Perempuan dan Bencana;

sebuah pengantar obrolan santai antar pemula

oleh:

Jovanka Edwina

Ada yang salah dalam sistem kita,

yang membuat para perempuan kita tak pernah bisa tidur pulas.

Ada yang salah dalam sistem kita,

yang membuat perempuan kita tak mampu berkata-kata.

Ada yang salah dengan otak dan hati kita,

yang membuat perempuan kita tetap terbungkam dan tersudutkan

seperti lemari pajang di sudut rumah, “ada” dan “tak bersuara”.

-koepoekoepoe-

Kurangnya sosialisasi informasi dan (mungkin) minat mengenai bencana dan ditambah pemahaman jender seadanya akan menjadi kendala untuk memahami problem yang dihadapi kaum perempuan di daerah bencana pada khususnya dan para pengungsi pada umumnya. Namun demi “meramaikan” suatu pembicaraan atas isu yang berkaitan dengan terbitan kali inilah tulisan ini disusun dengan segala ketidak-sempurnaannya dengan harapan dapat dijadikan motivasi utuk lebih banyak lagi menggali pengetahuan mengenai isu bencana dan jender.

Beberapa sumber menginformasikan mengenai arti dasar dari bencana, secara singkat yaitu saat dimana proses alam tidak selamanya menjadi sebuah bencana. Ancaman alam (natural hazard) baru akan berubah menjadi bencana alam (natural disaster) saat kemudian muncul kerusakan dan kerugian material, juga korban jiwa yang diakibatkan kerentanan terhadap ancaman alam sebagai dampak dari peristiwa tersebut. Dari sini tentu kita dapat membayangkan bila kemudian ada sebuah sistem yang menyeluruh atas kemungkinan-kemungkinan dari sebuah peristiwa alam, maka dampak negatif darinya dapat ditekan sampai batas minimal, tidak seperti yang selama in terjadi, yang kemudian hanya menghasilkan berita-berita dramatis-eksploitatif, trauma historis bagi masyarakat dan juga lapangan bola bagi pihak-pihak dengan berbagai kepentingan. Sistem ini bisa kita terapkan lewat Manajemen Bencana (Disaster Management).

“What government barely understands is that there is a long process involved for a flood hazard to produce a disaster, and there are choices and actions that can be made to prevent flood hazards becoming disasters. Disaster is a forced marriage of hazards and vulnerabilities. Hazards can be mitigated and managed, while vulnerabilities can be reduced. Therefore, disaster risk management is a function of hazards mitigation and vulnerability reduction. This is a very simple understanding for people in disaster studies. “

[Jonatan Lassa, New Direction Needed for Disaster Management in Indonesia, 2006]

Namun kemudian hal penting ini pula yang masih luput dari perhatian berbagai kalangan yang harusnya berkompeten. Sifat dari penanggulangan bencana yang ada masih “memusuhi” dan “takluk” terhadap gejala alam, sehingga pandangan bahwa bencana adalah sebuah takdir terus bercokol dalam pikiran kita. Tindakan preventif yang ada masih pada menjauhkan, kadang dengan paksa, suatu sosietas dari daerah yang rawan terhadap ancaman gejala alam, bukan dengan pemberdayaan. Pertanyaannya adalah, haruskah penduduk mengungsi dari tanah nenek moyang mereka, yang nota bene telah bergenerasi mampu mengatasi ancaman alam yang terjadi. Mungkin kemodernan dan teknologi canggih membius pemerintah dan intelektual perancang kebijakan sehingga melupakan bahwa ada tradisi dan kearifan lokal untuk bertahan hidup yang secara evolutif telah dikembangkan penduduk setempat. Penanganan yang dilakukan pun masih bersifat darurat (emergency) yang sangat fisik dan material yang menjadikan isu hak asasi manusia hanya sebagai aksesorinya. Lebih lanjut, posisi masyarakat yang ada di daerah bencana sekedar menjadi korban yang lemah tak berdaya secara fisik, psikologis maupun ekonomi yang bemuara pada ketergantungan akan bantuan. Dan diperparah dengan rendahnya perhatian pemerintah akan peran serta penduduk korban bencana dan kearifan lokal setempat dalam membenahi kembali “rumah” mereka. Padahal pastinya yang paling mengerti dan peduli akan seperti apa nantinya area bekas bencana tersubut pastilah mereka yang selama ini telah hidup dan tinggal di atasnya.

