Akhir-akhir ini cuaca seakan tidak lagi bersahabat dengan manusia. Suhu udara saat siang hari terasa sangat panas, bahkan terasa menyengat di kulit. Tetapi pada malam hari suhu udara terasa dingin, lalu keesokan harinya hujan turun. Seingat saya, dulu waktu saat sekolah diajarkan pelajaran geografi diajarkan hujan turun pada bulan oktober-april. Tetapi yang terjadi sekarang, hingga saat ini hujan seolah hanya ingin membasahi tanah-tanah yang kering karena panas. Bahkan beberapa saat yang lalu suhu udara mencapai 38 derajat celcius. Akan tercengang lagi jika Anda mengkonfimasi ke Badan Meteorologi-Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi DIY, 40 derajat celciuslah suhu tertinggi yang pernah terukur.

Dampak perubahan cuaca yang seperti ini memang dapat langsung dirasakan salah satunya adalah sakit kepala. Untuk beberapa orang, perubahan cuaca bisa menjadi pemicu datangnya sakit kepala akut atau migrain. Merujuk Dr Patricia Prince dari New England Center for Headcache di Stamford, perubahan cuaca juga bisa merubah kebiasaan pola hidup termasuk ketidakmampuan tidur dan berdampak pada penyakit lainnya.

Para ilmuwan pun melakukan penelitian yang mendalam tentang dampak perubahan suhu udara yang ditengarai menjadi pemicu migrain. Menurut temuan Boston’s Children’s Hospital, hampir setengah dari populasi mengalami sakit kepala akut karena perubahan cuaca. Menurut catatan Dr Prince dalam the journal Headcache, kebanyakan penduduk mengalami kenaikan suhu badan dan beraksi terhadap perubahan tekanan udara.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Dr Prince mengungkapkan bahwa cuaca mempunyai pengaruh terhadap migrain. Dalam penelitiannya Dr Patricia Prince dari the New England Center for Headache di Stamford melibatkan 77 orang berkunjung ke klinik migrain. Setiap pasien, oleh Dr Prince, diberikan pertanyaan tentang seberapa berat migrain yang dialami,  dan kebanyakan pasien merasa yakin bahwa migrain sangat erat hubungannya dengan perubahan cuaca. Dr Price pun menambahkan variabel derajat suhu udara setiap harinya dimana sang pasien migrain tinggal.

Secara keseluruhan 48 pasien atau 62% merasa yakin bahwa cuaca menjadi penyebab utama mereka terkena migrain. Ketika Dr Price melakukan pengkuran dihari dimana pasien mengalami migrain, mereka menemukan 39 pasien atau 51% yang benar-benar bermasalah ketika terjadi perubahan cuaca (www.kapanlagi.com).

Rawan Menyerang Ketahanan Tubuh

Perubahan cuaca yang sangat ekstrim, seperti saat ini, mengakibatkan tubuh rentan terhadap berbagai penyakit. Penyakit yang biasa muncul pada saat seperti ini antara lain:

  1. Flu.

Penyakit ini tidak pandang bulu. Siapa saja yang kondisi fisiknya lemah mudah terserang flu. Penyakit ini mudah disembuhkan,  cukup dengan makan teratur dan istirahat.

  1. Mimisan.

Mimisan mudah terjadi pada musim hujan terutama bagi anak-anak. Mimisan tidak berbahaya bila tidak disertai komplikasi penyakit lain. Secara tradisional bisa disembuhkan dengan daun sirih dan secara kedokteran dapat dilakukan dengan cara bagian hidung yang berdarah dibakar (dikostik) dengan alat khusus.

  1. Sesak nafas.

Sesak nafas di musim hujan tidak saja menyerang orang yang bengek atau mengi, tetapi juga bisa menyerang siapa saja. Udara yang sangat dingin dapat menyebabkan saluran pernafasan mengerut dan ini mengganggu pasokan udara ke paru-paru.

  1. Saluran pencernaan.

Musim hujan seperti ini harus hati-hati mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran. Sayur dan buah sebisa mumngkin harus benar-benar higienis. Salah-salah Anda malah terserang muntaber.

