikan motivasi utuk lebih banyak<span> </span>lagi menggali pengetahuan mengenai isu bencana dan jender.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Beberapa sumber menginformasikan mengenai arti dasar dari bencana, secara singkat yaitu saat dimana proses alam tidak selamanya menjadi sebuah bencana. Ancaman alam (<em>natural hazard</em>) baru akan berubah menjadi bencana alam (<em>natural disaster</em>) saat kemudian muncul kerusakan dan kerugian material, juga korban jiwa yang diakibatkan kerentanan terhadap ancaman alam sebagai dampak dari peristiwa tersebut. Dari sini tentu kita dapat membayangkan bila kemudian ada sebuah sistem yang menyeluruh atas kemungkinan-kemungkinan dari sebuah peristiwa alam, maka dampak negatif darinya dapat ditekan sampai batas minimal, tidak seperti yang selama in terjadi, yang kemudian hanya menghasilkan berita-berita dramatis-eksploitatif, trauma historis bagi masyarakat dan juga lapangan bola bagi pihak-pihak dengan berbagai kepentingan. Sistem ini bisa kita terapkan lewat Manajemen Bencana (<em>Disaster Management</em>).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 54pt 0.0001pt;"><span style="font-family:Arial;color:black;">“What government barely understands is that there is a long process involved for a flood hazard to produce a disaster, and there are choices and actions that can be made to prevent flood hazards becoming disasters. Disaster is a forced marriage of hazards and vulnerabilities. Hazards can be mitigated and managed, while vulnerabilities can be reduced. Therefore, disaster risk management is a function of hazards mitigation and vulnerability reduction. This is a very simple understanding for people in disaster studies. “</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Arial;">[<span><a href="http://www.peduli-bencana.or.id/anggota.php?detail=tanlas">Jonatan Lassa</a>, New Direction Needed for Disaster Management in Indonesia, 2006]</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Namun kemudian hal penting ini pula yang masih luput dari perhatian berbagai kalangan yang harusnya berkompeten.<span> </span>Sifat dari penanggulangan bencana yang ada masih “memusuhi” dan “takluk” terhadap gejala alam, sehingga pandangan bahwa bencana adalah sebuah takdir terus bercokol dalam pikiran kita. Tindakan preventif yang ada masih pada menjauhkan, kadang dengan paksa, suatu sosietas dari daerah yang rawan terhadap ancaman gejala alam, bukan dengan pemberdayaan. Pertanyaannya adalah, haruskah penduduk mengungsi dari tanah nenek moyang mereka, yang nota bene telah bergenerasi mampu mengatasi ancaman alam yang terjadi. Mungkin kemodernan dan teknologi canggih membius pemerintah dan intelektual perancang kebijakan sehingga melupakan bahwa ada tradisi dan kearifan lokal untuk bertahan hidup yang secara evolutif telah dikembangkan penduduk setempat. Penanganan yang dilakukan pun masih bersifat darurat (<em>emergency</em>) yang sangat fisik dan material yang menjadikan isu hak asasi manusia hanya sebagai aksesorinya. Lebih lanjut, posisi masyarakat yang ada di daerah bencana sekedar menjadi korban yang lemah tak berdaya secara fisik, psikologis maupun ekonomi yang bemuara pada ketergantungan akan bantuan. Dan diperparah dengan rendahnya perhatian pemerintah akan peran serta penduduk korban bencana dan kearifan lokal setempat dalam membenahi kembali “rumah” mereka. Padahal pastinya yang paling mengerti dan peduli akan seperti apa nantinya area bekas bencana tersubut pastilah mereka yang selama ini telah hidup dan tinggal di atasnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><img class="aligncenter" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:xFNeOhieo8ggPM:http://across.co.nz/tears%2520from%2520disaster.jpg" alt="" width="279" height="244" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Berbicara mengenai korban, ada beberapa kelompok yang tergolong paling rentan terhadap dampak negatif dari bencana alam, diantaranya adalah; orang berusia lanjut, lumpuh, sakit, anak-anak dan perempuan. Dalam kaitannya dengan tulisan ini, maka kelompok terakhirlah yang akan diulas lebih lanjut dengan sedikit menyertakan kelompok anak-anak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Berhubungan dengan konstruksi jender yang telah terjadi, bahkan mengkonstitusi, selama berabad-abad, maka perempuan dan laki-laki berbeda dalam menghadapi bencana alam dan dampaknya. Saat tsunami menerjang N.A.D, dari 105 orang yang selamat di Desa Lambada, hanya terdapat 5 orang perempuan. Tidak ada jawaban pasti atas fakta ini. Tapi beberapa jawaban yang ditemukan adalah hal ini terjadi karena usaha mereka untuk menyelamatkan anggota keluarga dan kemampuan fisik mereka dalam usaha menyelamatkan diri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Para perempuan yang selamat, kemudian masih harus menghadapi berbagai permasalahan lagi dan berada pada posisi yang rentan. Dimana dalam kultur