DOMESTIFIKASI dan

OBJEKTIFIKASI HEWAN A LA

HEGEL

Oleh: A. Arinda A. Kusuma

Sebagian besar di antara pembaca tulisan ini pasti pernah memelihara hewan di rumah, atau bahkan sampai sekarang masih. Punya bebe-rapa ekor anjing, kucing, ikan di akuarium, atau bahkan burung perkicau, atau sampai jenis hewan tertentu yang sudah masuk dalam kategori hewan langka seperti merak dan macan kumbang. Merupakan suatu kesaksian tersendiri, beberapa saat menghibur diri dengan memberi makan, bermain-main, dan “melatih” piaraan kita tersebut untuk melakukan sesuatu hal di luar kebiasaan perilakunya, bisa menjadi mekanisme lesure time bagi kita. Dalam dunia event organizer, juga sering diadakan lomba, kontes, pertandingan, pameran yang mempertunjukkan kelebihan, keunggulan dan kebolehan hewan piaraan yang kita punya, dan tak jarang ujung-ujungnya adalah tawaran rupiah yang tidak sedikit. Bisa bikin kaya mendadak.

Untuk memperoleh hewan piaraan yang akan dipelihara di rumah pun sekarang kita tak perlu bersusah-susah, tidak perlu mencari sendiri dan menjinakkan sendiri, atau nungguin peranakkan peliharaan dari teman atau saudara dekat. Kita hanya cukup datang ke PET SHOP dan pilihlan hewan peliharaan yang akan dipelihara! Dunia hewan peliharaan sekarang juga telah menjadi sebuah industri, sejajar dengan dunia hiburan dan dunia cyber.

Sejenak pernahkah kita ingin tahu asal muasal memelihara hewan di rumah sampai sedemikian rupa? Atau pernahkah kita bertanya mengapa dan karena motivasi apa kita memelihara hewan? Tulisan ini, dengan sedikit percaya diri, apriori, dan tanpa mengutip sumber-sumber kepustakaan mencoba memaparkannya. Untuk itu, tentu sangat terbuka kritik dan perdebatan seputar kesahihan argumentasi ini.

Pemeliharaan hewan di rumah, atau bahasa kerennya domestifikasi hewan, adalah kegiatan manusia yang sudah sangat tua umurnya. Sejak zaman tribalisme, ketika corak produksi ekonomi manusia masih sangat sederhana. Bermula dari food gathering, menusia mengumpulkan bahan-bahan makanannya, salah satunya dengan berburu hewan. Tetapi, hasil yang didapat dari berburu sering tidak dapat mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari.

Makin hari, jumlah dan lokasi hewan buruan yang semakin sulit didapatkan, sehingga manusia kemudian membawa hewan tersebut dalam keadaan hidup, dimanfaatkan siklus reproduksinya, menghasilkan peranakkan, dipelihara, dan seterusnya proses tersebut berjalan. Hasil peranakkan yang diperoleh sebagian besar dijadikan makanan (disembelih tentunya). Hasilnya, ternyata lebih banyak daripada berburu.

Di masa bercocok tanam, saat dimana kebutuhan pangan tercukupi dengan membudidayakan jenis-jenis tanaman yang bisa dimakan, hewan-hewan yang didomestifikasi pun tetap menjadi bahan makanan. Tetapi, ketika padi mulai dibudidayakan, hewan-hewan yang didomestifikasi juga mempunyai fungsi yang lain: mengolah tanah dengan menarik bajak. Domestifikasi hewan-hewan tidak hanya berfungsi sebagai persediaan bahan makanan, tetapi juga untuk membantu aktivitas manusia, selain herbivora, jenis hewan karnivora ternyata juga bisa didomestifikasi untuk tujuan tersebut. Para pemburu menjinakkan anjing hutan untuk membantu mereka berburu. Dimensi domestifikasi hewan tidak lagi hanya untuk persediaan pangan, tetapi banyak dimensi lain, “terbuka” untuk kemudian menjadi motivasi dari domestifikasi.

Hasrat Penguasaan Antroposentris dan Objektifikasi Dunia A la Hegel

Manusia menyadari bahwa dirinya adalah Animale Rational, hewan yang dapat berpikir, mempunyai kelebihan dibanding hewan-hewan lain. Manusia dapat terbuka—dalam merespon—realitas sekitarnya, tidak seperti hewan mekanis, hanya mengikuti insting merespon. Kesadaran akan kelebihan dan “keterbukaan“ manusia tersebut salah satunya terwujud dalam hasrat penguasaan terhadap realitas sekitarnya, dan juga menjadi motivasi dari domestifikasi hewan. Mengasingkan hewan dari habitat aslinya, meletakkannya dalam kurungan atau sangkar, yang menjadi simbol kekuasaan manusia atas hewan, dan menganggap hal itu sebagai perbuatan baik. Perbuatan baik seperti merawat hewan dan “membebaskannya” dari ancaman-ancaman mematikan yang sebenarnya adalah konsekuensi logis rantai makanan.

Ada gengsi yang tinggi juga di kalangan manusia jika bisa mendomestifikasi hewan-hewan langka. Semakin langka jenis hewan yang didomestifikasi, semakin tinggi nilai gengsi yang didapat.

“Perbuatan baik seperti merawat hewan dan “membebaskannya” dari ancaman-ancaman mematikan yang sebenarnya adalah konsekuensi logis rantai makanan

Objektifikasi manusia, juga menjadi motivasi dari domestifikasi hewan. Menurut Hegel, manusia selalu berusaha mengobjektifikasikan dirinya ke realitas luar. Ia selalu berusaha “memindah” bentuknya ke realitas luar. Realitas dibentuk sedemikian rupa, diberi objek, yang merupakan “kedirian” dari manusia tersebut. Seorang seniman patung “memindahkan” kemanusiaan dirinya dengan mengukir sebongkah batu, dibentuknya sedemikan rupa kedirian manusia.

Melatih hewan untuk melakukan sesuatu hal keinginan kita, kedirian kita, adalah bentuk objektifikasi tersebut. Menjadikan hewan jinak, terdomestifikasi, mau—secara insting, melakukan hal yang kita suruh atau menirukan perbuatan kita, yang memindahkan kemanusiaan kita ke hewan. Atau menirukan perbuatan kita ke hewan, anjing yang disuruh bersepeda, monyet yang membawa payung dan menabuh drum, singa yang melompat masuk ke dalam lingkaran api di sirkus adalah contoh-contohnya.

Artikel dimuat dalam newsletter jahe, edisi V/April/2008. Tema Flora, Fauna, Manusia. Newsletter jahe diterbitkan oleh Mahasiwsa Pecinta Jagad Raya (MAPAJARA) Panta Rhei Fakultas Filsafat UGM.

Penulis adalah anggota MAPAJARA Panta Rhei Fak. Filsafat UGM

Iklan