Walaupun penyakit yang disebabkan perubahan cuaca bukanlah penyakit kronis, tetapi penyakit-penyakit ringan seperti ini cukup mengganggu aktivitas kita sehari-hari.  Perubahan cuaca yang terjadi  cukup mengacaukan pola tanam para petani. Misalnya yang terjadi pada petani, mereka sulit menentukan masa tanam karena cuaca yang berubah dan tak menentu.

Seperti yang terjadi di Blora misalnya, sejumlah petani di Kecamatan Banjarejo dan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kebingungan membaca perubahan cuaca pada awal musim tanam pertama kemarin. Hal itu mengakibatkan sejumlah petani menanam lebih awal meskipun curah hujan belum maksimal. Rata-rata petani di dua kecamatan itu menanam padi pada November 2008. Padahal menurut perhitungan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah, curah hujan tertinggi di Jateng bagian timur, termasuk Blora, terjadi pada pertengahan Desember.

Salah seorang petani Desa Kalirejo, Kecamatan Banjarejo, mengaku menyebar benih padi pada November 2008 lantaran hujan sudah turun. Namun, hujan tidak kunjung datang hingga benih berumur 25 hari atau siap tanam.”Warna daun benih padi menguning lantaran kekurangan air. Sebagian benih itu tidak dapat ditanam lagi meskipun masih hidup. Kalaupun ditanam, bulir padi tidak akan berisi,” kata Sarji yang pada 2007 menanam padi pada bulan Desember.

Menurut pemilik sawah seluas setengah hektar itu, sebagian besar padi yang kekurangan air itu tetap ditanam karena pada awal Desember hujan kembali turun. Namun setelah dipanen, produktivitas padi turun dari tiga ton menjadi satu ton. Setelah ditanam, daya tahan padi lemah, sehingga ketika berumur antara 40 – 60 hari, padi terserang penyakit. Akibatnya, padi gagal panen. (www.kompas.com)

Lalu sebenarnya, ada apakah dengan bumi kita sampai-sampai terjadi perubahan cuaca yang sangat drastis ini? Lagi-lagi tuduhan utama mengarah pada pemanasan global. Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir

Kalimat yang menyebut bahwa dampak perubahan cuaca jauh lebih mengerikan ketimbang perang nukilir bukanlah spekulasi atau provokasi terhadap para pegiat anti senjata nuklir yang kini sedang mengeroyok Iran. Kalimat itu adalah ucapan dua kampiun sains, yaitu Stephen Hawking, sang fisikawan agung pasca Albert Einstein yang menjadi pencetus teori Dentuman Besar, dan James Lovelock, kimiawan yang juga aktivis lingkungan hidup. Hawking mendesak umat manusia menempuh berbagai cara guna mengatasi perubahan iklim karena bila tak dihadapi maka dampaknya akan makin merusakkan kehidupan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Seperti yang terjadi di kebun binatang Surabaya, Perubahan cuaca yang tidak menentu beberapa waktu belakangan ini, ternyata berdampak terhadap kesehatan satwa koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS). Sekurangnya 3 satwa koleksi KBS, terhitung sejak akhir bulan April lalu, mati. suhu udara atau cuaca yang tidak menentu, atau perubahan cuaca yang drastis, menyembabkan satwa jenis unggas mengalami gangguan. Dari catatan humas KBS, ketiga satwa koleksi KBS yang mati diantaranya, Celeng Botheng, Siamang, dan burung Ara Macaw.(www.suarasurabaya.net)

Bumi mengatur sendiri stabilitas suhunya lewat hubungan saling memengaruhi antara daratan, air, udara, tumbuhan, bakteri, dan fauna. Manusia turut berperan dalam menjaga ataupun merusak semua itu. Mungkin tanpa disadari manusia telah merusak keseimbangan alam sehingga terjadi banyak kerusakan yang menyebabkan perubahan suhu.

Pada kenyataannya lingkungan kitapun semakin memburuk. Banyak terjadi bencana yang kemungkinan besar disebabkan oleh perubahan drastis yang terjadi di alam, yang tanpa atau kita sadari bahwa kitalah penyebabnya. Yuni

Iklan