Berbicara mengenai korban, ada beberapa kelompok yang tergolong paling rentan terhadap dampak negatif dari bencana alam, diantaranya adalah; orang berusia lanjut, lumpuh, sakit, anak-anak dan perempuan. Dalam kaitannya dengan tulisan ini, maka kelompok terakhirlah yang akan diulas lebih lanjut dengan sedikit menyertakan kelompok anak-anak.

Berhubungan dengan konstruksi jender yang telah terjadi, bahkan mengkonstitusi, selama berabad-abad, maka perempuan dan laki-laki berbeda dalam menghadapi bencana alam dan dampaknya. Saat tsunami menerjang N.A.D, dari 105 orang yang selamat di Desa Lambada, hanya terdapat 5 orang perempuan. Tidak ada jawaban pasti atas fakta ini. Tapi beberapa jawaban yang ditemukan adalah hal ini terjadi karena usaha mereka untuk menyelamatkan anggota keluarga dan kemampuan fisik mereka dalam usaha menyelamatkan diri.

Para perempuan yang selamat, kemudian masih harus menghadapi berbagai permasalahan lagi dan berada pada posisi yang rentan. Dimana dalam kultur yang sangat patriakis setiap saat kekerasan fisik, psikologis dan seksual siap menghadang langkah mereka. Hal ini jarang sekali dapat dilaporkan karena pelaku tindak kekerasan, bahkan criminal, tersebut datang dari pihak yang lebih “berkuasa”, seperti, dengan tanpa mengurangi hormat pada pihak-pihak tersebut, pihak aparat yang mengamankan kamp penampungan dan bahkan para relawan dan para lelaki dari pihak korban sendiri.

Bantuan yang diberikan pun mumnya memiliki standar-standar bagi para penerimanya. Seperti bantuan pendidikan, kesehatan, sandang, pangan dan tempat tinggal. Bantuan pendidikan, misalnya, umumnya hanya diberikan pada anak-anak sampai dengan usia enam belas tahun, sehingga remaja perempuan menjadi sangat rentan posisinya, apalagi bila ia sebatang kara. Kemudian maraklah penjualan perempuan,baik sebagai pembantu maupun pekerja seks, perkawinan usia muda dengan alasan perlindungan terhadap kaum perempuan.

“Kenyataannya, perempuan sering terabaikan, baik dalam menghadapi ancaman alam ataupun penanganan dan rehabilitasi bencana alam, menyebabkan perempuan tetap tertinggal di “area” marjinal. Budaya patriarkis selama ini telah membentuk perempuan-perempuan yang berdiri selangkah (atau lebih) dibelakang kaum lelaki menyebabkan perempuan tertinggal dalam isu-isu penanganan ancaman bencana alam yang kemudian mendatangkan masalah yang lebih besar saat bencana alam benar-benar terjadi, karena mereka menjadi orang yang paling lemah di antara yang lemah.”

Masalah lain seperti kesehatan reproduksi dan psikis kaum perempuan di daerah bencana pun jarang mendapat perhatian penuh. Perempuan memiliki kebutuhan yang jelas berbeda dan spesifik, seperti pembalut, baju dalam yang bersih, kebersihan lingkungan, ruang privat perempuan, kondisi yang kondusif bagi perempuan hamil dan ibu menyusui dan sebagainya. Lalu, mereka pun mengalami dampak psikis yang berat, sama seperti kelompok-kelompok lainnya dalam sebuah bencana, namun dengan konstruksi jender yang ada, mereka dipaksa untuk terus menanggung tekanan itu, bahkan kadang mengenyampingkannya, untuk kemudian melaksanakan (rasa dan beban) tanggung jawab mereka dalam pemenuhan kebutuhan keluarga atau pun sesama pengungsi lain yang juga dalam kondisi lemah, hal ini adalah turunan dari beban ganda yang telah lama dikenal dalam terminologi jender. Hal ini memang baik, karena menunjukkan perempuan lebih tahan terhadap keadaan depresi dan kemudian dapat berperan aktif dalam penanganan pasca-bencana, tidak seperti stigma umum selama ini. Namun tentunya mereka pun butuh untuk menyembuhkan diri mereka demi kondisi psikis jangka panjang. Sedikitnya tenaga relawan dan tenaga medis perempuan menjadi kendala tersendiri, karena umumnya mereka akan merasa lebih nyaman untuk bertukar pikiran dengan sesama perempuan. Belum lagi minimnya pengetahuan pihak-pihak relawan akan budaya lokal daerah yang tertimpa bencana tersebut.

