capra

Feminisme, Energi Matahari, Ekologi:

Sebuah Transisi Peradaban

oleh ginanjar (togin) dimas agung

Naiknya harga minyak dunia perbarelnya, yang disebabkan oleh konflik eksternal dan internal negara penghasil minyak mempengaruhi stabilitas ekonomi, politik dan sosial negara-negara lain didunia, khususnya negara dunia ketiga (negara miskin). Minyak bumi mempunyai nilai yang sangat penting dimata manusia dan sangat terkait erat pengaruhnya mengenai kesejahteraan dan masa depan kehidupan manusia. Salah satu penggunaan minyak dan energi bahan fosil pada umumnya adalah dipakai untuk menggerakkan mesin-mesin industri dan kendaraan bermotor, juga listrik di perumahan, hematnya adalah sebegai energi utama.

Fritjof Capra dalam bukunya The Turning Point meramalkan, bahwa akan ada 3 hal yang akan mempengaruhi perkembangan sejarah dimasa depan, yang ia sebut sebagai “transisi” peradaban yakni patriarki, minyak bumi (bahan bakar fosil) dan paradigma Barat Modern.

Pertama, adalah runtuhnya sistem patriarki yang selama ini telah meresap kedalam ranah sistem filsafat, sosial, politik. “Laki-laki” dengan kekuatannya menjadi penentu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan. Seperti apa yang dikatakan Capra:

“ sistem ini (patriarki) telah mempengaruhi pemikiran-pemikiran kita tentang hakikat manusia dan tentang hubungan kita dengan alam semesta-atau lebih tepatnya, hakikat “manusia” dan hubungannya dengan alam semesta dalam bahasa patriarchal. Inilah suatu sistem yang hingga kini tidak pernah tertantang secara terbuka dalam catatan sejarah, dan doktrin-doktrinnya diterima sedemikian universal sehingga tampak sebagai hukum alam…(Capra: 2004:14)”

Akan tetapi dalam perjalanannya, sistem “laki-laki” ini mulai digoyahkan oleh bentuk-bentuk gerakan feminisme, yang mencoba untuk menghilangkan dominasi laki-laki yang telah meresap dalam berbagai aspek kehidupan sosial dan individu.

Kedua, hal yang mempengaruhi adalah bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batu bara dan gas. Bahan bakar fosil ini menjadi sumber energi utama dalam industri modern. Dengan bahan bakar fosil ini, kebudayaan modern juga ikut berkembang. Konsekwensi yang nyata adalah habisnya bahan bakar ini, yang diperkirakan sekitar tahun 2000-2300, akan sangat mempengaruhi kebudayaan manusia secara global. Habisnya bahan bakar fosil membawa kekhawatiran tersendiri. Berbagai teknologi alternativ dikembangkan untuk mencari energi pengganti minyak bumi. Capra melihat bahwa saat ini adalah transisi dari zaman bahan bakar fosil ke zaman energi surya, yang akan mengakibatkan perubahan radikal dalam bidang ekonomi dan politik.

Transisi yang ketiga, adalah perubahan nilai-nilai budaya. Transisi budaya ini tidak lain menurut Capra adalah perubahan paradigma. Capra menjelaskan, bahwa paradigma yang mempengaruhi pemikiran, persepsi, nilai-nilai yang membentuk realitas (red: kenyataan). Paradigma yang telah mempengaruhi seluruh dunia ini adalah paradigma Barat modern, diantaranya adalah Revolusi Ilmiah, Abad Pencerahan dan Revolusi industri. Capra mengungkapkan:

“Nilai-nilai ini meliputi kepercayaan bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya pendekatan yang sahih terhadap pengetahuan; pandangan bahwa alam semesta merupakan suatu sistem mekanis yang terdiri dari balok-balok bangunan materi pokok; pandangan bahwa kehidupan dalam masyarakat merupakan perjuangan persaingan untuk bereksistensi dan kepercayaan pada pertumbuhan yang tak terbatas. (Capra, 2004:15)”

Akan tetapi paradigma Barat Modern selama ini, mulai dipertanyakan kembali. Hal ini terjadi karena paradigma Barat modern dituding sebagai biangkerok segala krisis ekologi (sosial dan lingkungan hidup) yang terjadi selama ini. Sebuah paradigma baru pun muncul menjawab permasalahan yang ditimbulkan oleh paradigma Barat Modern. Yakni sebuah paradigma yang didasarkan atas suatu pandangan dunia yang Holistik (menyeluruh) atau lebih tepatnya ekologis. Sebuah pandangan yang menekankan pada keseluruhan ketimbang suatu yang terpisah-pisah. (Capra, 2002:16)

Ketiga poin “transisi” ini yang berarti perubahan, membawa konsekwensi-konsekwensi bagi peradaban manusia. Hal inilah yang dinamakan oleh Capra sebagai The Turning Point, atau titik balik peradaban

Sumber:

  • Fritjof Capra, Titik Balik Peradaban tahun 2004, Bentang, Jogjakarta
  • Fritjof Capra, Jaring Jaring Kehidupan: Visi Baru Epistemologi dan Kehidupan, Fajar Pustaka, 2002 Jogjakarta

artikel pernah dimuat di newsletter jahe edisi IV, Pemanasan Global.

togin

penulis akrab disapa togin, masih menjadi anggota mapajara Panta Rhei Filsafat UGM. sekarang beraktivitas disebuah perkumpulan yang bernama KLENTHING (Kelompok Pecinta Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan)