Mengapa harus ada bencana?

Oleh: FaTme’

Bencana alam sedang meraja di dunia, khususnya di bumi Indonesia : gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, badai dan topan. Fenomena alam yang telah merenggut beribu-ribu korban meninggal dan juga menderita terjadi sungguh tak dapat diterka dan seringkali di luar logika kita. Tidak ada seorang pun yang berharap bencana-bencana dahsyat seperti ini akan terulang, hanya marilah kita coba cermati kejadian-kejadian akibat tangan manusia yang secara nyata telah menyebabkan atau bibit bencana di masa datang.

“Fakta bahwa Indonesia sebagai salah satu negara produsen oksigen di dunia tidak dapat diingkari sebelumnya, hanya saat ini pembabatan hutan, pengerukan bukit atau gunung serta pasir telah menjadi kenyataan yang terjadi. Pembangunan kantor-kantor dan hotel-hotel berbintang, serta pabrik-pabrik tanpa sadar secara rutin menyedot air artesis dengan volume ribuan m3 setiap harinya”

Ozon sudah bolong semakin besar sehingga dirasakan temperatur di muka bumi semakin hari semakin panas kemungkinan umat manusia musnah terpanggang panas belum menjadi pembicaraan hanya suatu hari panas ini akan mencairkan es-es yang berada di kutub bumi telah diprediksi, mau kemana larinya umat manusia?.

Fakta bahwa Indonesia sebagai salah satu negara produsen oksigen di dunia tidak dapat diingkari sebelumnya, hanya saat ini pembabatan hutan, pengerukan bukit atau gunung serta pasir telah menjadi kenyataan yang terjadi. Pembangunan kantor-kantor dan hotel-hotel berbintang, serta pabrik-pabrik tanpa sadar secara rutin menyedot air artesis dengan volume ribuan M3 setiap harinya. Pertanyaan sederhananya: apakah hanya akan menyebabkan abrasi air laut masuk ke bawah daratan saja lebih jauh atau menyebabkan sebuah rongga besar pada sebuah kota sehingga pada saat yang tepat akan longsor atau rubuh sebuah kawasan masuk k edalam bumi ketika tanah penyangganya sudah tidak kuat menahan karena air di bawahnya sudah kosong. Banjir yang datang setiap tahun dan sekarang semakin rutin dan bertubi-tubi sebenarnya adalah sebuah rahmat dan tanda-tanda alam yang harus segera dikelola secara baik untuk menutupi kekurangan pada alam di sekitar banjir tersebut. Jika banjir dipersepsikan sebagai bencana maka yang dipikirkan dan dilakukan adalah bagaimana membuang air itu segera ke laut dan mengungsikan penduduk keluar daerah banjir setelah dilakukan proses manajemen bencana dan sebelumnya disiapkan proses persiapan dan mitigasi.

Kondisi penggundulan hutan sudah pasti bukan hanya menyebabkan banjir saja!. Yang pasti produksi oksigen berkurang dan kemampuan menyerap air bagi tanah sehingga berkurangnya cadangan air berkurang sudah terjadi. Yang perlu diteliti adalah seberapa besar pengaruh penggundulan hutan terhadap berubahnya cuaca serta terbentuknya badai serta ketahanan daratan terhadap badai dari lautan serta kecepatan dan frekuensi juga menyebarnya kebakaran Hutan?. Di Indonesia sekarang ini makin sering terdengar angin topan dan badai begitu juga di belahan dunia lainnya. Sekarang sudah semakin nyata bahwa umat manusia perlu mengantisipasi atau lebih tepat mengelola perubahan iklim yang terjadi di dunia ini.

Mari kita juga berpikir tentang ancaman lainnya, Siapa yang dapat menjamin bahwa senjata-senjata nuklir yang disimpan di gudangnya itu akan aman selamanya. Uni Suviet sebuah contoh nyata ketika sebuah negara dengan peralatan senjata yang sangat canggih tiba-tiba rubuh, pertanyaannya di tangan siapa senjata-senjata itu berada? Amankah umat manusia dari ancaman senjata-senjata itu? apa dampaknya ketika senjata-senjata itu jatuh kepada petualang-petualang?. Kemudian bagi negara-negara lainnya yang menyimpan senjata-senjata pemusnah massal itu, juga muncul pertanyaan apakah senjata-senjata tetap aman ketika terjadi Gempa bumi yang sangat dahsyat atau angin topan yang sangat luar biasa kuatnya? Disedotnya perut bumi demi mengeluarkan minyak, gas dan air jika sudah dalam jumlah tertentu yang luar biasa besar tidak mungkin jika tidak punya pengaruh apa-apa terhadap bumi itu sendiri. Balon sebagai contoh yang sederhana jika anginnya keluar dalam posisi bebas maka orbitnya akan berubah dan kempes. Bagi bumi saat ini mungkin belum kempes secara besar-besaran tetapi longsor bisa dibilang sebagai gejala itu karena pada kenyataannya seluruh permukaan bumi ditekan oleh udara.

“Yang pasti ada sesuatu yang telah dan sedang berubah sekarang ini. Namun, adakah terbersit di pikiran kita bahwa sebenarnya musibah yang terjadi, seperti banjir, longsor, dan bencana lainnya adalah akibat dari ulah kita manusia yang tidak peduli dengan tindakan yang kita lakukan yang mengakibatkan kerusakan alam yang kita diami.”

