Berebut Ruang, Berebut Makan dengan “Yang Lain”

Oleh: Ginanjar (togin) Dimas Agung

Sepenggal cerita jejak manusia

Bumi, sampai saat ini menjadi suatu momok citra keindahan hidup dalam batas pengetahuan dan imajinasi manusia. Melalui serangkaian proses panjang serta lama, mulai dari makhluk hidup bersel tunggal sampai pada suatu bentuk organisme yang berkembang menjadi tetumbuhan, hewan dan manusia, menjadikan bumi tempat yang nyaman untuk kita tinggali bersama.

Tempat yang nyaman ini memberikan peluang bagi hewan dan tumbuhan berkembang menjadi berbagai macam jenis dan varietas yang beradaptasi dengan lingkungan. Interaksi yang terjalin antara makhluk hidup dengan lingkungan ini membuat selubung biosfer memunginkan untuk ditinggali oleh kita, manusia. Begitupun yang terjadi dengan manusia, sejauh pengetahuan muncul dari kesadaran dirinya terhadap dunia luar (baca:lingkungan) serta pembedaan antara manusia dengan hewan dan tumbuhan (baca: yang lain), jejak-jejak peradaban manusia yang berkembang membuka tirai keterbatasan manusia terhadap ancaman alam.

Berbagai bentuk kebudayaan berkembang, ditandai dengan tingkat teknologi, membuat manusia merasa terbebas dari keterbatasan dan ketergantungannya terhadap alam. Bentuk-bentuk kebudayaan menciptakan kemapanan dan “kenyamanan” bagi manusia. Berkat kebudayaan dan teknologinya pula, manusia seakan-akan membalas dendam terhadap sesuatu yang pernah mengancamnya dulu. Keberhasilan teknologi dalam bidang kesehatan membuat populasi manusia di bumi meningkat dengan tajam. Untuk memenuhi rasa “kemapanan” dan “kenyamanan”-nya teknologi ditingkatkan semakin canggih dan massif. Berbagai alat industri pun bermunculan dengan membawa sebuah pesan. “Hei, aku akan mengeksploitasimu dan sebagai imbalannya akan kuberikan secara cuma-cuma sepaket polutan di darat, air dan tanah”

Berebut ruang, berebut makan dengan “yang lain”

Sejatinya, setiap organisme bersimbiosis mutualisme sehingga rantai makanan tidak akan pernah habis untuk mencukupi kehidupan yang ada di Bumi ini. Manusia dengan lingkungannya, hidup dan menempati selubung biosfir Bumi yang secara nyata adalah ruang terbatas. Tetapi manusia di bumi ini berhasil menguasai ruang; mengubah bentuk dan selera, yang mengakibatkan makhluk hidup “yang lain” tersingkir atau hilang.

Perubahan ruang secara tiba-tiba membawa dampak kepunahan bagi makhluk hidup yang hanya dibekali kemampuan berevolusi. Faktor lain yang turut memberikan sumbangan bagi kepunahan “yang lain” adalah pemenuhan kebutuhan konsumsi manusia—yang menempati posisi teratas dalam piramida makanan. Misalnya, terhadap khasiat-khasiat manjur jika kita memakan organ-organ tertentu dari badak, hiu dan paus. Karena hewan yang diburu atas selera konsumsi manusia ini mempunyai masa hidup dan lahir (reproduksi) yang panjang maka keberadaannya terancam. Belum lagi permasalahan tentang Global Warming yang secara nyata mempengaruhi iklim bumi, ikut menimbulkan pengaruh langsung terhadap kehidupan manusia dan “yang lain”. Keterancaman atau punahnya beberapa jenis hewan di daerah tertentu bukan hanya sekedar: “Nanti anak cucu kita tidak mengenal lagi harimau, paus dan badak”. Melainkan menimbulkan efek berantai dengan yang lainnya secara tidak langsung.

“Kesatuan kehidupan di dunia ini

saling terhubung satu sama lain

dengan prinsip simbiosis mutualisme”

Kepunahan: hal yang alamiah atau suatu kesengajaan manusia?

Sejatinya, kepunahan adalah sesuatu yang alamiah setelah melewati proses evolusi alam, baik itu perubahan bentuk lingkungan atau suhu udara. Hal ini berlangsung dengan tujuan mempertahankan diri terhadap situasi dan kondisi—survivalitas secara keseluruhan—lingkungan yang berubah karena proses kreatif alam untuk menjaga keberlangsungan kehidupan didalamnya. Tetapi, perkembangan kebudayaan manusia yang cepat mengakibatkan kepunahan yang semakin cepat pula.

Perubahan suhu udara dalm bentuk yang tidak alamiah dan berlangsung secara cepat, ekstrem, membuat sebagian besar jenis binatang dan tumbuhan tidak dapat beradaptasi. Misalnya, berubahnya hutan yang terbentuk selama ratusan tahun menjadi lahan-lahan tandus nan kering atau menjadi kompleks perumahan elit mengakibatkan terancamnya berbagai jenis makhluk hidup.

membuat sop lumba-lumba

Mengapa butuh “yang lain”?