yang sangat patriakis setiap saat kekerasan fisik, psikologis dan seksual siap menghadang langkah mereka. Hal ini jarang sekali dapat dilaporkan karena pelaku tindak kekerasan, bahkan criminal, tersebut datang dari pihak yang lebih “berkuasa”, seperti, dengan tanpa mengurangi hormat pada pihak-pihak tersebut, pihak aparat yang mengamankan kamp penampungan dan bahkan para relawan dan para lelaki dari pihak korban sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Bantuan yang diberikan pun mumnya memiliki standar-standar bagi para penerimanya. Seperti bantuan pendidikan, kesehatan, sandang, pangan dan tempat tinggal. Bantuan pendidikan, misalnya, umumnya hanya diberikan pada anak-anak sampai dengan usia enam belas tahun, sehingga remaja perempuan menjadi sangat rentan posisinya, apalagi bila ia sebatang kara. Kemudian maraklah penjualan perempuan,baik sebagai pembantu maupun pekerja seks, perkawinan usia muda dengan alasan perlindungan terhadap kaum perempuan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 63pt 0.0001pt 54pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">“Kenyataannya, perempuan sering terabaikan, baik dalam menghadapi ancaman alam ataupun penanganan dan rehabilitasi bencana alam, menyebabkan perempuan tetap tertinggal di “area” marjinal. Budaya patriarkis selama ini telah membentuk perempuan-perempuan yang berdiri selangkah (atau lebih) dibelakang kaum lelaki menyebabkan perempuan tertinggal dalam isu-isu penanganan ancaman bencana alam yang kemudian mendatangkan masalah yang lebih besar saat bencana alam benar-benar terjadi, karena mereka menjadi orang yang paling lemah di antara yang lemah.”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Masalah lain seperti kesehatan reproduksi dan psikis kaum perempuan di daerah bencana pun jarang mendapat perhatian penuh. Perempuan memiliki kebutuhan yang jelas berbeda dan spesifik, seperti pembalut, baju dalam yang bersih, kebersihan lingkungan,<span> </span>ruang privat perempuan, kondisi yang kondusif bagi perempuan hamil dan ibu menyusui<span> </span>dan sebagainya. Lalu, mereka pun mengalami dampak psikis yang berat, sama seperti kelompok-kelompok lainnya dalam sebuah bencana, namun dengan konstruksi jender yang ada, mereka dipaksa untuk terus menanggung tekanan itu, bahkan kadang mengenyampingkannya, untuk kemudian melaksanakan (rasa dan beban) tanggung jawab mereka dalam pemenuhan kebutuhan keluarga atau pun sesama pengungsi lain yang juga dalam kondisi lemah, hal ini adalah turunan dari beban ganda yang telah lama dikenal dalam terminologi jender. Hal ini memang baik, karena menunjukkan perempuan lebih tahan terhadap keadaan depresi dan kemudian dapat berperan aktif dalam penanganan pasca-bencana, tidak seperti stigma umum selama ini. Namun tentunya mereka pun butuh untuk menyembuhkan diri mereka demi kondisi psikis jangka panjang. Sedikitnya tenaga relawan dan tenaga medis perempuan menjadi kendala tersendiri, karena umumnya mereka akan merasa lebih nyaman untuk bertukar pikiran dengan sesama perempuan. Belum lagi minimnya pengetahuan pihak-pihak relawan akan budaya lokal daerah yang tertimpa bencana tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Kenyataannya, perempuan sering terabaikan, baik dalam menghadapi ancaman alam ataupun penanganan dan rehabilitasi bencana alam, menyebabkan perempuan tetap tertinggal di “area” marjinal. Budaya patriarkis selama ini telah membentuk perempuan-perempuan yang berdiri selangkah (atau lebih) dibelakang kaum lelaki menyebabkan perempuan tertinggal dalam isu-isu penanganan ancaman bencana alam yang kemudian mendatangkan masalah yang lebih besar saat bencana alam benar-benar terjadi, karena mereka menjadi orang yang paling lemah di antara yang lemah. Seharusnya isu perempuan dan jender ikut menjadi pertimbangan penting dalam kebijakan-kebijakan penanganan pra maupun paska bencana sebagai bagian dari manajemen bencana agar perempuan-perempuan kita dapat benar-benar mengalami apa yang dinamakan Hak Asasi Manusia, paling tidak disaat mereka harus hidup di bawah ancaman alam. Namun sayangnya, jangankan berbicara masalah perempuan dalam konteks bencana, untuk berbicara bencana pun rasanya kita (paling tidak saya sendiri) masih seperti anak-anak Sekolah Dasar yang belajar mengeja, hanya saja, anak-anak tersebut memiliki keinginan kuat dan berhati polos.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Dari sini paling tidak dapat kita temukan sebuah kebutuhan untuk topik bencana di Indonesia, bahwa butuhnya suatu kebijakan yang mampu memandang permasalahan bencana secara komprehensif dan berwawasan jender, yang tentunya disusun oleh pihak-pihak yang benar-benar kompeten dalam studi bencana secara teori dan praksis, bukan pihak yang “merasa” mengerti. Yang kemudian dibarengi dengan sosialisasi informasi manajemen bencana kepada penduduk di daerah rawan ancaman bencana, aparat yang berwenang, akademisi, badan relawan, badan donor, pihak-pihak terkait lain dan masyarakat umum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sumber :</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Webdings;"><span>ý<span> </span></span></span><!--[endif]-->&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-, <em>Suara Perempuan di Pengungsian</em>. Dapat dibaca di <span style="color:#0000cc;"><a href="http://girlthink.blogthing.com/2005/07/08/suara-perempuan-di-pengungsian"><span style="color:#0000cc;">http://girlthink.blogthing.com/2005/07/08/suara-perempuan-di-pengungsian</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Webdings;"><span>ý<span> </span></span></span><!--[endif]--><a href="http://www.peduli-bencana.or.id/anggota.php?detail=paripurno">Eko Teguh Paripurno</a>, <em>Telaah Penanggulangan Bencana di Indonesia</em>. Dapat dibaca di <span style="color:#0000cc;"><a href="http://www.peduli-bencana.or.id/manuskrip.php?baca=7"><span style="color:#0000cc;">http://www.peduli-bencana.or.id/manuskrip.php?baca=7</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Webdings;"><span>ý<span> </span></span></span><!--[endif]-->Jonathan Lassa, <em>New Direction Needed For Disaster Management in Indonesia</em>,. Dapat dibaca di <span style="color:#0000cc;">http://www.peduli-bencana.or.id/manuskrip.php?baca=39</span> , dengan sumber : <span style="color:#0000cc;"><a href="http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20060116.E02"><span style="color:#0000cc;">http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20060116.E02</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Webdings;"><span>ý<span> </span></span></span><!--[endif]-->Mukhotib MD, <em>Problem Kesehatan Reproduksi Perempuan Pengungsi</em>, 2005. Dapat dibaca di <span style="color:#0000cc;"><a href="http://situs.kesrepro.info/gendervaw/feb/2005/gendervaw01.htm"><span style="color:#0000cc;">http://situs.kesrepro.info/gendervaw/feb/2005/gendervaw01.htm</span></a></span> dengan sumber Harian Kompas, 31 Januari 2005</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Webdings;"><span>ý<span> </span></span></span><!--[endif]-->Niken Savitri, <em>Penanganan Pascabencana Alam Berperspektif Jender</em>, 2006. dapat dibaca di<span style="color:#0000cc;">:<a href="http://www.kompas.com/kompascetak/0502/07/swara/1542274.htm"><span style="color:#0000cc;">http://www.kompas.com/kompascetak/0502/07/swara/1542274.htm</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Webdings;"><span>ý<span> </span></span></span><!--[endif]-->Teguh Eko Paripurno, <em>Bencana dan Peran Kita</em>, 2006. Dapat dibaca di <span style="color:#0000cc;">http://www.peduli-bencana.or.id/manuskrip.php?baca=1</span></p>
<p class="MsoNormal">(dengan tak lupa berterima kasih kepada Mas Didik dari Komunitas Peduli Bencana (KPB) untuk perbincangan singkat yang sedikit banyak mempermudah penyelesaian tulisan ini.)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><a href="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/jovanka.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-32" src="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/jovanka.jpg?w=200&#038;h=150" alt="Jovaka Edwina" width="200" height="150" /></a><strong>Jovanka Edwina, penulis adalah seorang aktivis di beberapa tempat. salah tiganya adalah di Forum Seni dan Budaya (FSB) Retorika, di Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat (BPMFF) Pijar, dan Komunitas Musik Sande Monink<br />
</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=23&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/perempuan-dan-bencana-sebuah-pengantar-obrolan-santai-antar-pemula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0766a0cf8cb96299ea50f9e0f9a4b4a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">panta rhei filsafat ugm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:xFNeOhieo8ggPM:http://across.co.nz/tears%2520from%2520disaster.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/jovanka.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">Jovaka Edwina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa harus ada bencana?</title>
		<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/mengapa-harus-ada-bencana/</link>
		<comments>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/mengapa-harus-ada-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 05:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pantarhei filsafat ugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bencana dan filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[fatmawati indah lestari girsang]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[mapajara panta rhei]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa harus ada bencana]]></category>
		<category><![CDATA[newsletter buletin lingkungan jahe]]></category>
		<category><![CDATA[panta rhei filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa harus ada bencana?
