Jalanan hari ini…

Penyapu jalan harus bangun lebih pagi karena jalan yang mereka sapu harus segera rapi. Sementara tuan jalanan (baca: pengendara) tak pernah lagi menangkap peristiwa pagi selain bersaing di jalanan dengan tuan-tuan yang lain. Kendaraan bermotor besar-kecil dan beraneka roda siap berperang di jalan yang belum layak dijadikan lintasan pacuan, terlalu sempit untuk jumlah mereka yang kian menggila. Kepulan asap dari knalpot dan deru mesin, mengubah pagi segar dan hening menjadi sesak dan bising. Di setiap persimpangan mobil-mobil ngotot membunyikan klakson untuk megejar detik-detik yang mereka lewatkan. Mereka tak lagi bisa menanti.

Sementara di pagi hari para pejalan kaki, yang setia menyapa tukang sapu, tak punya tempat di jalan lagi. Pejalan kaki harus membagi lagi jalannya untuk pepohonan dan parkiran. Antara pedagang dan becak. Dan diantara tiang-tiang publikasi. Kadang dengan terpaksa para pejalan kaki harus menyusur ke jalan raya, dan harus siap mental diteriaki klakson mobil yang merasa jalan adalah miliknya diganggu oleh pejalan kaki.

Melesatnya industri otomotif mempunyai beberapa persoalan. Misalnya kendaraan dan kemajuan otomobil telah mengubah masyarakat menjadi masyarakat yang selalu berlari. Masyarakat yang menjunjung nilai-nilai produksi dan efisiensi, sehingga merubah relasi masyarakatnya dan juga merubah relasinya dengan lingkungan alami. Selanjutnya iklan pelumas di televisi dapat kita saksikan pembanggaan deru motor yang garang sebagai bentuk kegagahan. Padahal, pengaruh kebisingan diwaspadai dapat menyebabkan gangguan kejiwaan hingga kematian. Apalagi jika ditambah klakson yang berbunyi tiba-tiba, dapat menyebabkan serangan jantung bagi penderita penyakit jantung. Idealnya suara motor yang sesuai standar dari pabriknya mencapai 110 desible, sementara limit ekstrim toleransi pendengaran manusia adalah 140 desible. Lalu bagaimana dengan motor-motor yang suara knalpotnya sengaja dibuat bising?

Salah satu penyebab melesatnya jumlah penjualan kendaraan bermotor adalah kemampuan masyarakat dalam membeli. Strategi jitu Industri otomobil adalah bekerja sama dengan penyedia layanan kredit untuk mempermudah orang-orang menguasai jalanan. Segala varian pun ditawarkan untuk menjadi yang paling unggul di jalanan. Jantan, tangguh dan kuat merupakan idiom-idiom yang kerap digunakan perusahaan penjuan produk kendaraan. Demikian seksis dan tanpa malu menampakan sikap-sikap opresif yang khas dari paradigma pasar.

Akhirnya lonjakan jumlah kendaraan menjadi teror terbesar bagi alam, konsumsi minyak bumi meningkat dan produksi jutaan ton emisi CO2 pun meningkat. Sesungguhnya bencana telah mengintai kita karena sebagian masyarakat tidak sadar bahwa ia hidup dalam suatu lingkungan yang harus dijaga keseimbangan dan kelestariannya agar tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Menilik fenomena tranportasi sekarang ini, tanpa sadar kita adalah bagian darinya, sehingga kita perlu berkaca dari peristiwa pagi yang kian lama kian mengalami perubahan. Pertama, pandangan bahwa manusia adalah mahluk yang paling tinggi derajatnya harus ditilik ulang. Biospheric egalitarianism – in principle, adalah prinsip -pandangan hidup- yang mengakui bahwa semua organisme dan mahluk hidup adalah anggota yang sama statusnya dari suatu keseluruhan yang terkait sehingga mempunyai martabat yang sama. Mereka yang menganut prinsip ini akan merawat dan menjaga lingkungannya seperti mereka merawat dan menjaga keluarganya sendiri. Pandangan ini tidak berarti bila sekadar teori semata, tetapi tak bergerak pada tataran praktis. Pandangan ini menuntut kita untuk bertindak!

Tindakan ekstrim dari penganut paradigma Ekologi Dalam (Deep Ecology) -sebuah pandangan yang mengutamakan kehidupan universal- adalah menolak penggunaan kendaraan bermotor dengan berjalan kaki dan menggunakan sepeda. Misalnya, pernahkah Anda melihat pengendara sepeda yang mengelilingi dunia? Mungkin dia salah satu dari penganut Ekologi Dalam. Bahkan, untuk bepergian lintas pulau atau benua mereka berani menggunakan kapal atau perahu layar alih-alih menggunakan pesawat yang mereka anggap sebagai kekerasan terhadap alam karena bahan bakar, polusi udara dan polusi suara diluar batas kemampuan manusia yang ditimbulkannya.

Hal yang lebih realistis adalah dengan mengambil langkah mengurangi kendaraan bermotor, dengan cara kita. Mulailah berjalan untuk perjalanan jarak dekat. Penggunaan sepeda juga dapat jadi solusi lanjut. Bila terdesak baru kita manfaatkan angkutan umum. Bantulah kawan-kawan kita yang mengkampanyekan hak pejalan kaki, sepeda dan becak, atau ikut dalam club-club sepeda dan mengajak orang lain mengambil langkah yang sama melalui kegiatan-kegiatan seperti sehari tanpa kendaraan bermotor atau gerakan berjalan kaki ke kampus/kantor.

Nah, bila kita pengguna kendaraan bermotor, jadilah pengendara yang bijak. Pengendara yang tidak melupakan keramahan pada semua pengguna jalan maupun yang bukan pengguna jalan. Contohnya tidak membunyikan klakson di pemukiman, mematikan motor di gang kecil, mengembalikan knalpot pada keadaan standar pabrik-karena ini juga mengurangi emisi-, dan tidak merokok saat berkendara. Dan sedapatnya mengupayakan kendaraan yang ramah lingkungan dengan menservis secara berkala. Dengan begitu, kita tidak semata-mata menjadi produk peradaban yang melupakan sesama dan alam sebagai mitra sejajar. [nurul hidayah]