Keselarasan dalam konsep Kosmologi Jawa

Oleh: Ratna W. Rahma

Peradaban umat manusia selalu diwarnai oleh berbagai macam bencana. Tak terhitung betapa peradaban manusia telah musnah dan hancur oleh bencana penyakit, gempa bumi, banjir, gunung meletus, timbul tenggelamnya lempeng daratan, perubahan iklim yang mendadak, benturan oleh benda angkasa dari luar dan sebagainya. Berbagai upaya telah dilakukan manusia untuk mencegah dan mengatasi berbagai macam bencana. Manusia prasejarah hingga manusia modern dengan berbagai pemahaman yang mereka punyai telah cukup lama bergulat untuk bertahan dalam ancaman bencana yang mengancam kelangsungan hidup mereka. Beberapa teori pun muncul seiring dengan berkembangnya pemahaman manusia sebagai sebuah upaya untuk memenuhi kebutuhan akan perlindungan dan rasa aman dari bencana.

“Masyarakat Jawa sejak dari nenek moyangnya hingga saat ini justru telah mempunyai kesadaran dan tingkat pemahaman yang tinggi akan kosmos. Kosmosentrisme spiritual yang kini didengungkan manusia modern sebagai kritik dan alternatif terhadap paradigma antroposentrisme sekuler telah lama dimiliki masyarakat Jawa.”

Dimulai dari timbulnya sebuah pertanyaaan, manusia mulai mempertanyakan mengapa harus terjadi bencana? Kemudian serangkaian pertanyaan pun muncul dalam benak mereka seiring dengan berkembangnya pemahaman mereka akan alam, Apakah manusia kelewat batas menuntut pada alam sehingga mencemari bumi dan mengakibatkan lingkungan hidup manusia menjadi buruk? Apakah manusia mengeksploitasi terlalu banyak air bawah tanah sehingga mengakibatkan permukaan bumi tenggelam? Apakah manusia menebang hutan secara berlebihan sehingga mengakibatkan erosi tanah? Mengapa oasis berubah menjadi gurun pasir? dan sebagainya.

Tak dapat dipungkiri bahwa bersamaan dengan meningkatnya rasionalitas dan majunya teknologi manusia, ruang hidup manusia malah semakin menyusut, lingkungan ekologi terus memburuk dan telah mencapai pada tahap yang berbahaya. Proses ini berlaku seakan hukum alam yang berjalan tanpa disadari namun niscaya akan terjadi. Proses yang dijalani manusia membawa mereka menuju timbulnya kekacauan dan bencana.

Masyarakat Jawa sejak dari nenek moyangnya hingga saat ini justru telah mempunyai kesadaran dan tingkat pemahaman yang tinggi akan kosmos. Kosmosentrisme spiritual yang kini didengungkan manusia modern sebagai kritik dan alternatif terhadap paradigma antroposentrisme sekuler telah lama dimiliki masyarakat Jawa. Paham hidup mereka yang mengajarkan keseimbangam mikrokosmos, makrokosmos dan metakosmos menjadikan masyarakat Jawa sangat menjaga keseimbangan dan keteraturan. Bagi masyarakat Jawa yang lebih mengutamakan logos daripada chaos, manusia dan alam merupakan lingkup kehidupan yang tak terpisahkan dalam dunia orang Jawa. Manusia mula-mula hidup dalam lingkup kecil masyarakat. Kemudian melalui masyarakat ia bersinggungan dengan alam, memahami irama-irama dan denyut nadi kehidupan melalui peristiwa alam, terjadinya siang-malam, musim hujan dan musim kering, sekaligus manusia belajar bahwa alam bisa mengancam sekaligus memberikan berkah tak ternilai bagi kehidupan manusia. Eksistensi manusia sangat tergantung kepada alam sehingga manusia mempunyai kewajiban untuk menempatkan diri dalam keselarasan kosmos jika menginginkan keselarasan dan mencapai kesejatian.

“Jika ditarik dalam suatu kesimpulan, masyarakat Jawa sejak dahulu telah memiliki kesadaran bahwasanya manusia sebagai jagad kecil dari keseluruhan kehidupan dan kekuatan tertinggi, hendaknya menghayati posisinya dalam kosmos.”

Denyut nadi alam sedemikian rupa dihayati dan diselami sehingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan nada irama kehidupanya sebagai bagian kecil dari alam. Selanjutnya, alam semesta atau makrokosmos yang terungkap dalam indera manusia dipahami sebagai cerminan dari alam ghaib atau metakosmos, suatu sumber kekuatan tertinggi dimana manusia menggantungkan eksistensinya. Kosmos, atau keseluruhan kehidupan merupakan suatu kesatuan dimana setiap gejala, baik itu yang material maupun spiritual mencerminkan “makna” melebihi apa yang nampak dalam inderawi.

Jika ditarik dalam suatu kesimpulan, masyarakat Jawa sejak dahulu telah memiliki kesadaran bahwasanya manusia sebagai jagad kecil dari keseluruhan kehidupan dan kekuatan tertinggi, hendaknya menghayati posisinya dalam kosmos. Manusia harusnya menempatkan diri dan menjalankan peran yang tepat dalam posisinya dalam kehidupan. Ini berarti manusia tidak boleh melakukan sesuatu di luar batas apa yang seharusnya tepat baginya, karena jika manusia berbuat di luar batas dan menentang keteretauran alam maka keseimbangan tidak akan tercapai, terjadilah kekacauan dan kebinasaan alam semesta. Manusia hendaknya sadar akan posisinya di dunia ini, kehidupan dan kelangsungannya tak lebih merupakan berkah dari sang maha kuasa atau gusti sebagai sumber eksistensi manusia.

nana panggilannya. sedang menempuh S2 di Fakultas Psikologi UGM