Oleh: FaTme’
  
 
Bencana alam sedang meraja di dunia, khususnya di bumi Indonesia : gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, badai dan topan. Fenomena alam yang telah merenggut beribu-ribu korban meninggal dan juga menderita terjadi sungguh tak dapat diterka dan seringkali di luar logika kita. Tidak ada seorang pun yang berharap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=19&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Mengapa harus ada bencana?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Oleh: FaTme’</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span><a href="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/05/bencana.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-22" src="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/05/bencana.jpg?w=316&#038;h=316" alt="" width="316" height="316" /></a><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bencana alam sedang meraja di dunia, khususnya di bumi Indonesia : gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, badai dan topan. Fenomena alam yang telah merenggut beribu-ribu korban meninggal dan juga menderita terjadi sungguh tak dapat diterka dan seringkali di luar logika kita. Tidak ada seorang pun yang berharap bencana-bencana dahsyat seperti ini akan terulang, hanya marilah kita coba cermati kejadian-kejadian akibat tangan manusia yang secara nyata telah menyebabkan atau bibit bencana di masa datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 45pt 0.0001pt 36pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">“Fakta bahwa Indonesia sebagai salah satu negara produsen oksigen di dunia tidak dapat diingkari sebelumnya, hanya saat ini pembabatan hutan, pengerukan bukit atau gunung serta pasir telah menjadi kenyataan yang terjadi. Pembangunan kantor-kantor dan hotel-hotel berbintang, serta pabrik-pabrik tanpa sadar secara rutin menyedot air artesis dengan volume ribuan m3 setiap harinya”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Ozon sudah bolong semakin besar sehingga dirasakan temperatur di muka bumi semakin hari semakin panas kemungkinan umat manusia musnah terpanggang panas belum menjadi pembicaraan hanya suatu hari panas ini akan mencairkan es-es yang berada di kutub bumi telah diprediksi, mau kemana larinya umat manusia?.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Fakta bahwa Indonesia sebagai salah satu negara produsen oksigen di dunia tidak dapat diingkari sebelumnya, hanya saat ini pembabatan hutan, pengerukan bukit atau gunung serta pasir telah menjadi kenyataan yang terjadi. Pembangunan kantor-kantor dan hotel-hotel berbintang, serta pabrik-pabrik tanpa sadar secara rutin menyedot air artesis dengan volume ribuan M3 setiap harinya. Pertanyaan sederhananya: apakah hanya akan menyebabkan abrasi air laut masuk ke bawah daratan saja lebih jauh atau menyebabkan sebuah rongga besar pada sebuah kota sehingga pada saat yang tepat akan longsor atau rubuh sebuah kawasan masuk k edalam bumi ketika tanah penyangganya sudah tidak kuat menahan karena air di bawahnya sudah kosong. Banjir yang datang setiap tahun dan sekarang semakin rutin dan bertubi-tubi sebenarnya adalah sebuah rahmat dan tanda-tanda alam yang harus segera dikelola secara baik untuk menutupi kekurangan pada alam di sekitar banjir tersebut. Jika banjir dipersepsikan sebagai bencana maka yang dipikirkan dan dilakukan adalah bagaimana membuang air itu segera ke laut dan mengungsikan penduduk keluar daerah banjir setelah dilakukan proses manajemen bencana dan sebelumnya disiapkan proses persiapan dan mitigasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Kondisi penggundulan hutan sudah pasti bukan hanya menyebabkan banjir saja!. Yang pasti produksi oksigen berkurang dan kemampuan menyerap air bagi tanah sehingga berkurangnya cadangan air berkurang sudah terjadi. Yang perlu diteliti adalah seberapa besar pengaruh penggundulan hutan terhadap berubahnya cuaca serta terbentuknya badai serta ketahanan daratan terhadap badai dari lautan serta kecepatan dan frekuensi juga menyebarnya kebakaran Hutan?. Di Indonesia sekarang ini makin sering terdengar angin topan dan badai begitu juga di belahan dunia lainnya. Sekarang sudah semakin nyata bahwa umat manusia perlu mengantisipasi atau lebih tepat mengelola perubahan iklim yang terjadi di dunia ini.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Mari kita juga berpikir tentang ancaman lainnya, Siapa yang dapat menjamin bahwa senjata-senjata nuklir yang disimpan di gudangnya itu akan aman selamanya. Uni Suviet sebuah contoh nyata ketika sebuah negara dengan peralatan senjata yang sangat canggih tiba-tiba rubuh, pertanyaannya di tangan siapa senjata-senjata itu berada? Amankah umat manusia dari ancaman senjata-senjata itu? apa dampaknya ketika senjata-senjata itu jatuh kepada petualang-petualang?. Kemudian bagi negara-negara lainnya yang menyimpan senjata-senjata pemusnah massal itu, juga muncul pertanyaan apakah senjata-senjata tetap aman ketika terjadi Gempa bumi yang sangat dahsyat atau angin topan yang sangat luar biasa kuatnya?<span> </span>Disedotnya perut bumi demi mengeluarkan minyak, gas dan air jika sudah dalam jumlah tertentu yang luar biasa besar tidak mungkin jika tidak punya pengaruh apa-apa terhadap bumi itu sendiri. Balon sebagai contoh yang sederhana jika anginnya keluar dalam posisi bebas maka orbitnya akan berubah dan kempes. Bagi bumi saat ini mungkin belum kempes secara besar-besaran tetapi longsor bisa dibilang sebagai gejala itu karena pada kenyataannya seluruh permukaan bumi ditekan oleh udara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 54pt 0.0001pt 36pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">“Yang pasti ada sesuatu yang telah dan sedang berubah sekarang ini. Namun, adakah terbersit di pikiran kita bahwa sebenarnya musibah<span> </span>yang terjadi, seperti banjir, longsor, dan bencana lainnya adalah akibat dari ulah kita manusia yang tidak peduli dengan tindakan yang kita lakukan yang mengakibatkan kerusakan alam yang kita diami.”