Sepertinya logis jika menjadikan kemacetan, yang semakin sering kita jumpai di ruas-ruas jalan Yogyakarta (Yogya), sebagai indikator makin bertambahnya jumlah kendaraan yang ada di kota ini. Melihat keadaan sekarang, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan Yogya akan menjadi kota yang sangat padat kendaraan. Dilema memang melihat kenyataan bahwa Yogya sebagai kota pendidikan dan kemacetan. Hal ini bisa dimaklumi, meski sebenarnya bisa dicegah.

Bisa dimaklumi, artinya karena setiap tahun Yogya mengalami pertambahan penduduk dalam jumlah yang sangat banyak. Mayoritas adalah pelajar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Konsekuensinya, semakin banyak penduduk semakin banyak pula yang membutuhkan kendaraan. Merujuk Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), melalui website resminya menyatakan laju pertumbuhan kendaraan di Yogyakarta rata-rata 8000 unit/bulan –untuk motor saja, belum termasuk yang lain-.

Jika dahulu Yogya identik dengan sepeda ontelnya, maka sekarang tidak lagi. Jumlah pengendara sepedea ontel menurun drastis. Padahal Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta sedang giat-giatnya mengkampanyekan program Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe (Sego Segawe) dan beberapa Universitas mempunyai program Sepeda Hijau. Sekarang banyak orang –khususnya mahasiswa- memilih untuk menggunakan kendaraan bermotor ketimbang sepeda. Tentunya pilihan tersebut bukanlah sebuah pilihan yang tak beralasan. Bukankah menggunakan kendaraan bermotor lebih sesuai dengan tuntutan zaman yang serba cepat ini, di mana semua orang tampak bergegas dan berlomba antara satu dan yang lain?

Lantas bagaimana dengan transportasi umum di kota ini? Mengingat transportasi umum adalah pilihan yang lebih baik dibanding dengan transportasi pribadi. Sayangnya, membahas transportasi umum di Yogyakarta sebagai pilihan yang baik pun seolah sia-sia. Sebab, pernyataan tersebut masih bisa terpatahkan dan dapat memberi ‘pemakluman’ atas pilihan menggunakan transportasi pribadi. Penyebabnya, di kota ini, transportasi umum beroperasi hanya sampai jam 6 sore. Permasalahan tersebut sebenarnya telah coba diselesaikan dengan dioperasikannya Transjogja. Namun, Transjogja sendiri masih memiliki ‘kecacatan’ di beberapa bagian. Hanya mampu mengakses jalan-jalan tertentu dan memiliki batas waktu operasi jam 9 malam adalah dua ‘kecacatan’ utamanya.

Masalah transportasi membawa kita kepada permasalahan yang lebih besar, yakni masalah lingkungan. Adalah hal yang telah kita ketahui bersama tentunya, bahwa banyaknya jumlah kendaraan yang beroperasi selalu berbanding lurus dengan banyaknya jumlah polusi udara. Emisi dari kendaraan-kendaraan yang beroperasi menimbulkan dampak berupa zat-zat polutan yang dapat merusak lingkungan hidup dan sangat berdampak terhadap iklim mikro dan pemanasan global. Polutan adalah hal yang utama, tetapi yang tidak bisa diabaikan adalah kendaraan-kendaraan yang sudah tidak layak pakai –karena mesin telah tua mengakibatkan tinggi emisi yang dikeluarkan- masih banyak yang beroperasi. Jika kita meyakini pernyataan “kerusakan lingkungan akan mengakibatkan kerusakan bagi manusia sendiri,” sebagai suatu kebenaran, maka pilihannya adalah kita harus melakukan sesuatu untuk mengurangi kerusakan lingkungan. Dalam konteks lokal (Yogyakarta), hal ini menjadi sangat dilematis, sebab faktanya, pilihan-pilihan yang coba ditawarkan untuk menyelesaikan masalah transportasi dan lingkungan, seakan terbantahkan.

Untuk itu sepertinya Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, harus berjibaku dalam mengkaji dan merencanakan ulang sistem transportasi di kota ini. Perencanaannya harus memperhatikan pengadaan prasarana yang sesuai dan memenuhi persyaratan dan kriteria transportasi antara lain volume penampungan, kecepatan rata-rata, aliran puncak, keamanan pengguna jalan. Selain itu harus juga memenuhi persyaratan lingkungan yang meliputi jenis permukaan, pengamanan penghuni sepanjang jalan, kebisingan, pencemaran udara, penghijauan, dan penerangan

(http://walhijogja.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=3).

Nah, sebagai masyarakat sembari menunggu pemerintah dapat merealisasikan sistem transportasi yang efektif dan ramah lingkungan bolehlah -meskipun klise- kita mengupayakan perubahan dari diri sendiri. Salah satunya adalah dengan memilih untuk menggunakan kendaraan umum jika beraktivitas di siang hari? Jika takut terlambat di zaman yang serba cepat ini, bagaimana dengan memulai hari lebih awal dari biasanya agar waktu masih bisa terkejar? Bagi yang memiliki kendaraan pribadi –khususnya mobil-, jika masih ada jok kosong, tidakkah berbaik hati dengan nebengin teman yang notabene turut membantu mengurangi laju kerusakan lingkungan adalah pilihan yang patut untuk dicoba? Sesekali bersepeda untuk mengurangi polusi udara yang juga dapat menyehatkan badan adalah aktivitas yang menarik, bukan?

 

 

 

 

Iklan