Bencana ?

Oleh: Thomas Satria

Banjir, gunung meletus, tanah longsor adalah semua fenomena alam yang oleh kebudayaan masyarakat kita saat ini disebut sebagai bencana. Fenomena-fenomena alam tersebut dianggap merusak semua yang telah dibangun oleh manusia. “Bencana” meluluhlantahkan segala” keteraturan” yang telah dibangun oleh sebuah peradaban yang mungkin telah berdiri selama puluhan sampai mungkin ribuan tahun. “Kebaikan” apa yang dapa kita lihat dari bencana? Jawaban yang muncul akan sangat beragam tergantung dari sudut pandang subyektif sang subyek penjawab. Namun yang pasti kats ‘bencana’ itu sendiri menyiratkan jawaban atas pertanyaan mengenai posisi manusia dalam kosmos. Pandangan dunia Antrophosentris Manusia merupakan pusat dalam kosmos.

Pada Awalnya

Kondisi alam dalam banyak kebudayaan menentukan maju tidaknya sebuah kebudayaan itu sendiri. Suatu bangsa yang memiliki, atau bisa dikatakan dikaruniai, kondidi alam yang kaya niscaya akan menciptakan sebuah peradaban yang maju pula.Bangsa Mesir dengan Sungai Nil-nya, bangsa Hindustan dengan sungai Gangga-nya, Bangsa Mesopotamia dengan sungai Tigris, dan banyak suku bangsa Indian, yang menciptakan sebuah peradaban yang lebih maju dibanding dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal arti kata kesuburan. Kondisi alam menjadi sebuah causa formal atas sebuah kebudayaan.

“Keadaan harmonis semakin jauh. Manusia tak lagi dapat mengenal alam sebagaimana adanya. Manusia mulai memandang alam sebagai sumber daya dan terlepas dari jaring-jaring kosmos yang lebih besar, bahwa setiap tindakan memiliki akibat dalam keseluruhan realitas. Manusia mulai menciptakan keteraturan menurut ukurannya sendiri.”

Alam yang memberi kesempatan bagi manusia untuk mengembangkan dirinya membentuk pola pikir manusia yang akan memandang alam sebagai bagian integral dalam hakikat eksistensinya. Dalam banyak kearifan lokal akan banyak kita temui bahwa alam tidak hanya menjadi sebuah sumber daya yang sekadar untuk dimanfaatkan, akan tetapi alam dipandang sebagai sebuah kehidupan itu sendiri bahwa keberlangsungan dan kelestariannya merupakan keberlangsungan dan kelestarian itu sendiri.

Pada Perkembangannya

Manusia tidak bisa lepas dari alam, dan alam tidak bisa dilepaskan dari manusia. Segala yang berkembang dalam kebudayaan manusia mempertimbangkan apa yang diakibatkan oleh alam. Mitos dan legenda digunakan untuk melindungi dan menjadi sarana pertimbangan bagi keberlangsungan harmoni yang telah tercipta. Namun, seiring perkembangan pengetahuan manusia, harmoni ini tidak bertahan lama dan mulai digantikan dengan pandangan dunia baru yang lebih berpusat pada manusia. Suatu sikap ketidakdewasaan yang tidak lagi mampu menerima alam sebagaimana adanya. Sistem-sistem yang telah tercipta tidak lagi mempertimbangkan bahkan tak sedikitpun memasukkan keharmonisan ini dalam pertimbangan-pertimbangannya.

Keadaan harmonis semakin jauh. Manusia tak lagi dapat mengenal alam sebagaimana adanya. Manusia mulai memandang alam sebagai sumber daya dan terlepas dari jaring-jaring kosmos yang lebih besar, bahwa setiap tindakan memiliki akibat dalam keseluruhan realitas. Manusia mulai menciptakan keteraturan menurut ukurannya sendiri. Alam menjadi ancaman bagi “keteraturan” yang telah diciptakan. Segala hal dilakukan untuk mencegah alam mengganggu “ keteraturan” yang telah manusia ciptakan. Alam menjadi ancaman dan bukan lagi teman bagi keberlangsungan keteratuiran keteraturan yang telah diciptakan. Kebudayaan baru yang tercipta kini bukanlah lagi untuk memahami tetapi untuk mengatasi dan menaklukan keteraturan akan “murka” alam.

Kata “bencana” mulai dikenal. Kata yang muncul dari sebuah ketakutan akan ketidakdewasaan pola pikir yang tidak mampu mwlihat jarring-jaring yang lebih besar. Bencana bagi manusia

Thomas Satria. Penulis  yang sedang menempuh kuliah di fakultas filsafat ugm, menggemari musik dan memainkan gitar.

artikel pernah dimuat dalam newsletter “jahe” edisi 2, Bencana

Iklan