Oleh: Farid Mustofa


Pada Awalnya

Di antara puluhan pohon nangka sekitar rumah, ada satu yang tak berbuah. Ayah memintaku memanjat, memukulinya sambil berteriak minta berbuah. Agaknya itu kepercayaan Jawa, jika Ayah yang bukan berasal dari Jawa akan terasa aneh. Makanya dengan geli Beliau menyuruh saya manjat. Saya, – layaknya anak kecil seluruh dunia, dilarang manjat pohon karena bikin kawatir org dewasa-dengan girang menerima berkah ini.


Beberapa bulan -atau mungkin minggu, saya lupa, pohon itu berbuah! Saya anggap itu kebetulan dan terus berusaha tidak heran. Namun semakin dewasa, semakin banyak cerita seperti itu, bahwa pohon dan tetumbuhan lain berinteraksi dengan manusia. Simaklah the Celestine Prophecy, bagaimana James Redfield menarasikan komunikasi ini.  Bukan hanya pohon, tapi semua ciptaan Tuhan berkomunikasi, berinteraksi, dan bereaksi dengan kita. Mereka bertasbih pada Allah, kata Quran. King Salomon berbicara pada semut. Gunung mengaku tidak kuat memikul amanat manusia. Hingga Mbah Marijan atas Gunung Merapinya. Semua nyata, logis, masuk akal. Bukan klenik atau ajaib.


Bencana alam akibat ulah manusia, adalah kalimat lain dari alam merespon perilaku manusia. Berbagai penyakit baru adalah jawaban atas hardikan, bentakan, main kasar manusia terhadapnya. Flu burung contohnya, adalah reaksi atas perlakuan egois kita mengurung mereka demi memuaskan kuping dan mata. Binatang yang fitrahnya terbang bebas itu kita ‘hukum’ karena bulunya indah, bentuknya lucu, atau suaranya merdu. Marahlah mereka atas kesalahan yang tidak pernah dilakukan. Karena kita lebih kuat, lebih pintar, dan lebih mampu menyiksa, binatang malang itu akhirnya stress. Kala kita menaikkan sangkar tinggi-tinggi untuk menjemurnya (burung) , dibanggakan atau dilombakan ke mana-mana, mereka menjerit, menangis, meronta. Konyolnya, ketumpulan nurani kita menangkap itu sebagai kemerduan.


Yang Terhormat Para Pemburu

Amboi gagahnya mister hunter. Lihatlah. Seragam koboi, nenteng bedil BenyaminFranklin made in Tegal, keluar masuk pekarangan sambil meyakin-yakinkan dirinya kalau di Afrika atau rimba Amazon, penuh bahaya dan ketegangan. Petualang sejati…ck..ck. Ngeri. Burung-burungpun berkicau geli.


Yang lebih tinggi derajat primitifnya memilih ngejar celeng hutan. Naik jeep butut dicat ijo. Bawa jrigen air seperti akan menghadapi 9 musim kemarau, padal kosong. Ada tali2 dan slongsongan basoka segala, entah untuk apa. Bocah-bocah kecil dan ibu-ibu kampung yang dilalui berdecak kagum. Rasa bangga merayapi sekujur tubuh mister hunter. Puas. Puaaas sekali. Nikmat luar biasa.. Lalu kemah, tidak pulang, jarang mandi. Niru iklan Malboro.


Sebenarnya mau apa om-om ini. Usah dikejar heroik penuh nestapa seperti itu, hewan-hewan sudah menyerah. Sudah stress karena habitatnya jadi perumahan, terusir ketika desanya jadi kota. Yang mulia Om Hunter nan hebat itu gak sadar kalau primitif. Berburu jaman dulu memang boleh, malah harus karena, untuk hidup. Hari gini, masih buru? Apa-apaan, jalan 2 meter ketemu warung, nengok kanan sate, kiri tongseng kambing pun heran.


Burung, tupai, celeng, dan hewan lainnya itu sudah tersingkir, keletihan, putus asa dan berharap belas kasihan. Kita susah mendengar rintihannya, karena kuping nurani kita sumpali dengan acara tivi murahan, gosip, dagelan politik, problem hidup yang kita buat-buat sendiri. Nah, diantara keputus-asaan itu, bertemulah para hewan itu dengan para penjahat binatang (pemukat, penjual hamster di supermarket, pedagang anak ayam berwarna, tukang bedil manuk, penggeber merpati, penyetrum ikan, penyiksa burung perkutut dan oceh2an yang dikurung2 atau dilomba-konyolkan itu, pemburu binatang, dll). Para binantang mengira inilah jenis makhluk yang peduli: mendekat, menyapa, dan nampak ramah. Lebih-lebih Kepada para pemburu, hewan2 lebih apresiatif atas kemampuan hidup di alam terbuka mirip mereka.


“Om hanya kalian yang masih peduli. Masih mau ndekat dan lihat aku. Kalian sampai compang-camping begitu tidak kerja dan tiduran di sekitar sini. Kalian gak sama dengan mereka yang pada cuek. Iya iya. Om baiik sekali. Dengar keluhanku ya Om. Sisakan kami sedikit tempat ya om. Syukur om bikin rada nyaman seperti perumahan itu..”


Lalu binatang nestapa itu diem saja kala pemburu mendekat. Dia percaya. Dan, ”dor!” Mati.


Karya Agung nan Gemilang

Kebrutalan kita gak berhenti di situ. Kita terus dan terus memproduksi perilaku bodoh lain. Marah yang tak harusnya marah, jengkel atas sesuatu yang tidak semestinya menjengkelkan dan anehnya juga gembira atas sesuatu yang seharusnya duka. Gembira atas kehebatan anak kecil bergaya dewasa di acara idol-idol tolol TV swasta. Riang atas kebodohan yang dikemas sebagai hal hebat dan spektakuler. Sampai-samapai  –begitu tumpulnya rasa– bisa nonton berita kriminal sambil makan siang. Sementara presenternya ringan saja menrocoskan kebrutalan demi kebrutalan layaknya gosip murahan infotainment. Iklan berjibun. Para kru saling kasih selamat atas kesuksesan menumpulkan hati penonton. Bikin lagi yang makin menjijikkan. Penonton butuh yang lebih dari biasanya, katanya. Penonton senang, rating tinggi, iklan menggunung. Tumpul ketemu tumpul, ngawur ketemu ngawur. Terus.Teruss maju, pantang mundur.

Sampai suatu ketika, tiba-tiba sebagian kecil kita — ya sebagian kecil. Segelintir saja– menyadari betapa selama ini mudah saja membentak, meremehkan, dan susah sekali berempati bahkan pada orang-orang dekat kita: anak, istri, ayah-ibu. Apalagi tetangga.

Nurani kita hilang. Kita gadaikan dengan apa yng kita kira kemajuan dan kesuksesan…

Bulaksumur.

profile penulis: Drs. Farid Mustofa, S.Ag., M.Hum adalah Dosen Fakultas Filsafat UGM.

Iklan