Segelas ‘Ale-Ale’ Di Waktu Lebaran

Oleh Taufan Sukma

Allahu akbar, Allahu akbar, Walillah hilkham

Allahu akbar kabiro, Walhamdulillahi katsiro, Wasubhanallahi bukhrotuwwa’asila

La illaha ilallahu allahu akbar, allahu akbar walillah hilkham …..

Takbir berkumandang. Selain memohon maaf, saling memaafkan. Dosa-dosa terhapuskan Inya Allah. Hari Raya Idul Fitri, khususnya di Indonesia, selalu membawa suasana yang berbeda. Seluruh perantau, misalnya, seberapapun jauhnya dia telah melalanglang buana meninggalkan tanah kelahirannya, sebisa mungkinberusaha untuk bisa pulang ke kampong halamnnya. Arus mudik kemudian menjadi momentum sekaligus masalah bagi para aparat di bidang transportasi. Tak memandang suku, tua-muda, laki-perempuan, dan bahkan agama untuk memeriahkan bulan Ramadhan berikut Idul Fitrinya. Banyak vihara ataupun komunitas agama-agama lain yang ikut menyediakan sajian berbuka puasa. Banyak juga penganut agama lain yang jga ikut serta dalam trend mudik. Sungguh ritual yang megah dan meriah.

Di lain pihak, momen lebaran terkadang juga di”manfaatkan” sebagai ajang untuk bereksistensi. Rumah yang dahulunya biasa saja, direnovasi dan diperbaharui, dicat sebags-bagusnya. Kehidupan yang biasa saja akhirnya menjadi konsumtif dan cenderung glamaour. Dulu berkendara sepeda, lebaran kali ini minial harus punya motor. Dulu motor lebaran kali ini harus punya mobil. Dulu mobil butut, sekarang harus lebih baru. Begitu seterusnya. Mungkin terlalu tendensius dan syak wasangka jika mengkaitkannya dengan momen lebaran, namun entah kanepa segala sesuatu tersebut selalu dilakukan pada waktu mendekati momen lebaran. Waallahu A’lam Bisshowwab

Dengan pencapaian-pencapaian seperti diatas, penulis menjadi tergelitik untuk kemudian berpikir tentang modernisasi. Seperti halnya kita tahu, masyarakat kita pada kenyataannya ternyata masih gagap dan silau terhadap hal-hal yang dianggap modern. Segala kecanggihan teknologi, pemujaan yang berlebihan terhadap intelektualitas serta budaya hidup praktis yang seringkali dijadikan tolok ukur tingkat ke-moderen-an hidup seseorang, dengan serta merta diadopsi dan dilaksanakan tanpa satu upaya kritis. Khususnya untuk poin terakhir, setiap orang seolah-olah dianggap menjadi satu pola hidup yanglebih baik. Benarkah?

Untuk urusan gaya hidup praktis, penulis mencermati ada hal yang cukup menarik pada lebaran kali ini. Mungkin lebaran-lebran tahun lalu mulai menggejala namun penulis baru mencermatinya pada lebaran kali ini, yaitu mengenai mewabahnya air minum kemasan dalam gelas pada tradisi masyarakat kita. Dulu kita pernah hanya mengenal dominasi Aqua, Aquades dan sebagainya. Namun sekarang varian yang ada demikian beragam dengan tidak hanya air putih murni, melainkan air minum berasa. Sebut saja merek-merek seperti Mount Tea, Frutang, Ale-ale dan sebagainya. Belum lagi varian rasanya, dari ragam rasa ala sirup seperti jeruk, coco pandan atau lecci, sampai rasa kopi, cappuccino sampai rasa ala fanta ataupun Coca Cola pun tersedia.

Gaya hidup praktis ini, tak terasa, telah menjadi bagian dari budaya masyarakat kita. Orang merasa minuman kemasan jauh lebih praktis. Cukup sediakan di kulkas atau biarkan saja apa danya dan langsung dihidangkan ketika ada tamu dan kerabat datangberlebaran. Tidak perlu repot mencuci gelas, tidak takut pecah atau tumpah (kerena penampangnya jaug lebih kecil, yaitu dengan sedotan atau pipet). Belum lagi kalau tamunya banyak. Stok gelas di rumah tak akan mencukupi.