Atas dasar pemikiran ini maka jika tekanan udara semakin hari semakin menguat atau tetap tetapi daya tahan bumi semakin mengecil terhadap tekanan karena proses ekploitasi maka yang terjadi adalah longsor atau ambruknya permukaan bumi dan masuk kedalam. Jika tekanannya semakin melemah karena perusakan udara sehingga mengakibatkan tekanan bumi jauh lebih kuat maka tanah yang diatas akan berhamburan keluar contoh yang terjadi pada meletusnya gunung berapi. Dan jika pengrusakan itu seimbang antara udara dan perut bumi maka perubahan yang terjadi adalah antara sistim Bumi dengan alam semesta lainnya, mungkin para ahli fisika, kimia, astronomi, geologi, geofisika dan lain-lain bisa memikirkannya. Yang pasti ada sesuatu yang telah dan sedang berubah sekarang ini. Namun, adakah terbersit di pikiran kita bahwa sebenarnya musibah yang terjadi, seperti banjir, longsor, dan bencana lainnya adalah akibat dari ulah kita manusia yang tidak peduli dengan tindakan yang kita lakukan yang mengakibatkan kerusakan alam yang kita diami. Penebangan hutan secara liar dan besar-besaran, pembuangan sampah tidak pada tempatnya, serta pemanasan suhu bumi akibat semakin menipisnya ozon. Semua itu kebanyakan tindakan yang kita lakukan yang berakibat fatal bagi sejumlah banyak manusia di bumi.

Manusia menjadi korban atas keserakahannya sendiri. Dalam kehidupannya manusia tidak menyadari bahwa bumi ini adalah nafas kita, yang harus kita jaga dan lindungi. Kita mengotorinya sama saja dengan kita mengurangi sedikit demi sedikit nafas kehidupan kita. Terkadang, kebutuhan untuk memuaskan keinginan badan sangat mendominasi dalam diri masyarakat, yang akhirnya melupakan hal yang paling hakiki, yakni kehidupan bersama yang harmonis dengan manusia dan alam. Namun keserakahan terlalu kuat untuk dimusnahkan, manusia lupa akan nafas yang memberikan kehidupan baginya, manusia menguras segala apa saja yang dianggap dapat memuaskan jasmaninya, tidak jarang juga harus melalui cara yang mengganggu dan merusak hak-hak orang lain bahkan merusak kekayaan alam. Akibatnya, terjadi banyak peristiwa yang di luar dugaan kita, karena kesadaran jiwa juga secara hakiki sudah mendarah daging, artinya sudah bersifat badaniah semata. Alam menjadi korban kebejatan nafsu-nafsu penguasa yang ada dalam diri manusia.

Manusia sebagai ciptaan Tuhan, adalah makhluk yang dilengkapi dengan akal budi, pikiran sehat, dan rasa, cipta, serta karsa. Hanya manusialah satu-satunya ciptaan Tuhan yang paling istimewa, dibanding dengan makhluk ciptaan lainnya. Manusia dalam kehidupannya dituntut agar tetap bertahan (survive) terhadap segala bencana yang menimpa. Segala pengetahuan dan ilmu yang kita warisi harus dipergunakan secara nyata dalam kehidupan, agar tidak hanya menjadi belenggu bagi diri sendiri untuk menjalani tindakan yang ingin kita lakukan. Banyak kecerobohan yang kita lakukan terhadap alam, dan sering juga kita menyalahgunakan pengetahuan yang kita miliki untuk memperkosa, menguasai, menaklukkan, mengendalikan, mengalahkan, serta menambang segala kekayaan yang dimiliki oleh alam. Sehingga tidak jarang terjadi bencana-bencana dan peristiwa-peristiwa yang merugikan kita, seperti misalnya menelan korban jiwa, harta, dan terutama kerusakan terhadap lingkungan tempat kita berpijak.

“Sebagai akibat dari konsepsi diri yang dibesar-besarkan itu, kita kemudian merasa berhak untuk menentukan tidak saja kapan harus melindungi dan menjaga kelangsungan hidup lingkungan untuk kita manfaatkan sendiri, tetapi juga kapan kita dapat mengorbankannya untuk mencapai kejayaan dan kebaikan yang lebih besar.”

Penyalahgunaan alam oleh manusia dinilai hampir mirip dengan pengertian dari istilah “cogito ergo sum” yang mendahulukan pikiran/nalar atas materi. Keyakinan Descartes bahwa kemampuan kita untuk berfikir (“saya berfikir maka saya ada”) membuat kita menjadi “istimewa” yang kemudian mendorong kepada pandangan bahwa “benda” yang berfikir (res cogitans, atau manusia) ditakdirkan untuk meguasai benda yang tidak berfikir (binatang, tumbuhan, dan cadas). Perlahan, kita kemudian meyakinkan diri kita sendiri bahwa manusia adalah memang sungguh-sungguh bentuk kehidupan yang paling tinggi: pusat dari jagad raya. Sebagai akibat dari konsepsi diri yang dibesar-besarkan itu, kita kemudian merasa berhak untuk menentukan tidak saja kapan harus melindungi dan menjaga kelangsungan hidup lingkungan untuk kita manfaatkan sendiri, tetapi juga kapan kita dapat mengorbankannya untuk mencapai kejayaan dan kebaikan yang lebih besar.

Fatme, seorang petualang lintas pulau. Menetap di Kalimantan

Iklan