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Atas dasar pemikiran ini maka jika tekanan udara semakin hari semakin menguat atau tetap tetapi daya tahan bumi semakin mengecil terhadap tekanan karena proses ekploitasi maka yang terjadi adalah longsor atau ambruknya permukaan bumi dan masuk kedalam. Jika tekanannya semakin melemah karena perusakan udara sehingga mengakibatkan tekanan bumi jauh lebih kuat maka tanah yang diatas akan berhamburan keluar contoh yang terjadi pada meletusnya gunung berapi. Dan jika pengrusakan itu seimbang antara udara dan perut bumi maka perubahan yang terjadi adalah antara sistim Bumi dengan alam semesta lainnya, mungkin<span> </span>para ahli fisika, kimia, astronomi, geologi, geofisika dan lain-lain bisa memikirkannya. Yang pasti ada sesuatu yang telah dan sedang berubah sekarang ini. Namun, adakah terbersit di pikiran kita bahwa sebenarnya musibah<span> </span>yang terjadi, seperti banjir, longsor, dan bencana lainnya adalah akibat dari ulah kita manusia yang tidak peduli dengan tindakan yang kita lakukan yang mengakibatkan kerusakan alam yang kita diami. Penebangan hutan secara liar dan besar-besaran, pembuangan sampah tidak pada tempatnya, serta pemanasan suhu bumi akibat semakin menipisnya ozon. Semua itu kebanyakan tindakan yang kita lakukan yang berakibat fatal bagi sejumlah banyak manusia di bumi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Manusia menjadi korban atas keserakahannya sendiri. Dalam kehidupannya manusia tidak menyadari bahwa bumi ini adalah nafas kita, yang harus kita jaga dan lindungi. Kita mengotorinya sama saja dengan kita mengurangi sedikit demi sedikit nafas kehidupan kita. Terkadang, kebutuhan untuk memuaskan keinginan badan sangat mendominasi dalam diri masyarakat, yang akhirnya melupakan hal yang paling hakiki, yakni kehidupan bersama yang harmonis dengan manusia dan alam. Namun keserakahan terlalu kuat untuk dimusnahkan, manusia lupa akan nafas yang memberikan kehidupan baginya, manusia menguras segala apa saja yang dianggap dapat memuaskan jasmaninya, tidak jarang juga harus melalui cara yang mengganggu dan merusak hak-hak orang lain bahkan merusak kekayaan alam. Akibatnya, terjadi banyak peristiwa yang di luar dugaan kita, karena kesadaran jiwa juga secara hakiki sudah mendarah daging, artinya sudah bersifat badaniah semata.<span> </span>Alam menjadi korban kebejatan nafsu-nafsu penguasa yang ada dalam diri manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Manusia sebagai ciptaan Tuhan, adalah<span> </span>makhluk yang dilengkapi dengan akal budi, pikiran sehat, dan rasa, cipta, serta karsa. Hanya manusialah satu-satunya ciptaan Tuhan yang paling istimewa, dibanding dengan makhluk ciptaan lainnya. Manusia dalam kehidupannya dituntut agar tetap bertahan (survive) terhadap segala bencana yang menimpa. Segala pengetahuan dan ilmu yang kita warisi harus dipergunakan secara nyata dalam kehidupan, agar tidak hanya menjadi belenggu bagi diri sendiri untuk menjalani tindakan yang ingin kita lakukan. Banyak kecerobohan yang kita lakukan terhadap alam, dan sering juga kita menyalahgunakan pengetahuan yang kita miliki untuk memperkosa, menguasai, menaklukkan, mengendalikan, mengalahkan, serta menambang segala kekayaan yang dimiliki oleh alam.<span> </span>Sehingga tidak jarang terjadi bencana-bencana dan peristiwa-peristiwa yang merugikan kita, seperti<span> </span>misalnya menelan korban jiwa, harta, dan terutama kerusakan terhadap lingkungan tempat kita berpijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 54pt 0.0001pt 63pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">“Sebagai akibat dari konsepsi diri yang dibesar-besarkan itu, kita kemudian merasa berhak untuk menentukan tidak saja kapan harus melindungi dan menjaga kelangsungan hidup lingkungan untuk kita manfaatkan sendiri, tetapi juga kapan kita dapat mengorbankannya untuk mencapai kejayaan dan kebaikan yang lebih besar.”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Penyalahgunaan alam oleh manusia dinilai hampir mirip dengan pengertian dari istilah “cogito ergo sum” yang mendahulukan pikiran/nalar atas materi. Keyakinan Descartes bahwa kemampuan kita untuk berfikir (“saya berfikir maka saya ada”) membuat kita menjadi “istimewa” yang kemudian mendorong kepada pandangan bahwa “benda” yang berfikir (res cogitans, atau manusia) ditakdirkan untuk meguasai benda yang tidak berfikir (binatang, tumbuhan, dan cadas). Perlahan, kita kemudian meyakinkan diri kita sendiri bahwa manusia adalah memang sungguh-sungguh bentuk kehidupan yang paling tinggi: pusat dari jagad raya. Sebagai akibat dari konsepsi diri yang dibesar-besarkan itu, kita kemudian merasa berhak untuk menentukan tidak saja kapan harus melindungi dan menjaga kelangsungan hidup lingkungan untuk kita manfaatkan sendiri, tetapi juga kapan kita dapat mengorbankannya untuk mencapai kejayaan dan kebaikan yang lebih besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/fatso.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-47" src="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/fatso.jpg?w=204&#038;h=273" alt="" width="204" height="273" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Fatme, seorang petualang lintas pulau. Menetap di Kalimantan</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=19&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/mengapa-harus-ada-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0766a0cf8cb96299ea50f9e0f9a4b4a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">panta rhei filsafat ugm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/05/bencana.jpg?w=127" medium="image" />

		<media:content url="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/fatso.jpg?w=204" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bencana ?</title>
		<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/bencana/</link>
		<comments>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 05:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pantarhei filsafat ugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bencana berasal dari manusia]]></category>
		<category><![CDATA[bencana dan kebodohan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[buletin newsletter lingkungan jahe]]></category>
		<category><![CDATA[ekologi dan bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekologi sosial]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat modern]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[kerifan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[panta rhei filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com]]></category>
		<category><![CDATA[thomas satriya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[ Bencana ?

Oleh: Thomas Satria

Banjir, gunung meletus, tanah longsor adalah semua fenomena alam yang oleh kebudayaan masyarakat kita saat ini disebut sebagai bencana. Fenomena-fenomena alam tersebut dianggap merusak semua yang telah dibangun oleh manusia. “Bencana” meluluhlantahkan segala” keteraturan” yang telah dibangun oleh sebuah peradaban yang mungkin telah berdiri selama puluhan sampai mungkin ribuan tahun. “Kebaikan” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=17&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-size:16pt;"> Bencana ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-indent:36pt;"><strong>Oleh: Thomas Satria</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Banjir, gunung meletus, tanah longsor adalah semua fenomena alam yang oleh kebudayaan masyarakat kita saat ini disebut sebagai bencana. Fenomena-fenomena alam tersebut dianggap merusak semua yang telah dibangun oleh manusia. “Bencana” meluluhlantahkan segala” keteraturan” yang telah dibangun oleh sebuah peradaban yang mungkin telah berdiri selama puluhan sampai mungkin ribuan tahun. “Kebaikan” apa yang dapa kita lihat dari bencana? Jawaban yang muncul akan sangat beragam tergantung dari sudut pandang subyektif sang subyek penjawab. Namun yang pasti kats ‘bencana’ itu sendiri menyiratkan jawaban atas pertanyaan mengenai posisi manusia dalam kosmos. Pandangan dunia Antrophosentris Manusia merupakan pusat dalam kosmos.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Pada Awalnya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Kondisi alam dalam banyak kebudayaan menentukan maju tidaknya sebuah kebudayaan itu sendiri. Suatu bangsa yang memiliki, atau bisa dikatakan dikaruniai, kondidi alam yang kaya niscaya akan menciptakan sebuah peradaban yang maju pula.Bangsa Mesir dengan Sungai Nil-nya, bangsa Hindustan dengan sungai Gangga-nya, Bangsa Mesopotamia dengan sungai Tigris, dan banyak suku bangsa Indian, yang menciptakan sebuah peradaban yang lebih maju dibanding dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal arti kata kesuburan. Kondisi alam menjadi sebuah causa formal atas sebuah kebudayaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 63pt 0.0001pt 45pt;"><strong><span style="font-size:14pt;">“Keadaan harmonis semakin jauh. Manusia tak lagi dapat mengenal alam sebagaimana adanya. Manusia mulai memandang alam sebagai sumber daya dan terlepas dari jaring-jaring kosmos yang lebih besar, bahwa setiap tindakan memiliki akibat dalam keseluruhan realitas. Manusia mulai menciptakan keteraturan menurut ukurannya sendiri.”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Alam yang memberi kesempatan bagi manusia untuk mengembangkan dirinya membentuk pola pikir manusia yang akan memandang alam sebagai bagian integral dalam hakikat eksistensinya. Dalam banyak kearifan lokal akan banyak kita temui bahwa alam tidak hanya menjadi sebuah sumber daya yang sekadar untuk dimanfaatkan, akan tetapi alam dipandang sebagai sebuah kehidupan itu sendiri bahwa keberlangsungan dan kelestariannya merupakan keberlangsungan dan kelestarian itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/05/tornado.jpg"><img class="alignnone" src="http://www.cincinnatiredcross.org/Portals/0/images/EmergencyServices/Tornado%201%20picture.jpg" alt="" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Pada Perkembangannya </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Manusia tidak bisa lepas dari alam, dan alam tidak bisa dilepaskan dari manusia. Segala yang berkembang dalam kebudayaan manusia mempertimbangkan apa yang diakibatkan oleh alam. Mitos dan legenda digunakan untuk melindungi dan menjadi sarana pertimbangan bagi keberlangsungan harmoni yang telah tercipta. Namun, seiring perkembangan pengetahuan manusia, harmoni ini tidak bertahan lama dan mulai digantikan dengan pandangan dunia baru yang lebih berpusat pada manusia. Suatu sikap ketidakdewasaan yang tidak lagi mampu menerima alam sebagaimana adanya. Sistem-sistem yang telah tercipta tidak lagi mempertimbangkan bahkan tak sedikitpun memasukkan keharmonisan ini dalam pertimbangan-pertimbangannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Keadaan harmonis semakin jauh. Manusia tak lagi dapat mengenal alam sebagaimana adanya. Manusia mulai memandang alam sebagai sumber daya dan terlepas dari jaring-jaring kosmos yang lebih besar, bahwa setiap tindakan memiliki akibat dalam keseluruhan realitas. Manusia mulai menciptakan keteraturan menurut ukurannya sendiri. Alam menjadi ancaman bagi “keteraturan” yang telah diciptakan. Segala hal dilakukan untuk mencegah alam mengganggu “ keteraturan” yang telah manusia ciptakan. Alam menjadi ancaman dan bukan lagi teman bagi keberlangsungan keteratuiran keteraturan yang telah diciptakan. Kebudayaan baru yang tercipta kini bukanlah lagi untuk memahami tetapi untuk mengatasi dan menaklukan keteraturan akan “murka” alam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Kata “bencana” mulai dikenal. Kata yang muncul dari sebuah ketakutan akan ketidakdewasaan pola pikir yang tidak mampu mwlihat jarring-jaring yang lebih besar. <strong>Bencana bagi manusia</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/thomas.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-44" src="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/thomas.jpg?w=600&#038;h=450" alt="" width="600" height="450" /></a><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Thomas Satria</strong><strong>. Penulis adalah seorang rohaniawan yang sedang menempuh kuliah di fakultas filsafat ugm, menggemari musik dan memainkan gitar.<br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>artikel pernah dimuat dalam newsletter &#8220;jahe&#8221; edisi 2, Bencana</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=17&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0766a0cf8cb96299ea50f9e0f9a4b4a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">panta rhei filsafat ugm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.cincinnatiredcross.org/Portals/0/images/EmergencyServices/Tornado%201%20picture.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/thomas.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Keselarasan dalam konsep Kosmologi Jawa</title>
		<link>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/keselarasan-dalam-konsep-kosmologi-jawa/</link>
		<comments>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/keselarasan-dalam-konsep-kosmologi-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 05:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pantarhei filsafat ugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[antrophosentrisme]]></category>
		<category><![CDATA[buletin newsletter lingkungan jahe]]></category>
		<category><![CDATA[ekologi dan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[ekologi sosial]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[keselarasan dalam kosmologi jawa]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan dan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[mapajara panta rhei]]></category>
		<category><![CDATA[panta rhei filsafat ugm]]></category>
		<category><![CDATA[pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com]]></category>
		<category><![CDATA[ratna rahma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Keselarasan dalam konsep Kosmologi Jawa
Oleh: Ratna W. Rahma

Peradaban umat manusia selalu diwarnai oleh berbagai macam bencana. Tak terhitung betapa peradaban manusia telah musnah dan hancur oleh bencana penyakit, gempa bumi, banjir, gunung meletus, timbul tenggelamnya lempeng daratan, perubahan iklim yang mendadak, benturan oleh benda angkasa dari luar dan sebagainya. Berbagai upaya telah dilakukan manusia untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=18&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">Keselarasan dalam konsep Kosmologi Jawa</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:center;" align="center"><strong>Oleh: Ratna W. Rahma</strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent">
<p class="MsoBodyTextIndent">Peradaban umat manusia selalu diwarnai oleh berbagai macam bencana. Tak terhitung betapa peradaban manusia telah musnah dan hancur oleh bencana penyakit, gempa bumi, banjir, gunung meletus, timbul tenggelamnya lempeng daratan, perubahan iklim yang mendadak, benturan oleh benda angkasa dari luar dan sebagainya. Berbagai upaya telah dilakukan manusia untuk mencegah dan mengatasi berbagai macam bencana. Manusia prasejarah hingga manusia modern dengan berbagai pemahaman yang mereka punyai telah cukup lama bergulat untuk bertahan dalam ancaman bencana yang mengancam kelangsungan hidup mereka. Beberapa teori pun muncul seiring dengan berkembangnya pemahaman manusia sebagai sebuah upaya untuk memenuhi kebutuhan akan perlindungan dan rasa aman dari bencana.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0 72pt 0.0001pt 54pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">“Masyarakat Jawa sejak dari nenek moyangnya hingga saat ini justru telah mempunyai kesadaran dan tingkat pemahaman yang tinggi akan <em>kosmos</em>. <em>Kosmosentrisme spiritual</em> yang kini didengungkan manusia modern sebagai kritik dan alternatif terhadap paradigma <em>antroposentrisme sekuler</em> telah lama dimiliki masyarakat Jawa.”