Bencana: Alam atau Manusia?

Oleh: Putra

Sejarah kehidupan menorehkan banyaknya kontradiksi umat manusia dengan alam. Letusan gunung berapi yang memuntahkan lahar, gelombang pasang air laut yang menghantam daratan, hingga pergerakan lempengan bumi yang menggempakan, kesemua gejala tersebut kerap mengancam manusia dalam eksistensinya.

Naluri manusia menuntut kehidupan yang aman, tentram, dan damai. Ketika ada sesuatu yang mengganggu kenyamanan hidup segera itu dianggap bahaya, dalam tahap ekstrem disebut bencana. Sebagai responnya naluri memberi dua alternatif pilihan tindakan: menghindari atau mengatasi. Di titik inilah pikiran manusia bekerja, demi pemenuhan naluri nalar pun dieksplorasi.

Pertanyaan yang perlu diajukkan adalah sudah benarkah nalar kita dalam memutuskan tindakan terhadap gejala alam tersebut? Tidakkah kita terperangkap oleh naluri egoistik manusia?

“SESUATU YANG MENIMBULKAN BAHAYA TERHADAP LINGKUNGAN KEHIDUPAN-lah

yang layak disebut bencana alam.”

Bencana Alam merupakan ungkapan yang tersusun atas dua penggal kata, bencana dan alam. Merunut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Balai Pustaka, bencana berarti sesuatu yang dapat menimbulkan kesusahan, kerugian, penderitaan, kecelakaan, dan bahaya. Sementara alam berarti lingkungan kehidupan.

Kesimpulan logis makna frase ‘bencana alam’ adalah sesuatu yang menimbulkan bahaya terhadap lingkungan kehidupan. Beranjak dari sini dapat kita lihat substansi bencana alam yang sesungguhnya. Sesuatu yang menimbulkan bahaya terhadap lingkunganlah yang layak disebut bencana alam.

Ironsinya, gajah dipelupuk mata tak nampak-kuman diseberang lautan terlihat. Gejala yang sering kita anggap bencana alam tidaklah sungguh-sungguh merusak lingkungan kehidupan. Secara kodrati alam memiliki kemampuan memperbaiki diri sendiri. Gempa bumi, tsunami dan letusan gunung berapi merupakan salah tiga (bukan hanya satu) cara alam memperbaharu dirinya itu.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa ancaman yang dibawanya untuk kehidupan manusia. Begitu pun harus diinggat bahwa alam tidak sedang merusak diri sendiri. Lahar dan lava membawa unsur vulkanik penyubur tanah, gelombang tsunami yang mengubah garis pantai meregenerasi sub-ekosistem lautan, gempa mengganti lempengan inti bumi yang rapuh dengan yang lebih kokoh.

“Bolongnya lapisan atmosfer bumi, pemanasan global, penggundulan hutan, longsor, penebangan liar, pengeboran berlebihan, penumpukkan sampah, menjadi bencana sesungguhnya yang tak terlihat mata”

Kesemuanya adalah natural phenomenon, setara dengan wanita hamil yang tengah melahirkan. Hanya karena ancaman yang disertakanlah manusia mendiskriminasinya menjadi bencana yang menakutkan, membahayakan dan lalu mesti ditaklukkan.

Berbicara mengenai kerusakan lingkungan lihatlah gajah di pelupuk mata. Siapakah subjek perusak sebenarnya? Asap kendaraan bermotor, serakan sampah, merupakan bencana sehari-hari yang kita lupakan. Seolah telah menjadi gejala biasa.

Padahal kesemuanya sangat berpotensi merusak, menghancurkan, sampai memusnahkan lingkungan kehidupan. Bolongnya lapisan atmosfer bumi, pemanasan global, penggundulan hutan, longsor, penebangan liar, pengeboran berlebihan, penumpukkan sampah, menjadi bencana sesungguhnya yang tak terlihat mata.

Kita—manusia—menjadi buta akan bencana yang dibuat sendiri dan justru.selalu rebut masalah ‘bencana alam’. Manusia jadi bermusuhan dengan alam, terlepas dari kesatuan hakikat alam dan manusia. Manusia merupakan bagian dari alam yang tak terpisahkan, manusia adalah alam itu sendiri.

Di bagian akhir, kembali ke pertanyaan awal, penulis hanya mampu menjawab: yang tersisa sesungguhnya adalah bencana manusia….[]

-putra, 110506- di pagi hari yang penuh bencana

penulis adalah anggota MAPAJARA Panta Rhei yang sedang giat dalam menyelesaikan kuliahnya di dua universitas sekaligus.

artikel pernah dimuat dalam newsletter “jahe” edisi 2, Bencana

Iklan