makan pecel kura-kura

Oleh: Rifki

Lingkungan Hidup (eko-logi) dalam dekade tera-khir menjadi isu penting yang selalu diper-bincangkan dalam setiap gerak pembangunan, regional maupun internasional. Dunia Internasional mulai memberitakan perhatian terhadap masalah-masalah lingkungan hidup dalam konferensi PBB di Stockholm Swedia tahun 1972. Sementara dalam wilayah regional sejak tahun 1978 ASEAN telah melakukan pertemuan ahli-ahli lingkungan.

Dalam konferensi pembangunan dan lingku-ngan Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Jeneiro-Brazil tahun 1992 telah dihasilkan berbagai komitmen internasional di bidang lingkungan hidup. Salah satu komit-mennya termuat dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati (United Nations Convention in Biological Diversity) yang kemudian oleh Indonesia diratifikasi menjadi Undang-undang No. 5 tahun 1994. Konvensi ter-sebut secara garis besar disusun dalam rangka meningkatkan upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan pemanfaatan setiap unsurnya secara ber-kelanjutan serta peningkatan kerjasama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk ke-pentingan generasi sekarang dan yang akan datang.

Mereka (tak) sedang Baik-baik saja

Berdasarkan Kamus Dewan, flora diartikan sebagai keseluruhan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di sesuatu daerah atau pada sesuatu masa. Sedangkan yang dimaksud dengan fauna adalah seluruh binatang yang hidup di sesuatu daerah tertentu. Flora dan Fauna di Indonesia kian terdesak dari posisinya. Banyak kajian menunjukkan bahwa faktor yang menjadi penyebab kepunahan flora dan fauna tidak lain adalah manusia. Bukan keberadaan manusia yang mengganggu mereka, namun beragam aktifitas yang dilakukan manusia menjadi penyebab kepunahan satwa. Misalnya pembakaran hutan, yang secara terbuka seperti berlaku di Kalimantan dan Sumatera. Ia akan menyebabkan spesies-spesies yang ada dikawasan tersebut terancam musnah. Disamping itu pembukaan tanah baru, seperti pembukaan kawasan pertanian, turut memusnahkan spesies tumbuh-tumbuhan.

Aktifitas lain manusia yang juga jelas-jelas membuahkan hasil kepunahan satwa adalah perburuan liar. Pemburuan secara liar yang sangat leluasa di hutan-hutan Indonesia merupakan satu faktor yang menjurus kepada kemusnahan habitat dan spesies hewan tertentu. Mereka mengeksploitasi binatang dan mengaut keuntungan yang banyak. Permintaan yang tinggi dari pasar turut mendukung kegiatan perburuan. Kini, gajah menjadi salah satu spesies yang terancam karena perburuan terhadapnya untuk memenuhi permintaan yang tinggi atas gading gajah.

Teknologi manusia, pada sisi yang lain, ikut menjadi salah satu faktor kepunahan satwa. Banyaknya industri yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan hidup akhirnya memproduksi polutan dalam kapasitas yang besar dan ditelantarkan begitu saja di alam bebas. Tidak terelakkan lagi kalau hal ini jua yang menyebabkan peningkatan suhu dunia. Faktor perubahan iklim ini bukanlah perkara baru dalam kepunahan flora dan fauna. Dalam catatan sejarah, faktor kepunahan binatang prasejarah seperti ‘dinasaourus’ juga disebabkan perubahan cuaca dunia. Kehidupan ikan seperti lumba-luma dan paus pembunuh (killer weil) semakin pupus disebabkan pencemaran air, terutama oleh tumpahan minyak dilaut dan kegiatan manusia yang suka mengotorkan laut.

“Banyaknya industri yang tidak memperhatikan
kaidah-kaidah lingkungan hidup akhirnya memproduksi polutan dalam kapasitas yang besar dan ditelantarkan begitu saja di alam bebas.”

Laporan terbaru para ahli dalam IPCC (International Panel on Climate Change) bulan April 2007 telah disebutkan bahwa dampak, kerentanan, dan adaptasi akibat perubahan iklim telah menyebabkan sekitar 20 hingga 30 persen tumbuhan dan hewan akan meningkat risiko kepunahannya jika kenaikan temperatur global rata-rata di atas 1,5 – 2,5 derajat celcius.Padahal, kepulauan Indonesia
saat ini memiliki 14.000 unit terumbu karang dengan luasan total sekitar 85.700 km atau sekitar 14 persen dari terumbu karang dunia. Kenaikan suhu air laut sebesar 2 hingga 3 persen akan menyebabkan kematian alga yang merupakan sumber pakan terumbu karang.

Lebih lanjut, gejala ini dapat menyebabkan punahnya kekayaan terumbu karang dan beberapa jenis ikan karang yang bernilai tinggi seperti ikan kerapu macan, kerapu sunu dan napoleon. Perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya migrasi ikan ke daerah yang lebih dingin. Kondisi ini membuat hilangnya beberapa jenis ikan dari perairan Indonesia.

