Siapa Takut Bencana?… :

Kado Hari Bumi untuk Derita Saksi Bencana

Oleh Nurul Hidayah

Sepenggal dari diskusi “Mengenang Bumi” dalam rangka memperingati Hari Bumi 22 April 2006 lalu, Sindung Tjahyadi selaku pembicara menyampaikan telaah bahasanya pada kata bumi. Bumi memiliki kesamaan bunyi dengan ummi yang artinya ibu. Kata ibu juga sering dilekatkan untuk merujuk pada bumi seperti ibu pertiwi dan mother earth. Bumi dan ibu memiliki karakter stereotip keperempuanan yaitu kesuburan dan induk kesuburan.

Sebagaimana seorang ibu, bumi memiliki logikanya sendiri dalam menata dan mengelola dirinya untuk mencapai harmoni. Dengan ini, bencana bisa dikatakan tidak ada bagi bumi itu sendiri, karena semuanya adalah aktivitas alami yang dibutuhkannya. Seperti hal nya filsafat Leibniz yang menyatakan “alam semesta adalah harmoni yang didesain Tuhan”.

Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan dengan adanya bencana Tsunami atau gunung berapi? Apa yang ada dalam pikiran bumi saat itu adalah hukuman? Seperti dipercaya seorang padri Jesuit mengenai gempa bumi di Lisbon yang tidak jauh berbeda dengan keyakinan sebagian orang jawa bahwa bencana adalah murka alam. Meski tampak pesimis, keyakinan ini mengandung makna menuju keseimbangan kosmos. Bahwa bencana adalah wujud keprihatinan alam pada peradaban dewasa ini.

Modernitas telah membawa kita pada mitos-mitos baru seperti demokrasi pasar, yang mengesampingkan lingkungan dengan aktivitas yang tidak selaras dengan daya dukung alam. Sebagai contohnya, industrialisasi dengan pemborosan bahan bakar minyak. Dalam skala global, bumi telah dikuasai oleh korporasi-korporasi besar yang beroperasi multinasional. Struktur korporasi dalam politik sepadan dengan sistem fasis yang mengintegrasikan buruh dan modal dibawah satu kontrol, kekuasaan. Dampak terbesar dirasakan oleh oleh Dunia Ketiga seperti kita yang parahnya berada di titik khatulistiwa. Selain dikeruk, kita juga dituntut untuk menjadi paru-paru dunia dengan tetap menjadi miskin. Sungguh tidak adil!

Voltaire yang berkata dalam puisinya “mereka bayar dosa dengan mati”, tentang bencana menyatakan alam, hewan dan manusia semua dalam keadaan perang. Pesimismenya sesungguhnya mengandung kritik pada optimisme abad ke-18 yang mengagungkan rasionalisme dengan dukungan penuh ilmu dan iman. Namun benarkah ketika alam murka berarti ia menyatakan perang pada manusia dan hewan?

Mari kita lihat masalah ini dari sisi hubungan alam dan manusia. Pada saat bersamaan, alam telah menggugah manusia untuk sadar akan dirinya dan keberadaannya sebagai komunitas besar. Tuntutannya adalah upaya rekonsiliasi manusia dengan lingkungannya, yaitu penerapan teori moral yang menyangkut etika hidup bersama dengan mahluk hidup dan benda lainnya dalam alam semesta raya.

Perubahan tata nilai yang diharapkan adalah perubahan etika dari antroposentris ke ekosentris, salah satunya manusia harus mau melepaskan haknya untuk tidak menguasai segala sesuatu (alam) tanpa batas lagi. Sehingga tidak hanya kesejahteraan manusia lagi yang menjadi tujuan, tetapi kesejahteraan semua mahluk baik yang hidup maupun tidak hidup.

Lalu bagaimana interaksi alam dan manusia mengingat konflik dimana alam membutuhkan pelestarian di satu sisi dan manusia memiliki kebutuhan terhadap alam di sisi lain?

Sekali lagi kita mencari keseimbangan dalam hubungan manusia dengan alam. Perpektif tradisi filosofis dan religius sangat berguna dalam merumuskan cara berfikir dan tindakan yang sesuai dengan ritme dan keterbatasan alam yang tak dapat terhindarkan. Mari kita mencoba membuka naskah Taois yang sangat menghargai ekologi alam dan konfusius yang memiliki komitmen terhadap ekologi politis dan sosial. Kedua tradisi asli Cina ini saling melengkapi dengan pandangan dunia yang sama, yaitu organik, vitalistik dan holistik. Semesta dilihat sebagai proses yang dinamis yang berlangsung terus dari transformasi terus-menerus.

Adapun kesadaran baru dari penelusuran ini membuat manusia menghargai dan sekaligus terlibat langsung dengan lingkungannya. Sikap yang diharapkan adalah melakukan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu sesuai dengan logika semesta. Seperti dalam menyikapi bencana, manusia memcoba memahaminya sebagai aktivitas alami alam yang tidak merusak, sebaliknya berproses menuju harmoni.

akrab disapa Ulul. Belakangan ini sedang sibuk mencari sesuap nasi dan segantang berlian untuk ditukarkan dengan nissan x trail