Berbagai upaya dilakukan untuk tetap melestarikan keberadaan hewan-hewan di di dalam habitat aslinya. Hal ini dilakukan karena “yang lain” secara keseluruhan adalah sama pentingnya dengan kehidupan manusia di dunia. Kesatuan kehidupan di dunia ini saling terhubung satu sama lain dengan prinsip simbiosis mutualisme, yang terlihat dan termaktub dalam hukum rantai makanan–yang sejatinya adalah perputaran energi.

Semakin Banyak Hewan dan Tumbuhan Yang Akan Menghilang

Sekitar 14.000 hewan dan tumbuhan pada tahun 2007 masuk dalam daftar “merah” Serikat Konservasi Dunia (IUCN-World Concervation Union). Jumlah ini tidak berbeda jauh pada tahun sebelumnya. Spesies yang masuk dalam kategori terancam atau “daftar merah” ditentukan berdasarkan perhitngan jumlah dan populasi di suatu tempat pada waktu tertentu. Penentuan kelangkaan hewan ini melalui beberapa kategori dan kriteria yang ditetapkan dalam kategori Redlist Version 3.1 tahun 2000 dengan tingkatan sebagai berikut:

EXTINCT (EX)

Kategori untuk spesies yang dapat dipastikan tidak ada lagi individunya yang masih hidup.

EXTINCT IN THE WILD (EW)

Berlaku untuk spesies yang tidak dapat diketemu-kan lagi di habitat/lingkungan aslinya. Keberadaan hidupnya berada di wilayah aslinya, dengan tujuan pengembangbiakkan.

Survey ini dilakukan di wilayah asli spesies ter-sebut dalam jangka waktu tertentu (harian, musiman atau tahunan) dan tidak menemukan keberadaan spesies di wilayah aslinya

CRITICALLY ENDANGERD (CR)

Kategori ditujukan kepada spesies yang mengha-dapi resiko tinggi menuju kepunahan dalam wak-tu dekat

ENDANGERED (EN)

Kategori ini untuk spesies yang tidak termasuk CR tetapi menghadapi resiko kepunahan di alam liar dalam waktu yang agak dekat (rentang waktunya lebih lama dari CR)

VULNERABLE (VU)

Kategori untuk spesies tidak termasuk EN yang sedang menghadapi risiko punah di alam liar dalam jangka waktu menengah.

NEAR TREATHENED (NT)

Kategori yang tidak termasuk VU tetapi beresiko terancam punah dalam jangka panjang

LEAST CONCERN (LC)

Kategori spesies yang tidak termasuk dalam CR, EN, VU dan LC. Keberadaannya masih tersebar dalam wilayah tertentu.

DATA DEFICIENT (DD)

Kategori ini ditujukan untuk spesies yang kurang informasinya, baik dari segi jumlah dan perseba-rannya.

NOT EVALUATED (NE)

Kategori ini ditujukan untuk spesies yang belum dievaluasi.

Menyelamatkan: setali tiga uang

Penting bagi kita untuk mempertahankan keberadaan hewan liar di habitat aslinya. Organisasi konservasi dunia pun telah memikirkan berbagai peluang dan langkah-langkah penyelamatan. Disamping perekomendasian terhadap negara-negara di dunia mengenai Undang-Undang tentang Perdagangan Hewan-Tanaman Langka, upaya penggalangan dana untuk melestarikan turut dilakukan.

Strategi lain yang cukup jitu dengan memperkenalkan tokoh kunci, ikon, dari spesies yang menjadi primadona di wilayah atau negara tertentu. Dengan menampilkan ikon spesies yang familiar di mata masyarakat, turut memberi andil pemasukan sumbangan yang diterima lembaga atau organisasi yang bergerak dalam bidang konservasi. Misal, dimunculkannya Orang Utan sebagai ikon yang merupakan satwa khas dan langka dari Indonesia di pulau Kalimantan. Karena bentuknya yang lucu dan imoet, dapat menggugah masyarakat untuk membantu penyelamatan keberadaannya. Tentu bentuk bantuan yang paling praktis adalah menzakatkan sebagian harta kita (donasi) untuk disumbangkan.

Tampilnya Orang Utan kemuka umum bukannya menyepelekan spesies yang lain, dana yang terkumpul juga digunakan untuk menyelamatkan yang lain, semacam subsidi silang. Untuk menyelamatkan Orang Utan tidak bisa terlepas dengan menyelamatkan habitat aslinya, hutan. Dengan menyelamatkan Orang Utan, berarti menyelamatkan kehidupan di sekitarnya dan menyelamatkan hutan sebagai tempat tinggal bersama.

Pemilihan spesies (kunci/ikon) tidak semata-mata berdasarkan bentuk dan rupanya yang imoet¸ faktor lain yang mendukung adalah seberapa pentingnya spesies tersebut (yang dijadikan ikon) dalam suatu wilayah habitatnya.

Artikel dimuat dalam newsletter jahe, edisi V/April/2008

Tema Flora, Fauna, Manusia. Newsletter jahe diterbitkan oleh Mahasiwsa Pecinta Jagad Raya (MAPAJARA) Panta Rhei Fakultas Filsafat UGM.
Penulis akarab disapa togin, adalah anggota MAPAJARA Panta Rhei Fak. Filsafat UGM

Iklan