Menjenguk Sekitar

Yogyakarta termasuk salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki aneka hewan dan tetumbuhan. Kawasan Merapi merupakan benteng terakhir flora endemik jawa. Di kawasan ini terdapat 52 jenis anggrek dan beberapa jenis diantaranya terancam punah. Misalnya anggrek pandan (vanda tricolor) dan anggrek kantung semar (paphiopedilum javanicum). Juga ada tumbuhan berbunga yang menyediakan makanan bagi satwa liar seperti cakra geni (rhododendron javanicum) dan dadap duri (erythrina lithosperma), atau buah arbei hutan (rubus) yang disukai burung dan runjung pinus yang dimakan tupai dan betet. Terdapat pula tidak kurang dari kurang 32 jenis tumbuhan hutan untuk keperluan pengobatan. Batang pohon kina (cinchona succirubra) telah lama dapat mengobati malaria. Di lerengnya tumbuh sekitar 73 jenis tumbuhan paku, diantaranya paku sarang burung (asplenium nidus) dan suplir (adiantum spp.).

Sekarang ini kita melihat banyak masyarakat sedang mengalami demam tanaman hias, di antara-nya adenium, anthurium, aglaonema, dengan harga yang sangat fantastis. Mulai dari ratusan ribu sampai ratusan juta rupiah. Dimana-mana masyarakat membicarakan tanaman hias, dari arisan ibu-ibu sampai perkantoran. Sementara itu, hewan yang menjadi peliharaan penduduk Yogyakarta terdiri dari sapi, kerbau, kambing, ayam, dan ada juga yang memelihara kuda. Di wilayah lereng Merapi penduduk banyak memelihara sapi perah. Jenis ayam yang dibudidayakan secara masal yaitu ayam petelur dan ayam pedaging. Di pedesaan banyak pula dipelihara itik maupun angsa.

Tidak kurang 15 jenis kupu-kupu, lebah hutan, laba-laba, belalang, dapat dijumpai dikawasan sepanjang gunung Merapi sampai pegunungan selatan. Kelelawar banyak terdapat di gua-gua kawasan karst gunung sewu, diantaranya, hipposideros sp, rhinolophis sp, roisttus sp. Yang bernilai ekonomi tinggi adalah walet sarang putih (collocalia fuciphaga), yang banyak terdapat di tebing-tebing pantai Rongkop dan Panggang.

Beberapa burung yang ada di gunung Merapi diantaranya, Elang Jawa (spizaetus bartelsi), elang ular bido (spilomis cheela bido), elang hitam (ictinaetus malayensis), cekakak jawa (halcyon cyanoventris), kipasan merah (rhipidura phoenicura), walet gunung (aerodramus volcanorum). Juga terdapat berbagai jenis ular, landak, dan kijang.

“Amat disayangkan kalau beragam satwa yang dimiliki Yogyakarta atau Indonesia secara umum harus undur diri dari ruang dunia. Kita sudah melihat, dampak yang terjadi akibat perubahan iklim menyebabkan laju kemerosotan keanekaragaman hayati semakin parah.”

Sepanjang laut selatan Yogyakarta kaya akan ikan, tidak kurang 30 jenis ikan dan 10 jenis crustacea ditemukan disana. Penduduk Trisik Kulonprogo biasa menangkap ikan beloso (glossogebius giuris), sidat (anguilla spp.), dan nener bandeng (chanos chanos). Jenis udang yang ditemui seperti jingking (ocypode spp.), udang galah (macrobranchium spp.), udang windu (penaeus monodon), serta udang rebon (penaeus spp.). Daerah Wediombo, Gunungkidul menjadi tempat bertelur penyu hijau (chelonia mydas), penyu belimbing (dermochelys coreacea), dan penyu sisik (eretmochelys imbricata).Amat disayangkan kalau beragam satwa yang miliki Yogyakarta atau Indonesia secara umum harus undur diri dari ruang dunia. Kita sudah melihat, dampak yang terjadi akibat perubahan iklim menyebabkan laju kemerosotan keanekaragaman hayati semakin parah. Untuk itu perlu upaya perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati guna mendukung kehidupan puspa dan satwa di Indonesia.

Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk jejaring kawasan perlindungan darat, air dan laut yang mempertimbangkan proyeksi perubahan iklim, konservasi secara in-situ dan ex-situ terhadap sumberdaya genetik ternak dan tanaman pertanian. Informasi tentang prediksi cuaca dan perubahan iklim yang terkait dengan dampak perubahan iklim, khususnya terhadap keanekaragaman hayati hendaknya cepat kita sikapi.

Artikel dimuat dalam newsletter jahe, edisi V/April/2008.Tema Flora, Fauna, Manusia. Newsletter jahe diterbitkan oleh Mahasiwsa Pecinta Jagad Raya (MAPAJARA) Panta Rhei Fakultas Filsafat UGM.

Penulis adalah anggota MAPAJARA Panta Rhei Fak. Filsafat UGm

Iklan