Kenyataannya, perempuan sering terabaikan, baik dalam menghadapi ancaman alam ataupun penanganan dan rehabilitasi bencana alam, menyebabkan perempuan tetap tertinggal di “area” marjinal. Budaya patriarkis selama ini telah membentuk perempuan-perempuan yang berdiri selangkah (atau lebih) dibelakang kaum lelaki menyebabkan perempuan tertinggal dalam isu-isu penanganan ancaman bencana alam yang kemudian mendatangkan masalah yang lebih besar saat bencana alam benar-benar terjadi, karena mereka menjadi orang yang paling lemah di antara yang lemah. Seharusnya isu perempuan dan jender ikut menjadi pertimbangan penting dalam kebijakan-kebijakan penanganan pra maupun paska bencana sebagai bagian dari manajemen bencana agar perempuan-perempuan kita dapat benar-benar mengalami apa yang dinamakan Hak Asasi Manusia, paling tidak disaat mereka harus hidup di bawah ancaman alam. Namun sayangnya, jangankan berbicara masalah perempuan dalam konteks bencana, untuk berbicara bencana pun rasanya kita (paling tidak saya sendiri) masih seperti anak-anak Sekolah Dasar yang belajar mengeja, hanya saja, anak-anak tersebut memiliki keinginan kuat dan berhati polos.

Dari sini paling tidak dapat kita temukan sebuah kebutuhan untuk topik bencana di Indonesia, bahwa butuhnya suatu kebijakan yang mampu memandang permasalahan bencana secara komprehensif dan berwawasan jender, yang tentunya disusun oleh pihak-pihak yang benar-benar kompeten dalam studi bencana secara teori dan praksis, bukan pihak yang “merasa” mengerti. Yang kemudian dibarengi dengan sosialisasi informasi manajemen bencana kepada penduduk di daerah rawan ancaman bencana, aparat yang berwenang, akademisi, badan relawan, badan donor, pihak-pihak terkait lain dan masyarakat umum.

Sumber :

ý —————-, Suara Perempuan di Pengungsian. Dapat dibaca di http://girlthink.blogthing.com/2005/07/08/suara-perempuan-di-pengungsian

ý Eko Teguh Paripurno, Telaah Penanggulangan Bencana di Indonesia. Dapat dibaca di http://www.peduli-bencana.or.id/manuskrip.php?baca=7

ý Jonathan Lassa, New Direction Needed For Disaster Management in Indonesia,. Dapat dibaca di http://www.peduli-bencana.or.id/manuskrip.php?baca=39 , dengan sumber : http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20060116.E02

ý Mukhotib MD, Problem Kesehatan Reproduksi Perempuan Pengungsi, 2005. Dapat dibaca di http://situs.kesrepro.info/gendervaw/feb/2005/gendervaw01.htm dengan sumber Harian Kompas, 31 Januari 2005

ý Niken Savitri, Penanganan Pascabencana Alam Berperspektif Jender, 2006. dapat dibaca di:http://www.kompas.com/kompascetak/0502/07/swara/1542274.htm

ý Teguh Eko Paripurno, Bencana dan Peran Kita, 2006. Dapat dibaca di http://www.peduli-bencana.or.id/manuskrip.php?baca=1

(dengan tak lupa berterima kasih kepada Mas Didik dari Komunitas Peduli Bencana (KPB) untuk perbincangan singkat yang sedikit banyak mempermudah penyelesaian tulisan ini.)

Jovaka EdwinaJovanka Edwina, penulis adalah seorang aktivis di beberapa tempat. salah tiganya adalah di Forum Seni dan Budaya (FSB) Retorika, di Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat (BPMFF) Pijar, dan Komunitas Musik Sande Monink

Iklan