</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Dimulai dari timbulnya sebuah pertanyaaan, manusia mulai mempertanyakan mengapa harus terjadi bencana? Kemudian serangkaian pertanyaan pun muncul dalam benak mereka seiring dengan berkembangnya pemahaman mereka akan alam, Apakah manusia kelewat batas menuntut pada alam sehingga mencemari bumi dan mengakibatkan lingkungan hidup manusia menjadi buruk? Apakah manusia mengeksploitasi terlalu banyak air bawah tanah sehingga mengakibatkan permukaan bumi tenggelam? Apakah manusia menebang hutan secara berlebihan sehingga mengakibatkan erosi tanah? Mengapa oasis berubah menjadi gurun pasir? dan sebagainya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><img class="aligncenter" src="http://mycityblogging.com/yogyakarta/files/2007/08/labuhan-alit-2007.jpg" alt="" /></p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Tak dapat dipungkiri bahwa bersamaan dengan meningkatnya rasionalitas dan majunya teknologi manusia, ruang hidup manusia malah semakin menyusut, lingkungan ekologi terus memburuk dan telah mencapai pada tahap yang berbahaya. Proses ini berlaku seakan hukum alam yang berjalan tanpa disadari namun niscaya akan terjadi. Proses yang dijalani manusia membawa mereka menuju timbulnya kekacauan dan bencana.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">
<p class="MsoBodyTextIndent">Masyarakat Jawa sejak dari nenek moyangnya hingga saat ini justru telah mempunyai kesadaran dan tingkat pemahaman yang tinggi akan <em>kosmos</em>. <em>Kosmosentrisme spiritual</em> yang kini didengungkan manusia modern sebagai kritik dan alternatif terhadap paradigma <em>antroposentrisme sekuler</em> telah lama dimiliki masyarakat Jawa. Paham hidup mereka yang mengajarkan keseimbangam <em>mikrokosmos</em>, <em>makrokosmos</em> dan <em>metakosmos </em>menjadikan masyarakat Jawa sangat menjaga keseimbangan dan keteraturan. Bagi masyarakat Jawa yang lebih mengutamakan <em>logos</em> daripada <em>chaos</em>, manusia dan alam merupakan lingkup kehidupan yang tak terpisahkan dalam dunia orang Jawa. Manusia mula-mula hidup dalam lingkup kecil masyarakat. Kemudian melalui masyarakat ia bersinggungan dengan alam, memahami irama-irama dan denyut nadi kehidupan melalui peristiwa alam, terjadinya siang-malam, musim hujan dan musim kering, sekaligus manusia belajar bahwa alam bisa mengancam sekaligus memberikan berkah tak ternilai bagi kehidupan manusia. Eksistensi manusia sangat tergantung kepada alam sehingga manusia mempunyai kewajiban untuk menempatkan diri dalam keselarasan <em>kosmos </em>jika menginginkan keselarasan dan mencapai kesejatian.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0 63pt 0.0001pt 45pt;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">“Jika ditarik dalam suatu kesimpulan, masyarakat Jawa sejak dahulu telah memiliki kesadaran bahwasanya manusia sebagai jagad kecil dari keseluruhan kehidupan dan kekuatan tertinggi, hendaknya menghayati posisinya dalam kosmos.”</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Denyut nadi alam sedemikian rupa dihayati dan diselami sehingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan nada irama kehidupanya sebagai bagian kecil dari alam. Selanjutnya, alam semesta atau <em>makrokosmos </em>yang terungkap dalam indera manusia dipahami sebagai cerminan dari alam ghaib atau <em>metakosmos</em>, suatu sumber kekuatan tertinggi dimana manusia menggantungkan eksistensinya. <em>Kosmos</em>, atau keseluruhan kehidupan merupakan suatu kesatuan dimana setiap gejala, baik itu yang material maupun spiritual mencerminkan “makna” melebihi apa yang nampak dalam inderawi.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Jika ditarik dalam suatu kesimpulan, masyarakat Jawa sejak dahulu telah memiliki kesadaran bahwasanya manusia sebagai jagad kecil dari keseluruhan kehidupan dan kekuatan tertinggi, hendaknya menghayati posisinya dalam kosmos. Manusia harusnya menempatkan diri dan menjalankan peran yang tepat dalam posisinya dalam kehidupan. Ini berarti manusia tidak boleh melakukan sesuatu di luar batas apa yang seharusnya tepat baginya, karena jika manusia berbuat di luar batas dan menentang keteretauran alam maka keseimbangan tidak akan tercapai, terjadilah kekacauan dan kebinasaan alam semesta. Manusia hendaknya sadar akan posisinya di dunia ini, kehidupan dan kelangsungannya tak lebih merupakan berkah dari sang maha kuasa atau <em>gusti</em> sebagai sumber eksistensi manusia.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">
<p class="MsoBodyTextIndent"><a href="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/nana.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-45" src="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/nana.jpg?w=200&#038;h=150" alt="" width="200" height="150" /></a></p>
<p class="MsoBodyTextIndent">nana panggilannya. sedang menempuh S2 di Fakultas Psikologi UGM</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com&blog=3745778&post=18&subd=pantarhei1filsafat1ugm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/keselarasan-dalam-konsep-kosmologi-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e0766a0cf8cb96299ea50f9e0f9a4b4a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">panta rhei filsafat ugm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mycityblogging.com/yogyakarta/files/2007/08/labuhan-alit-2007.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://pantarhei1filsafat1ugm.files.wordpress.com/2008/06/nana.jpg?w=200" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>