kampanye bike to work surabaya untuk menyelamatkan lingkungan

kampanye bike to work surabaya untuk menyelamatkan lingkungan

Saat ini bersepeda tidak bisa dibilang hanya menjadi pengisi waktu santai. Komunitas Bike to Work (B2W) Surabaya menjadikan sepeda sebagai alat transportasi utama untuk berangkat dan pulang kerja. Melalui sepeda mereka menebarkan misi pelestarian lingkungan di Surabaya.

Oleh: Ginanjar Dimas Agung alias Togin

Waktu menunjukkan jam delapan malam. Lima belas sepeda angin terparkir di sekeliling sekretariat B2W di Jalan Juwingan, Surabaya. Beberapa orang sedang men-setting sepeda di tepi jalan Juwingan. Beberapa sedang mengobrol di dalam sekretariat. “Biasanya tiap malam Sabtu kita berkumpul di sekretariat. Setelah berkumpul kita akan bersepeda berkeliling Surabaya untuk singgah di tempat makan tertentu. Ini salah satu agenda mingguan B2W Surabaya!” papar Achmad Basori.

B2W (baca: Bike to Work) adalah komunitas pekerja yang menggunakan sepeda sebagai transportasi utama untuk beraktivitas, termasuk bekerja. Misi utamanya mengampanyekan program langit biru.

B2W Surabaya yang dideklarasikan pada 27 Agustus 2006 pada awal pendiriannya di Surabaya hanya beranggotakan tiga orang. Tetapi saat ini, jumlahnya meningkat. Anggota aktif yang terdaftar berjumlah 40 orang. “Kami berani mengklaim bahwa anggota kami sekitar 1.000 orang termasuk anggota pasif,” papar Achmad sebagai koordinator B2W chapter (bagian) Surabaya.

Anggota pasif diklaim B2W Surabaya dengan alasan pengguna sepeda sebenarnya, baik untuk pergi ke kantor atau untuk sekedar hobi, sudah menjalankan misi B2W. “Anggota pasif akan terlihat ketika kita mengadakan acara,” papar koordinator yang telah menjabat selama dua tahun ini.

Mayoritas penggiat B2W adalah kalangan pekerja. Meskipun mengusung tema komunitas pekerja bersepda, B2W tak menutup kemungkinan anggota umum yang ingin bergabung. ”Kami ingin mengembangkan sayap dengan merangkul komunitas sepeda, mahasiswa dan anak sekolah. Salah satunya adalah program Bike to Campus dan Bike to School,” terang Achmad dengan optimistis.

Bukin, yang baru bergabung B2W 4 bulan yang lalu, membeberkan, ia tidak merasa lelah mengayuh sepeda walaupun harus menempuh perjalanan 10 km. Untuk bekerja, ia harus bertolak dari rumahnya di Tambak Sumur menuju daerah Jagir Wonokromo.

Bukin ke B2W karena sejak kecil senang mengendarai sepeda. Kesukaannya dalam aktivitas petualangan saat muda menjadi salah satu latar belakangnya “Dulu saya senang berpetualang tetapi sekarang tidak sempat. Dengan bersepeda hobi berpetualang dapat disalurkan,” ungkapnya.

Berbeda dengan Bukin, Afif, mahasiswa ITS mengungkapkan pengalaman nikmatnya bersepeda saat wisata. Hal itu menginspirasinya untuk membeli sepeda dan bergabung dengan B2W Surabaya ”Bergabung dengan B2W menambah teman yang senang bersepeda,” imbuhnya melengkapi pemaparan Bukin.

B2W membebaskan siapa saja dengan sepeda apa saja untuk bergabung. Tidak ada pungutan atau iuran wajib. Jika ada anggota atau masyarakat umum yang ingin menyumbang dapat dilakukan dengan cara membeli merchandise, berupa kaus, pin, pelat B2W, dan sticker. Keuntungan yang terkumpul dari penjualan digunakan untuk kampanye dan sosialisasi penggunaan sepeda sebagai transporatasi utama.

Tak bisa dipungkiri, anggota yang tergabung dalam B2W telah berjalan dua tahun ini kerap menemukan kendala dalam aktivitasnya. “Saat ini kami masih termarjinalkan, masyarakat masih menganggap sepeda adalah golongan kelas bawah,” papar Achmad Basori.

Harga sepeda anggota komunitas B2W, kata Achmad, bervariasi, mulai Rp 300.000 sampai yang termahal seharga sepeda motor. “Paling mahal sekitar Rp 15 juta,” terang Bukin yang bekerja di daerah Jagir Wonokromo.

Salah satu bentuk marjinalisasi sepeda dan penggunanya adalah tidak disediakannya lahan parkir khusus sepeda di gedung-gedung perkantoran serta tidak ada jalur khusus sepeda di jalan raya Surabaya.

Agar masyarakat tertarik dengan alat transportasi sepeda, B2W terus melakukan kampanye. Kampanye dilakukan dengan menyebarkan informasi melalui flyer, mengadakan kegiatan festival sepeda dan konvoi keliling kota.

Achmad memaparkan, misi B2W adalah menyampaikan kepada masyarakat bahwa bersepeda akan menyelamatkan lingkungan dan anak cucu kita. Sebab, dengan bersepeda akan mengurangi polusi udara dan menyelamatkan lingkungan. Permasalahan lingkungan, khususnya penghematan bahan bakar minyak memang menjadi salah satu alasan terbentuknya komintas B2W di Indonesia.

Komitmen anggota komintas terhadap misi B2W tidak menyurutkan riders untuk mengayuh sepeda dari rumah ke tempat kerja atau kampus. Jarak jauh bukan halangan untuk bersepeda. Semua dilakukan untuk kehidupan yang lebih baik. Kehidupan untuk saat ini juga kehidupan untuk masa depan.(*) pernah dimuat dalam harian sore surabaya post