Dengan minuman kemasan, semuanya teratasi dengan mudah. Namun jika kita mau berpikir labih dalam, ini semua tentu kontra produktif dengan wacana lingkungan hidup yang ada selama ini.

Kita tahu, sampah plastic adalah salah satu sampah yangsangat sulit untuk terurai (sampah non-organik). Ia membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai dengan sempurna. Selain itu zat yangada dalam plastic juga cukup membahayakan bagi alam. Dan selama ini sampah gelas air kemasan adalah salah satu sampah terbanyak yang ada di tempat pembuangan akhir (TPA) selain tas plastic dan plastic-plastik kemasan konsumsi rumah tangga (shampoo, sabun, deterjen, snack, dll)

Terlebih lagi, wacana ini (semakin banyak varian minuman kemasan) menjadi semakin ironis jika disandingkan dengan mulai meluasnya kampanye tentang global warming. Adalah sebuah capaian menggembirakan ketika wacana pemanasa global menyeruak di masyarakat luas. Para generasi muda mulai mau tahu tentang efek rumah kaca. Masyarakat mempertanyakan dan berpikir kritis tentang perubahan cuaca yang mendadak. Bahkan MTV sebagai salah satu televise yang digandrungi kawula muda mulali ikut mengkampanyekan ‘STOP GLOBAL WARMING’ dalam beberapa acaranya. Namun kenyataan bahwa produksi minuman kemasan justru makin mewabah, bagi penulis, telah menyadarkan bahwa kesadaran kita terhadap isu global warming tak lebih hanya sebatas retorika dan hafalan di mulut semata. Namun, oke lah, tak perlu berpikir terlalu dalam. Terkdang, penulis cukup tergoda untuk membenarkan pendapat seorang kawan,

“Nggak enak banget jadi orang yang tahu, paham dan sadar. Apa-apa jadi nggak enak. Buang sampah sembarang takut merusak alam. Pakai tissue terbayang-bayang hutan-hutan yang mulai gundul. Makan makanan fast food langsung teringat betapa jahatnya system globalisasi dan kapitalisasi. Mau minum takut nggak higienis. Mau makan takut ada campuran zat-zat kimia berbahayanya. Serba susah!”

Maka lebih baik menukmati saja hidangan fast food Anda. Pizza, Burger. Tak perlu berpikir tentang penjajagan budaya. Begitupun, silahkan nikmati Maount Tea atau Ale-Ale yang ada di genggaman Anda. Reguk sampai puas, sampai dahaga terhapuskan. Nikmati saja sambil menikmati hidangan lebaran lainnya. Tak perlu repot dengan wacana pemanasan global atau pandangan-pandangan ekologis lainnya. Nyantai saja. Kalaupun suhu normal menjadi naik, biarkan saja. Nyantai aja. Kalaupun turun hujan di masa yang seharusnya kemarau ataupun musim kemarau menjadi sedemikian panjang sampai timbul kekeringan dan kurang makan di banyak tempat, tidak usah dipikirkan. Cuek saja. Anggap saja Tuhan sedang menguji ummatnya di bumi. Atau memang jika kita bersalah dengan merusak alam, tinggal ambil saja air wudhu lalu kerjakan sholat fardhu. Sesekali lalkukan sholat malam agar Tuhan senang dan makin sayang pada kita. Toh Tuhan Maha Pengampun. Toh alam memang diciptakan Tuhan untuk manusia, jadi mari kita eksploitasi seenak kita dan sesuka kita, bukan begitu?

Penulis aktif dalam Forum Seni dan Budaya (FSB) Retorika Fakultas Filsafat UGM. Artikel ini pernah dimuat dalam newsletter “jahe” edisi IV, Global Warming.